faktakalbar

Oktober Puncaknya, Pontianak Catat 100 Kasus DBD: Waspada Fase Kritis di Hari Ketiga!

Penulis: Redaksi Wednesday, 03 December 2025 📖 1 menit
Oktober Puncaknya, Pontianak Catat 100 Kasus DBD: Waspada Fase Kritis di Hari Ketiga!
Faktakalbar.id, PONTIANAK - Ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Pontianak belum mereda. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pontianak mencatat, sepanjang periode Januari hingga November 2025, telah ditemukan sebanyak 100 kasus positif DBD yang menjangkiti warga, Selasa (02/12/25). Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, mengungkapkan bahwa tren kasus sempat mencapai puncaknya pada bulan Oktober lalu dengan total 23 kasus. Beruntung, grafik mulai melandai memasuki bulan November dengan laporan sembilan kasus. “Dari Januari hingga November, berdasarkan data kami terdapat seratus temuan kasus DBD. Kejadian DBD itu memang tahunan pasti ada. Tetapi sejauh ini tidak ada yang sampai meninggal dunia, namun kami tetap waspada,” tegas Saptiko. Meski angka kematian nihil, Saptiko memberikan peringatan keras agar masyarakat tidak lengah. Ia meminta warga untuk jeli mengenali gejala awal DBD yang seringkali mirip demam biasa, namun mematikan jika terlambat ditangani. Baca Juga:   Bedah Perwa Baru di Tax Forum 2025, Bapenda Pontianak Ajak 120 Pengusaha Tertib Pajak Gejala yang patut diwaspadai meliputi demam tinggi mendadak, kepala pusing hebat, nyeri otot dan sendi, serta mual muntah yang berlangsung selama tiga hari. Tanda bahaya (warning sign) muncul jika ditemukan bintik merah di kulit pada hari-hari berikutnya. Saptiko secara khusus menyoroti bahaya "Fase Kritis" yang sering mengecoh. Fase ini biasanya terjadi pada hari ketiga hingga ketujuh demam. “Fase kritis itu ada di tiga sampai tujuh hari. Demam mulai turun seolah-olah sembuh, tetapi kondisi sebenarnya bisa memburuk karena terjadi kebocoran plasma darah yang berisiko syok,” jelasnya. Baca Juga:   Alarm TBC di Sambas: 1.263 Kasus Terdata, Kadinkes Akui Penemuan Masih Rendah Kondisi cuaca Pontianak yang pancaroba panas terik berganti hujan deras dalam sehari—menjadi faktor risiko tinggi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti . Genangan air hujan di tempat-tempat tersembunyi bisa menjadi sarang nyamuk yang mematikan. Dinkes Pontianak mengajak seluruh elemen masyarakat, baik di lingkungan rumah maupun sekolah, untuk kembali menggiatkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sebagai langkah pencegahan paling efektif. (ra)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK