4 Kritikan Menohok untuk Pemerintah dalam Lagu Nirlaba Lomba Sihir
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Grup musik pop elektrik asal Jakarta,
Lomba Sihir
, dikenal dengan lirik-liriknya yang lugas dan sangat
relatable
dengan dinamika kehidupan anak muda masa kini.
Di balik irama nadanya yang
upbeat
dan
catchy
, band yang digawangi oleh Baskara Putra, Natasha Udu, Rayhan Noor, Enrico Octaviano, dan Tristan Juliano ini sering kali menyelipkan pesan sosial yang mendalam.
Salah satu karya mereka yang paling vokal menyuarakan keresahan adalah lagu berjudul "Nirrrlaba" atau Nirlaba.
Lagu ini bukan sekadar rentetan lirik kosong, melainkan bentuk protes musikal.
Baca Juga:
Syahdu Menerawang: 5 Lagu Lomba Sihir yang Sempurna untuk Hujan Sore
Di dalamnya tersirat rasa frustrasi kaum muda terhadap kondisi birokrasi, politik, dan ekonomi negara.
Berikut adalah 4 kritikan tajam untuk pemerintah Indonesia dan negara yang tersembunyi dalam lirik lagu "
Nirlaba" dari Lomba Sihir
:
1. Pemutarbalikan Fakta dan Sejarah
Melalui penggalan lirik "Bakar dan lempar dan putarbalikkan sejarahku asal tunjuk as* hilang," Lomba Sihir melontarkan kritik keras terhadap kebiasaan para pemangku kekuasaan yang kerap memanipulasi kebenaran.
Penguasa sering kali dinilai menutupi borok atau kesalahan struktural dengan mengaburkan sejarah.
Fakta dengan mudah dipelintir sedemikian rupa demi mengamankan
status quo
, sementara masyarakat dituntut untuk menelan narasi tersebut bulat-bulat tanpa boleh banyak bertanya.
2. Pemaksaan Standar Moral Berkedok "Ketimuran"
Lirik "Pakaian, watak dan perbuatan, yang kurang menyenangkan, yang kurang ketimuran" menyindir keras standar ganda dan konservatisme yang sering dipaksakan oleh negara.
Aparat dan instansi sering kali terlalu sibuk mengurusi urusan privat warganya, seperti cara berpakaian atau kebebasan berekspresi, dengan dalih melanggar norma budaya ketimuran.
Ironisnya, di saat yang bersamaan, dalih moralitas tersebut kerap menutupi isu-isu krusial yang menyangkut hajat hidup dan kesejahteraan orang banyak.
3. Menjadikan Generasi Muda Sebagai Kambing Hitam
Kritikan paling menonjol dalam lagu ini adalah bagaimana anak muda sering kali dijadikan pihak yang disalahkan atas carut-marutnya sistem negara.
Lirik repetitif yang berbunyi "Salah kami lagi" merepresentasikan kelelahan mental generasi
millennial
dan
Gen Z
.
Ketika stabilitas ekonomi berantakan atau terjadi disrupsi, pemuda sering dicap tidak kompeten, nirguna (tidak berguna), atau sekadar menjadi korban dari
internet economy
.
Penguasa seolah cuci tangan dan dengan mudahnya menimpakan beban kesalahan pada generasi penerus.
4. Stigmatisasi dan Pembungkaman Suara Kritis
Lomba Sihir juga menyoroti cara kotor dalam membungkam kritik melalui lirik "PKI radikalisasi".
Ini adalah potret nyata di mana oknum atau kelompok tertentu sering memberikan stigma negatif kepada siapa pun yang berani berseberangan pendapat dengan pemerintah.
Label "radikal" atau tuduhan tak berdasar lainnya sering digunakan sebagai senjata ampuh untuk mematikan karakter masyarakat sipil yang bersuara kritis, membuat ruang kebebasan berpendapat terasa semakin menyempit.
Musik memang selalu menjadi medium yang efektif untuk merekam jejak zaman.
Lewat lagu "Nirlaba", Lomba Sihir membuktikan bahwa anak muda tidak buta huruf secara politik; mereka mengamati, peduli, dan berani melawan kelindan kekuasaan melalui karya yang elegan.
Baca Juga:
Sering Merasa Sensitif atau Cengeng di Sore Hari? Ini 5 Penyebab Umumnya
(Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.