faktakalbar

5 Cara Ampuh Berhenti FOMO Agar Hidup Lebih Tenang dan Bahagia

Penulis: Redaksi Friday, 13 February 2026 📖 3 menit
5 Cara Ampuh Berhenti FOMO Agar Hidup Lebih Tenang dan Bahagia
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Pernahkah Anda merasa cemas atau gelisah saat melihat unggahan teman yang sedang berlibur atau mencoba tren terbaru? Perasaan takut tertinggal ini sering dikenal dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO. Di era digital yang serba cepat, perasaan ini sangat wajar dialami oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang. FOMO bukan sekadar rasa iri, melainkan kecemasan bahwa orang lain sedang mengalami hal-hal hebat sementara kita tidak. Baca Juga:  Ingin Slow Living Tapi Berprofesi Sebagai Jurnalis? Simak Realita Pahit dan Peluangnya Jika dibiarkan, hal ini bisa menguras energi dan kebahagiaan kita. Kabar baiknya, ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan untuk kembali fokus pada diri sendiri. Berikut adalah 5 hal yang dapat Anda lakukan agar berhenti dari rasa FOMO: 1. Batasi Waktu Penggunaan Media Sosial Media sosial adalah pemicu utama FOMO karena kita terus-menerus melihat update atau cuplikan terbaik dari hidup orang lain. Mengatur batasan screen time setiap hari akan membantu mengurangi paparan terhadap informasi yang tidak terlalu penting bagi hidup Anda. Cobalah untuk menjauhkan gadget setidaknya satu jam sebelum tidur atau saat baru bangun pagi. Fokuslah pada dunia nyata di sekitar Anda daripada terus melakukan scrolling tanpa henti pada feed yang tidak ada habisnya. 2. Ubah FOMO Menjadi JOMO Langkah selanjutnya adalah merangkul konsep Joy of Missing Out atau JOMO . Alih-alih merasa sedih karena tertinggal sebuah acara atau tren, cobalah untuk merasa bahagia karena Anda memiliki waktu luang untuk diri sendiri. JOMO mengajarkan kita untuk menikmati pilihan yang telah kita buat, seperti membaca buku di rumah, memasak, atau sekadar beristirahat tanpa merasa bersalah. Menikmati waktu sendiri adalah bentuk penghargaan tertinggi bagi ketenangan pikiran Anda. 3. Praktikkan Rasa Syukur ( Gratitude ) FOMO membuat kita fokus pada apa yang tidak kita miliki. Untuk melawannya, kita harus secara sadar mengalihkan fokus pada apa yang sudah kita miliki. Setiap hari, cobalah tuliskan tiga hal kecil yang membuat Anda merasa bersyukur. Dengan menghargai hal-hal kecil seperti secangkir kopi yang enak atau udara pagi yang segar, otak kita akan terlatih untuk merasa cukup. Rasa cukup adalah "obat" paling mujarab untuk menghilangkan rasa iri terhadap pencapaian orang lain yang tampak di layar ponsel. 4. Berlatih Hidup di Momen Saat Ini ( Mindfulness ) Banyak dari kita yang hadir secara fisik di suatu tempat, tetapi pikiran kita sibuk memikirkan tempat lain atau kejadian lain yang sedang viral. Mindfulness adalah teknik untuk tetap sadar dan hadir sepenuhnya pada apa yang sedang dikerjakan sekarang. Saat sedang makan, nikmatilah setiap suapannya. Saat sedang berbicara dengan teman, dengarkanlah dengan sepenuh hati tanpa keinginan untuk memeriksa ponsel. Kehadiran penuh ini akan membuat pengalaman hidup Anda terasa lebih kaya dan bermakna. 5. Prioritaskan Koneksi Nyata daripada Koneksi Digital Terkadang, rasa FOMO muncul karena kita merasa kesepian. Namun, menghabiskan waktu di media sosial sering kali hanya memberikan koneksi semu. Cobalah untuk membangun hubungan yang lebih mendalam di dunia nyata. Buatlah janji bertemu dengan sahabat lama atau habiskan waktu berkualitas bersama keluarga tanpa gangguan perangkat elektronik. Interaksi langsung, tatap muka, dan percakapan jujur memberikan kepuasan emosional yang jauh lebih besar daripada sekadar memberikan like pada unggahan orang lain. 6. Mengambil Kendali Atas Kebahagiaan Anda Berhenti dari kebiasaan FOMO bukan berarti Anda harus menutup diri dari dunia luar. Ini adalah tentang mengambil kendali atas perhatian dan kebahagiaan Anda sendiri. Ingatlah bahwa apa yang ditampilkan orang lain di internet sering kali hanyalah "panggung depan" yang sudah dikurasi sedemikian rupa, bukan realitas hidup mereka seutuhnya. Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, Anda akan mulai menyadari bahwa hidup yang tenang dan autentik jauh lebih berharga daripada sekadar mengikuti tren yang terus berganti. Baca Juga:  Lelah dengan Hustle Culture, Ini 5 Alasan Logis Gen Z Beralih ke Slow Living (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK