5 Fakta Borneo Shinbun, Koran Propaganda Jepang di Kalimantan Barat
Faktakalbar.id, LIFESTYLE –
Membahas sejarah pers di Kalimantan Barat tidak akan lengkap tanpa menengok masa kelam pendudukan Jepang (1942–1945).
Pada masa itu, kebebasan informasi dibungkam total, dan satu-satunya suara yang boleh terdengar adalah suara pemerintah militer Jepang.
Di tengah situasi tersebut, muncullah surat kabar bernama
Borneo Shinbun
.
Koran ini bukan sekadar media penyampai berita, melainkan alat politik yang sangat kuat untuk mengendalikan pola pikir masyarakat Kalimantan.
Baca Juga:
5 Fakta Republik Lanfang, “Negara” Demokratis Pertama di Kalimantan Barat
Berikut adalah 5 fakta menarik tentang keberadaan
Borneo Shinbun
yang menjadi saksi bisu sejarah di Bumi Khatulistiwa.
1. Menggantikan Pers Belanda dan Tionghoa
Sebelum kedatangan Jepang, Pontianak memiliki kehidupan pers yang cukup dinamis dengan adanya surat kabar berbahasa Belanda dan Tionghoa.
Namun, setelah Jepang mendarat dan menguasai Kalimantan Barat, semua media tersebut dibredel dan dilarang terbit.
Fasilitas percetakan yang disita dari pemilik sebelumnya kemudian diambil alih oleh
Borneo Simboen Sya
(perusahaan penerbit bentukan Jepang) untuk mencetak
Borneo Shinbun
.
Ini menjadikan mereka pemegang monopoli informasi tunggal di wilayah tersebut.
2. Terbit dalam Dua Edisi Wilayah
Mengingat luasnya pulau Kalimantan (Borneo), pemerintah pendudukan Angkatan Laut Jepang (
Kaigun
) yang menguasai wilayah ini membagi penerbitan
Borneo Shinbun
menjadi dua pusat utama.
Pertama adalah edisi Banjarmasin untuk wilayah Kalimantan Selatan dan Timur, serta edisi Pontianak untuk wilayah Kalimantan Barat.
Meskipun namanya sama, konten lokal yang disajikan disesuaikan dengan kondisi
demografi
dan kebutuhan logistik militer di masing-masing daerah.
3. Alat Utama Propaganda "Asia Timur Raya"
Tujuan utama koran ini bukanlah jurnalisme yang objektif, melainkan
propaganda
.
Setiap halaman dipenuhi dengan semboyan-semboyan "Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya" dan glorifikasi kekuatan militer Jepang.
Berita kekalahan Jepang di Pasifik sering kali ditutupi atau diperhalus bahasanya. Sebaliknya, setiap keberhasilan kecil tentara Jepang dibesar-besarkan untuk menjaga moral penduduk agar tetap patuh dan mau membantu upaya perang Jepang (
Romusha
).
4. Sarana "Nipponisasi" Masyarakat
Borneo Shinbun
juga berfungsi sebagai media pendidikan massal untuk menanamkan budaya Jepang.
Di dalam koran ini sering dimuat pelajaran bahasa Jepang sederhana (
Nippon-go
), pengenalan huruf Katakana, serta ajakan untuk melakukan
Seikerei
(membungkuk ke arah matahari terbit/Istana Kaisar).
Hal ini dilakukan untuk menghapus pengaruh budaya Barat (Belanda) yang sudah lama melekat dan menggantikannya dengan nilai-nilai kesetiaan ala Jepang (
Bushido
).
5. Arsip Sejarah yang Langka
Hari ini, eksemplar asli
Borneo Shinbun
edisi Pontianak menjadi barang yang sangat langka dan berharga bagi para sejarawan.
Koran ini menjadi bukti fisik bagaimana kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Kalbar diatur secara ketat di bawah telunjuk militer asing.
Isi beritanya, meskipun penuh propaganda, tetap memberikan petunjuk tersirat mengenai kondisi kelaparan, kerja paksa, dan situasi mencekam yang melanda Kalimantan Barat sebelum akhirnya Jepang menyerah pada Sekutu di tahun 1945.
Mengenang
Borneo Shinbun
adalah pengingat betapa mahalnya nilai kebebasan pers yang kita nikmati hari ini. Sejarah mencatat, ketika informasi dikendalikan oleh satu tangan kekuasaan, kebenaran sering kali menjadi korban pertama.
Baca Juga:
5 Film Tentang Penguin Terbaik Sepanjang Masa: Dari yang Kocak hingga Mengharukan
(Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.