5 Penyebab Bencana Sumatera, Bukan Sekadar Hujan Ekstrem
Faktakalbar.id, SUMATERA -
Penyebab b
anjir besar dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera bukan hanya akibat hujan ekstrem. Bencana ini merupakan akumulasi dari kerusakan ekologis yang terjadi selama bertahun-tahun.
Dengan kata lain, penyebab peristiwa itu bukan semata-mata bencana alam, melainkan hasil dari kombinasi cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan yang tidak terkendali.
Berikut penyebab utama yang membuat Sumatera semakin rentan diterjang bencana.
Kerusakan Hutan di
Kawasan Hulu
Pembukaan lahan untuk tambang, perkebunan sawit, hingga hutan tanaman industri membuat kawasan resapan air menghilang. Tanah yang dulu mampu menyerap air kini berubah menjadi lahan terbuka dan permukaan keras.
Akibatnya, hujan deras sedikit saja sudah mampu memicu luapan sungai dan banjir bandang karena air tidak lagi tertahan di hulu.
Baca Juga:
Kelapa Sawit Tidak Dapat Menggantikan Hutan: Dampak Deforestasi pada Daur Air dan Banjir Sumatera
Konversi
Lahan Gambut
Sumatera memiliki hamparan gambut yang vital, seperti
Rawa Singkil
, Kampar, hingga gambut Jambi. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini banyak dikeringkan untuk perkebunan dan ekspansi industri.
Ketika gambut kering, maka daya serap hilang, tanah cepat rusak, dan air hujan mengalir langsung ke pemukiman.
Aktivitas Tambang dan Proyek Infrastruktur di Daerah Tangkapan Air
Sejumlah proyek besar berada di daerah sensitif, mulai dari tambang emas di Tapanuli, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Batang Toru, hingga penambangan batu di area lereng curam. Pembukaan bukit, pembangunan jalan tambang, dan penggalian tanah mengubah aliran air alami.
Saat hujan ekstrem turun, air tidak lagi mengikuti jalur alaminya. Limpahan air menjadi lebih deras dan cepat, memicu banjir besar maupun longsor.
Tata Ruang yang Tidak Berbasis Risiko
Banyak permukiman di Sumatera dibangun di bantaran sungai, pusat sedimentasi, dan bekas rawa.
Penataan ruang sering kali tidak mempertimbangkan peta risiko bencana. Akibatnya, ketika curah hujan tinggi, daerah-daerah ini langsung menjadi titik banjir berat.
Masalah ini diperparah oleh minimnya ruang terbuka hijau dan sistem drainase yang tidak memadai.
Baca Juga:
Lirik .Feast Jadi Nyata? 5 Refleksi Pahit ‘Tarian Penghancur Raya’ di Balik Bencana Sumatera Utara
Hujan Ekstrem yang Meningkat Akibat Perubahan Iklim
Perubahan iklim memperparah situasi. Curah hujan di Sumatera dalam beberapa tahun terakhir meningkat secara signifikan. Fenomena cuaca membuat hujan turun lebih intens dan dalam durasi lebih lama.
Tanpa lingkungan yang sehat, hujan ekstrem menjadi pemicu cepat terjadinya banjir dan longsor.
Banjir di Sumatera bukanlah kejadian tunggal yang acak. Hujan hanyalah pemicu. Akar masalahnya adalah tata kelola lingkungan yang lemah.
Tanpa evaluasi serius terhadap izin usaha, perlindungan kawasan hulu, dan pengetatan pengawasan, bencana seperti ini akan terus berulang.
(*Sari)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.