63 Pahlawan Kemanusiaan Terima Penghargaan dari PMI Pontianak
Faktakalbar.id, PONTIANAK
– Sebanyak 63 pahlawan kemanusiaan yang telah mendonorkan darahnya lebih dari 100 kali menerima penghargaan pin emas dari
Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pontianak
.
Baca Juga:
Tatap Tiga Kejuaraan Bergengsi, Atlet Junior dan Senior PASI Kota Pontianak Geber Latihan Intensif
Penghargaan tersebut diserahkan langsung sebagai tanda penghormatan atas dedikasi nyata mereka dalam menyelamatkan nyawa sesama pada acara Penyerahan Penghargaan dan Halalbihalal PMI Kota Pontianak di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Senin (13/4/2026).
Wali Kota Pontianak yang juga Ketua PMI Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyebut para pendonor tersebut sebagai pahlawan kemanusiaan sesungguhnya.
Ia menilai dedikasi mempertahankan gaya hidup sehat selama 25 hingga 30 tahun demi bisa berdonor 100 kali adalah hal yang luar biasa.
"Secara akumulatif, seorang pendonor 100 kali telah menyumbang sekitar 30 liter darah. Diperkirakan telah menolong dan menyelamatkan 100 hingga 200 jiwa,"
katanya.
Edi memaparkan, kebutuhan darah di Kota Pontianak saat ini masih tergolong tinggi, yakni rata-rata 100 hingga 150 kantong per hari.
Sementara itu, ketersediaan rutin yang dapat dipenuhi baru berkisar antara 70 sampai 100 kantong per hari.
Pada tahun 2025, jumlah pendonor di Kota Pontianak mencapai 21.644 orang, dengan 86,3 persen di antaranya merupakan pendonor sukarela dan 13,6 persen pendonor pengganti.
"Kekurangan stok darah selama ini diatasi dengan menghubungi para pendonor yang datanya sudah dimiliki PMI, termasuk sukarelawan maupun keluarga pasien yang sedang membutuhkan darah dalam kondisi mendesak,"
sebutnya.
Baca Juga:
Polisi Bongkar Penyelundupan Jaringan Sabu Asal Pontianak di Tayan Hulu
Ia mengakui PMI Kota Pontianak masih memiliki berbagai keterbatasan sarana, prasarana, dan administrasi. Salah satu hal mendesak yang tengah diupayakan adalah penyediaan lahan untuk pembangunan laboratorium tersendiri guna memenuhi standar akreditasi dari pemerintah pusat.
“Nah ini sedang kita usahakan ke depan untuk kita bangun laboratorium tersendiri,”
jelasnya.
Edi menambahkan, penghargaan berupa pin emas ini menjadi simbol ucapan terima kasih dari warga yang pernah tertolong oleh darah yang didonorkan.
“Pin emas ini membuktikan bahwa saya mewakili warga yang telah mendapatkan darah dari Bapak-Ibu selama ini, yang telah terselamatkan. Mudah-mudahan ini menjadi amal jariah yang terus mengalir sepanjang masa,”
ungkapnya.
Salah seorang penerima penghargaan yang juga anggota DPRD Provinsi Kalbar, Zulfydar Zaidar, membagikan kisah awal mulanya berdonor.
Ia mulai rutin mendonorkan darah sejak menjadi mahasiswa di Jakarta pada tahun 1990-an ketika seorang seniornya membutuhkan bantuan darah untuk istrinya yang sedang sakit.
“Kalau saya boleh cerita, saya mulai donor karena ada orang yang membutuhkan donor,”
ujarnya.
Zulfydar menceritakan, meski awalnya diwarnai rasa takut dan hidup dalam keterbatasan ekonomi sebagai mahasiswa perantauan, ia menyadari bahwa membantu sesama tidak selalu harus dengan materi.
Baginya, donor darah adalah amal yang pahalanya terus mengalir karena darah tersebut menjadi bagian dari kehidupan orang lain yang sedang diperjuangkan.
“Kalau kita bicara amal jariyah, ini mengalir terus, tidak putus-putusnya. Membantu orang tidak putus-putusnya,”
ucap Zulfydar.
(FR)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.