faktakalbar

Ahli Ingatkan Pentingnya Mitigasi di Kalimantan Buntut Peristiwa Gempa di Sintang

Penulis: Redaksi Wednesday, 18 March 2026 📖 3 menit
Ahli Ingatkan Pentingnya Mitigasi di Kalimantan Buntut Peristiwa Gempa di Sintang
Faktakalbar.id, SINTANG – Peristiwa gempa di Sintang dengan magnitudo 5,0 yang mengguncang wilayah Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat pada Jumat (13/3/2026) pukul 03:04:04 WIB lalu, mematahkan mitos bahwa Pulau Kalimantan sepenuhnya bebas dari ancaman kegempaan. Guncangan tektonik kerak dangkal tersebut dirasakan cukup kuat hingga ke wilayah Sanggau Katingan, Melawi, serta beberapa daerah lain di Kalimantan Tengah. Baca Juga: Gempa Tektonik M 5,3 Guncang Sintang Dini Hari, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami Anggota Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN), Daryono, menegaskan bahwa rentetan gempa di Sintang memperpanjang catatan aktivitas seismik di Kalimantan. Sebelumnya, gempa tercatat pernah mengguncang wilayah ini pada 23 Januari 2026 (M4,8), 22 Februari 2020 (M3,0), dan 27 Maret 2019 (M3,1). "Selama ini Kalimantan sering dipersepsikan sebagai wilayah yang hampir bebas gempa. Dibandingkan kawasan lain di Indonesia seperti Sumatra, Jawa, dan Sulawesi yang berada di sekitar zona subduksi/ megathrust aktif, aktivitas kegempaan di Kalimantan memang jauh lebih rendah. Namun demikian, rendahnya frekuensi gempa tidak berarti wilayah ini sepenuhnya steril dari aktivitas tektonik," kata Daryono seperti dilansir CNBC, Senin (16/3/2026). Menurut Daryono, pesatnya pembangunan infrastruktur di Kalimantan menuntut adanya mitigasi bencana yang serius. "Walaupun probabilitas gempa besar kecil, prinsip kehati-hatian tetap diperlukan karena gempa kerak dangkal dapat menimbulkan dampak signifikan jika terjadi di dekat kawasan permukiman atau fasilitas vital. Infrastruktur modern, kawasan industri, hingga kota-kota yang berkembang di Kalimantan tetap memerlukan pendekatan mitigasi berbasis risiko," tegas Daryono. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa gempa lokal di Kalimantan Barat diduga kuat bersumber dari Sesar Adang. "Sesar Adang merupakan struktur patahan regional yang memanjang di Pulau Kalimantan dari pesisir timur hingga ke bagian barat laut pulau. Terusan Sesar Adang ada di daerah Lupar yang merupakan perbatasan antara Kalimantan Barat dan Sarawak di dekat kota Kuching," jelas Daryono. "Status umur Sesar Adang secara umum diinterpretasikan sebagai sesar tua yang berkembang sejak Tersier, bukan sesar Kuarter yang sangat aktif seperti banyak sesar di Jawa atau Sumatra," tambahnya. Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) ini menerangkan bahwa jalur patahan tersebut membentang dari Teluk Adang di Kalimantan Timur, menembus pedalaman hingga ke perbatasan negara. "Dari sana jalurnya diperkirakan menerus ke pedalaman pulau menuju wilayah Sintang, Sekadau, hingga Sanggau. Patahan ini kemudian diperkirakan berlanjut menuju kawasan perbatasan di sekitar Entikong dan tersambung dengan sistem struktur geologi di wilayah Kuching, Sarawak," ucapnya. Terkait sifat guncangannya, Daryono menyebut gempa dari sesar lokal memiliki karakteristik yang berbeda dengan gempa di zona subduksi. "Magnitudonya cenderung lebih kecil, tetapi kedalamannya dangkal sehingga potensi guncangan lokal bisa relatif signifikan. Seperti gempa Jumat (13/3/2026) hingga menyebabkan warga terbangun dan lari berhamburan keluar rumah. Dalam konteks ini, ancaman gempa di Kalimantan lebih bersifat lokal dan sporadis, bukan gempa besar yang sering terjadi seperti di wilayah barat Indonesia," paparnya. Daryono menekankan, meski tak seaktif sesar di Sumatra atau Jawa, Sesar Adang tetap memicu gempa-gempa bermagnitudo kecil hingga sedang. "Beberapa gempa lokal yang tercatat di wilayah Kalimantan Barat, khususnya di sekitar Sintang dan Sekadau, sering dikaitkan dengan aktivitas sesar ini. Gempa-gempa tersebut umumnya memiliki magnitudo kecil hingga sedang, namun karena berasal dari sumber yang dangkal di kerak bumi, sebagai gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) getarannya dapat terasa cukup kuat di wilayah sekitar episenter," ucapnya. "Dengan demikian, Sesar Adang menjadi pengingat bahwa stabilitas tektonik Kalimantan bersifat relatif, bukan absolut. Aktivitas gempanya memang jarang dan umumnya kecil, tetapi keberadaannya tetap menandakan bahwa proses dinamika bumi masih berlangsung di bawah pulau yang selama ini dianggap paling stabil di Indonesia. Kesadaran terhadap potensi gempa lokal ini menjadi bagian penting dalam membangun Kalimantan yang aman dan tangguh terhadap bencana," tegas Daryono. Menutup penjelasannya, Daryono menuturkan bahwa stabilitas Kalimantan dipengaruhi posisinya di bagian interior Paparan Sunda. "Berbeda dengan Sumatra dan Jawa yang dipengaruhi langsung oleh interaksi antara tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, Kalimantan berada di wilayah kerak yang relatif stabil. Akibatnya, deformasi tektonik yang terjadi lebih lemah dan jarang memicu gempa besar," terangnya. "Namun demikian, struktur patahan lama seperti Sesar Adang tetap dapat mengalami reaktivasi akibat tegasan regional yang bekerja di kerak bumi," kata Daryono. Baca Juga: Guncangan Sesar Adang di Sintang, Gempa Tektonik M3,2 Terjadi di Kedalaman Dangkal (*Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK