faktakalbar

Air Mata Laut yang Tak Pernah Kering

Penulis: Redaksi Sunday, 15 February 2026 📖 3 menit
Air Mata Laut yang Tak Pernah Kering
OPINI - Based on true story . Kisah Fandi, anak Sumut yang baru kerja tiga hari, dijebak dengan dua ton narkoboy. Hukuman mati menantinya. Saya buatkan kisahnya dalam bentuk cerpen. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Di Belawan, di tepi laut yang asin dan getir, lahirlah seorang bayi lelaki pada suatu malam ketika hujan menetes dari atap bocor seperti air mata langit. Bayi itu diberi nama Fandi Ramadhan . Ibunya, Nirwana, memeluknya dengan tubuh gemetar. Sementara ayahnya, Sulaiman, berbisik di telinga mungil itu dengan suara penuh harap, “Jadilah pelaut hebat, Nak. Bawa kami keluar dari lumpur ini.” Baca Juga: BARAK 216 Rumah mereka tak pernah benar-benar kering. Lantai semen retak, dinding lapuk, dan bau laut yang tak pernah pergi. Fandi tumbuh dengan kaki telanjang, membantu ayahnya mengangkat karung di pelabuhan. Tangannya kecil, tapi tekadnya besar. Setiap melihat kapal besar meninggalkan dermaga, matanya berbinar seperti menemukan secercah surga di ujung cakrawala. Ia ingin menjadi juru mesin. Ia ingin pulang membawa uang. Ia ingin adik-adiknya tidur tanpa perut kosong. Tahun 2022, ia lulus dari Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh. Hari itu Nirwana menangis paling lama. Bukan hanya karena bangga, tapi karena ia tahu, laut yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan kini akan benar-benar merebut anaknya. Setiap malam Fandi memijat kaki ibunya yang lelah berjualan gorengan. “Aku mau bantu keluarga, Bu,” katanya lirih. Nirwana hanya mengangguk, menyembunyikan takut di balik senyum yang dipaksakan. April 2025, sebuah tawaran datang. Tiga hari kerja. Gaji besar. Menjaga mesin kapal bernama KM Sea Dragon. Tiga hari, hanya tiga hari. Bagi keluarga miskin, tiga hari bisa berarti sebulan makan. Fandi memeluk ibunya lama sekali sebelum berangkat. “Aku pulang cepat, Bu.” Nirwana tak sanggup menjawab. Ia hanya memeluk anaknya seperti orang yang sedang menggenggam waktu. 1 Mei 2025, Fandi berangkat ke Bangkok. Di negeri orang, ia menunggu dengan hati gelisah. 14 Mei, ia naik ke kapal lewat speedboat kecil. Air laut terasa lebih dingin dari biasanya. Ia tak tahu, tiga hari yang dijanjikan itu akan mengubah seluruh hidupnya. Di tengah laut, kardus-kardus dipindahkan dalam diam. Fandi sempat bertanya pelan. Jawaban yang ia terima hanya tatapan tajam dan perintah singkat, jangan banyak tanya. Ia memilih diam. Ia hanya ingin pulang. Baca Juga: Cinta yang Tidak Takut Ditertawakan 21 Mei 2025, di perairan Karimun dekat Batam, sirene meraung memecah langit. Kapal disergap. Hampir dua ton sabu ditemukan dalam 67 kardus. Dunia Fandi runtuh dalam satu tarikan napas. “Aku cuma kerja tiga hari…” suaranya tenggelam dalam gemuruh penangkapan. Sel di Batam terasa seperti liang yang belum sempat ditutup tanahnya. Setiap malam Fandi memeluk foto keluarganya. Ia membayangkan ibunya duduk di depan rumah, menunggu langkah kaki yang tak kunjung pulang. Ia membayangkan adik-adiknya bertanya, “Abang kapan pulang?” Februari 2026, ruang sidang Pengadilan Negeri Batam menjadi saksi kehancuran seorang ibu. Jaksa menuntut mati berdasarkan Pasal 114 ayat 2 jo 132 UU Narkotika. Kata “mati” menggema seperti palu yang memecah dada. Fandi tersungkur di kaki Nirwana. “Maafkan aku, Bu… aku tidak tahu…” Tubuhnya gemetar. Tangisnya pecah seperti anak kecil yang kehilangan jalan pulang. Nirwana memeluknya dengan jeritan yang membuat udara terasa sesak. “Jangan ambil dia… dia cuma mau bantu kami…” Sang ayah berdiri kaku, air matanya jatuh tanpa suara. Tak ada yang lebih menyakitkan bagi orang tua selain melihat anaknya dihukum atas sesuatu yang ia bersumpah tak pernah ia mengerti. Di luar, video tangis itu menyebar. Banyak yang bersimpati. Banyak yang marah. Tapi di dalam sel, Fandi tetap sendirian. Ia hanya seorang pemuda 24 tahun dengan mimpi sederhana, menyekolahkan adik, mengangkat derajat orang tua. Kini, setiap ombak yang memukul pantai Belawan seperti membawa isak yang tak pernah reda. Air mata sang ibu tak pernah benar-benar kering. Laut yang dulu menjanjikan harapan kini hanya menyisakan kehilangan. Di setiap doa yang terucap lirih di rumah kecil itu, terselip satu harapan yang rapuh: semoga keadilan masih punya hati. Baca Juga: Malam Minggu Tahlilan, Apakah Doa Sampai pada Almarhum? Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar *Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK