Aksi Gruduk DPRD Kota Pontianak Ke Pertamina Hasilkan Kekecewaan, Hanya Diladeni Seorang Staf
Pontianak
- Aksi gruduk Komisi 2 dan 3 DPRD Kota Pontianak ke kantor PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Sales Area Retail Kalimantan Barat di Jalan Letjen Sutoyo, Selasa (4/3) membuahkan kekecewaan.
Pasalnya kehadiran anggota dewan yang sudah terjadwal melalui surat resmi ke Pertamina Kalbar tersebut hanya diterima dan diladeni seorang staf bernama Mansyah.
Kehadiran anggota dewan ke Pertamina didasari keresahan warga Kota Pontianak mengenai banyaknya permasalahan carut marut tata kelola yang terjadi di tubuh Pertamina Patra Niaga.
Pihak DPRD merasa kecewa karna hanya diterima oleh Mansyah,salah satu staf Pertamina. Alasan pihak Pertamina semua manager termasuk kepala yang berwenang sedang tidak berada di Kota Pontianak
Komisi 2 dan 3 DPRD Kota Pontianak dengan tegas mempertanyakan kasus pertamax oplosan yang sedang diselidiki Kejaksaan Agung, apakah juga terjadi di wilayah Kota Pontianak, Kalbar.
Karena DPRD banyak mendengar keluhan kendaraan mobil dan motor pengguna dan pemakai pertamax mengeluhkan kualitas pertamax yang buruk dan diedarkan Stasion pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Pontianak.
Salah satu anggota dewan dari komisi 2 Fraksi Nasdem Berdi,S.sos mempertanyakan dengan keras, "harusnya Pertamina Regional Klimantan Barat sudah dapat mendeteksi apabila kualitas pertamax yang masuk buruk atau oplosan tidak sesuai dengan standar. Bahkan apabila minyak didistribusikan ke SPBU-SPBU di wilayah Kota Pontianak wajib diambil sampel terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam tangki timbun milik SPBU" tegasnya.
Berdi juga menyesalkan tata kelola Pertamina Kalimantan Barat tidak lebih baik dari Pertamina Pusat di Jakarta.
Dari pihak Pertamina yang diwakili Mansyah menjelaskan untuk hal ini mereka tidak bisa berkomentar banyak karena kasusnya sedang diselidiki oleh Kejaksaan Agung di Jakarta.
Para anggota dewan lain juga mencecar pihak Pertamina dengan berbagai pertanyaan terkait tata kelola dan pelayanan Pertamina di Kalbar, namun mereka kelihatan kecewa dengan jawaban Pertamina yang terlalu prosedural dengan data yang disajikan melalui layar proyektor, mereka menganggap tidak sesuai dengan yang terjadi di lapangan.(Dhn)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.