Anak Cak Nun dan Hotman Paris Masuk DPN, Aroma 'Privilege' di Lingkaran Pertahanan Negara?
Faktakalbar.id, NASIONAL
– Langkah Kementerian Pertahanan (Kemhan) melantik deretan nama populer sebagai tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) memantik perdebatan publik.
Sorotan tajam tertuju pada sosok Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto (putra budayawan Cak Nun) dan Frank Alexander Hutapea (putra pengacara kondang Hotman Paris) yang kini resmi duduk di kursi penasihat strategis pertahanan.
Masuknya anak-anak tokoh berpengaruh ke dalam lembaga
think tank
pertahanan yang notabene mengurusi kedaulatan dan keselamatan bangsa memunculkan tanda tanya besar soal
meritokrasi
.
Publik mempertanyakan urgensi dan
relevansi
keahlian mereka dalam isu pertahanan militer maupun nirmiliter, dibandingkan dengan para akademisi atau purnawirawan yang telah puluhan tahun menggeluti studi strategis.
Baca Juga:
Ikuti Ratas via Vicon, Menhan Sjafrie Bahas Progres Satgas Penertiban Kawasan Hutan
Kementerian Pertahanan melalui Kepala Biro Humas Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, buru-buru menepis spekulasi miring tersebut.
Ia menegaskan bahwa rekrutmen ini murni profesional dan tidak ada kaitannya dengan nama besar orang tua mereka.
"Tidak dikaitkan dengan latar belakang keluarga maupun faktor non-institusional lainnya," klaim Rico, Minggu (18/1/2026).
Pemerintah berdalih, Noe Letto dibutuhkan untuk perspektif sosial-budaya dan komunikasi strategis, sementara Frank Hutapea untuk aspek hukum.
DPN sendiri, sesuai Perpres Nomor 202 Tahun 2024, memiliki tugas berat memberikan rekomendasi langsung kepada Presiden terkait isu geostrategi, geopolitik, dan geoekonomi.
Namun, narasi "kebutuhan organisasi" ini dinilai belum cukup menjawab keraguan publik.
Penunjukan ini dikhawatirkan hanya menjadi upaya akomodasi politik untuk merangkul basis massa dari tokoh-tokoh besar di belakang para tenaga ahli tersebut, ketimbang pemenuhan kebutuhan teknis pertahanan yang substansial.
Di tengah situasi geopolitik global yang memanas, DPN seharusnya menjadi benteng intelektual yang steril dari kepentingan populis.
Masyarakat kini menanti pembuktian nyata: apakah para "anak sultan" ini mampu melahirkan doktrin pertahanan yang tangguh, atau sekadar menjadi pemanis di struktur pemerintahan baru.
Baca Juga:
Tinjau Lanud Iswahjudi, Wamenhan Pastikan Kesiapan Pertahanan Udara Nasional
(Mira)
Tag:
#Kementerian Pertahanan
#Politik Dinasti
#dewan pertahanan nasional
#noe letto
#frank hutapea
#nepotisme
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.