Apa Itu Ambivert? Simak Ciri dan Fakta Keunggulannya
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Pernahkah Anda merasa bingung saat mengikuti tes kepribadian? Di satu sisi, Anda menikmati keramaian pesta, tetapi di sisi lain, Anda sangat mendambakan kesendirian di akhir pekan. Jika Anda merasa tidak sepenuhnya cocok dengan label introvert maupun ekstrovert, kemungkinan besar Anda adalah seorang ambivert.
Selama ini, masyarakat cenderung melihat kepribadian secara hitam-putih. Padahal, mayoritas manusia justru berada di zona abu-abu ini. Memahami apa itu ambivert bukan hanya soal identitas, tetapi juga mengenali potensi karir dan hubungan yang paling optimal bagi tipe kepribadian ini.
Ambivert: Sang Penyeimbang yang Fleksibel
Istilah Ambivert pertama kali dicetuskan oleh psikolog Amerika,
Edmund S. Conklin
, pada tahun 1923. Ia mendefinisikan ambivert sebagai individu yang tidak masuk dalam kategori ekstrem introvert maupun ekstrovert. Conklin menyebut mereka sebagai tipe yang paling "sehat" secara mental karena memiliki fleksibilitas tinggi.
Berbeda dengan introvert yang peka terhadap stimulasi atau ekstrovert yang haus stimulasi, ambivert berada di titik keseimbangan. Otak mereka tidak cepat lelah oleh keramaian, tetapi juga tidak mudah bosan oleh kesepian. Mereka bisa menyesuaikan baterai sosial mereka sesuai tuntutan situasi.
Baca Juga:
5 Cara Ampuh Introvert Mengembalikan Energi
Keunggulan Ambivert
Apakah menjadi penengah itu membosankan? Justru sebaliknya.
Adam Grant
, seorang Profesor Psikologi Organisasi ternama dari Wharton School, University of Pennsylvania, mematahkan mitos bahwa ekstrovert adalah tipe tersukses dalam karir.
Dalam studinya yang dipublikasikan di jurnal
Psychological Science
, Grant meneliti produktivitas ratusan tenaga penjualan (
salespeople
). Hasilnya mengejutkan:
Bukan Ekstrovert yang Juara
Data Grant menunjukkan bahwa ekstrovert memang pandai bergaul, tetapi sering kali kurang mendengarkan pelanggan. Sebaliknya, introvert terlalu pasif.
Kemenangan Ambivert
Kelompok ambivert justru mencatatkan pendapatan penjualan 24% lebih tinggi dibandingkan introvert maupun ekstrovert. Grant menyimpulkan bahwa ini terjadi karena ambivert memiliki kemampuan
switching
(beralih): mereka bisa agresif saat mempresentasikan produk, namun segera berubah menjadi pendengar yang sabar saat klien mengeluh.
Ciri-Ciri Utama Seorang Ambivert
Psikolog klinis mengidentifikasi beberapa tanda khas yang membedakan ambivert dari dua kutub lainnya. Berikut adalah ciri-cirinya:
Bisa Menjadi Pendengar dan Pembicara Sekaligus
Seorang ambivert tidak mendominasi percakapan seperti ekstrovert ekstrem, tetapi juga tidak hanya diam menyimak seperti introvert. Mereka tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam secara intuitif.
Nyaman di Dua Dunia
Mereka bisa menikmati konser musik yang bising, namun keesokan harinya mereka bisa sangat bahagia hanya dengan membaca buku di kamar tanpa merasa kesepian.
Emosi yang Lebih Stabil
Karena berada di tengah spektrum, ambivert cenderung tidak terlalu impulsif (bertindak tanpa pikir) seperti ekstrovert, namun juga tidak terlalu
overthinking
(terlalu banyak pikir) seperti introvert. Hal ini membuat mereka sering dianggap sebagai penengah konflik yang baik.
Baca Juga:
Mitos Introvert dan Ekstrovert yang Sering Salah Kaprah
Menjadi ambivert adalah sebuah keistimewaan. Kemampuan untuk beradaptasi seperti "bunglon sosial" adalah kekuatan terbesar yang bisa warga manfaatkan untuk sukses di berbagai bidang.
(*Sari)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.