faktakalbar

Awas 'Food Coma'! Ini 4 Alasan Mengapa Sarapan Nasi Bisa Bikin Produktivitas Anjlok

Penulis: Redaksi Sunday, 23 November 2025 📖 2 menit
Awas 'Food Coma'! Ini 4 Alasan Mengapa Sarapan Nasi Bisa Bikin Produktivitas Anjlok
Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Bagi masyarakat Indonesia, ungkapan "belum kenyang kalau belum makan nasi" sudah mendarah daging. Tak heran jika menu sarapan populer seperti nasi uduk, nasi kuning, atau nasi goreng menjadi primadona di pagi hari. Namun, pernahkah Anda merasa mata sangat berat dan sulit berkonsentrasi sesaat setelah sampai di kantor atau sekolah? Fenomena ini sering disebut sebagai food coma . Meskipun nasi adalah sumber energi, mengonsumsinya dalam porsi besar di pagi hariterutama nasi putih dengan lauk yang minim serat ternyata menyimpan risiko bagi kesehatan dan produktivitas. Baca Juga:  Anti Eneg! Ini 5 Menu Sarapan Sehat yang Bikin Kenyang Lebih Lama dan Semangat Seharian Berikut adalah 4 dampak buruk atau "bahaya" tersembunyi menjadikan nasi porsi besar sebagai menu tunggal sarapan Anda: 1. Memicu Rasa Kantuk Ekstrem ( Sugar Crash ) Nasi putih memiliki Indeks Glikemik (IG) yang tinggi. Artinya, tubuh memprosesnya menjadi gula dengan sangat cepat. Hal ini menyebabkan lonjakan insulin secara mendadak untuk menyerap gula tersebut. Mekanisme ini memicu masuknya triptofan ke otak yang kemudian diubah menjadi serotonin dan melatonin hormon yang mengatur rasa kantuk. Alih-alih bertenaga, Anda justru akan merasa lemas dan ingin tidur lagi pada jam 9 atau 10 pagi. 2. Cepat Merasa Lapar Kembali Pernahkah Anda sarapan nasi goreng pukul 7 pagi, tapi pukul 10 perut sudah keroncongan? Ini adalah efek dari fluktuasi gula darah. Karena nasi putih minim serat (kulit arinya sudah hilang saat digiling), ia dicerna terlalu cepat oleh lambung. Setelah lonjakan energi singkat, gula darah akan anjlok drastis ( crash ). Otak akan membaca kondisi ini sebagai tanda "kekurangan energi" dan mengirim sinyal lapar palsu, membuat Anda tergoda untuk mencari camilan manis sebelum jam makan siang. 3. Risiko Kenaikan Berat Badan dan Diabetes Kebiasaan sarapan tinggi karbohidrat tanpa diimbangi aktivitas fisik berat adalah resep utama penumpukan lemak. Kalori dari nasi yang tidak segera dibakar akan disimpan tubuh sebagai cadangan lemak, terutama di area perut. Dalam jangka panjang, lonjakan gula darah yang terjadi setiap pagi dapat membebani kerja pankreas. Jika terus dibiarkan, kondisi ini meningkatkan risiko resistensi insulin, yang merupakan gerbang utama menuju diabetes tipe 2. 4. Menurunkan Fokus dan Konsentrasi ( Brain Fog ) Otak membutuhkan suplai glukosa yang stabil untuk bekerja optimal, bukan suplai yang naik-turun secara drastis . Ketika gula darah melonjak dan kemudian jatuh, suplai energi ke otak menjadi tidak stabil. Akibatnya, Anda mungkin mengalami brain fog atau kabut otak kondisi di mana Anda sulit berpikir jernih, sulit mengingat hal-hal kecil, dan emosi menjadi tidak stabil ( mood swing ) di pagi hari. Bukan berarti Anda harus memusuhi nasi sepenuhnya. Kuncinya ada pada porsi dan pendampingnya. Jika ingin tetap sarapan nasi, kurangilah porsinya menjadi setengah dan perbanyak asupan protein (telur, tempe, ikan) serta serat (sayuran). Dengan menyeimbangkan isi piring, Anda bisa menghindari "bahaya" di atas dan tetap produktif sepanjang hari. Baca Juga:  5 Alternatif Nasi untuk Sarapan yang Mengenyangkan dan Aman bagi Penderita Asam Lambung (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK