faktakalbar

Badai Masalah Tetap Kalem? Ini Penjelasan Psikologis Kenapa Beberapa Orang Justru Santai Saat Diterpa Ujian

Penulis: Redaksi Monday, 06 April 2026 📖 2 menit
Badai Masalah Tetap Kalem? Ini Penjelasan Psikologis Kenapa Beberapa Orang Justru Santai Saat Diterpa Ujian
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Pernahkah Anda melihat seseorang yang sedang ditimpa musibah bertubi-tubi, namun raut wajahnya tetap tenang , bahkan masih bisa bercanda seolah tidak terjadi apa-apa? Fenomena ini sering kali membuat orang di sekitarnya heran atau bahkan menganggap sosok tersebut tidak peka. Padahal, dalam kacamata psikologi, sikap santai di tengah badai masalah bukanlah tanda ketidakpedulian. Sebaliknya, hal itu merupakan bentuk pertahanan mental yang sangat tingkat tinggi. Berikut adalah alasan psikologis mengapa beberapa orang justru terlihat "asik" saat masalah datang bertubi-tubi: 1. Tingkat Resilience yang Sudah Teruji Baca Juga:  Ingin Hidup Lebih Tenang? Ini Rekomendasi Kabupaten untuk Slow Living di Kalimantan Barat Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali dari keterpurukan. Orang yang terlihat santai biasanya sudah pernah melewati berbagai "badai" di masa lalu. Pengalaman hidup yang keras membentuk mental mereka menjadi lebih tangguh. Bagi mereka, masalah baru hanyalah rintangan lain yang pasti ada jalan keluarnya, sehingga mereka tidak lagi kaget atau panik berlebihan. 2. Mekanisme Coping Humor Menggunakan humor sebagai cara menghadapi masalah adalah salah satu mekanime pertahanan diri yang paling sehat secara psikologis. Dengan membawa masalah ke arah yang lucu atau "diasikin" saja, seseorang sebenarnya sedang berusaha menurunkan kadar hormon stres di otaknya. Humor membantu mereka menjaga kewarasan agar tetap bisa berpikir logis tanpa harus tenggelam dalam kesedihan yang melumpuhkan. 3. Kemampuan Emotional Detachment Beberapa individu memiliki kemampuan untuk memisahkan diri secara emosional dari masalahnya ( emotional detachment ). Mereka melihat masalah sebagai objek luar yang harus diselesaikan, bukan sebagai bagian dari identitas diri mereka. Dengan menjaga jarak emosional, mereka bisa tetap tenang dan tidak membiarkan perasaan negatif menguasai seluruh aspek kehidupan mereka. 4. Kesadaran akan Batas Kendali ( Locus of Control ) Orang yang terlihat santai biasanya memiliki internal locus of control yang kuat. Mereka paham betul mana hal yang bisa mereka kendalikan dan mana yang tidak. Jika masalah tersebut berada di luar kendalinya (seperti takdir atau keputusan orang lain), mereka memilih untuk tidak membuang energi dengan mengeluh. Mereka lebih fokus menikmati apa yang masih bisa dinikmati saat ini. 5. Fase Acceptance yang Lebih Cepat Dalam teori lima tahap kesedihan, tahap terakhir adalah penerimaan ( acceptance ). Orang-orang dengan mental baja biasanya mampu melewati tahap penyangkalan, marah, dan tawar-menawar dengan sangat cepat. Begitu masalah datang, mereka langsung menerima kenyataan tersebut sebagai bagian dari hidup, sehingga energi mereka langsung beralih ke cara beradaptasi, bukan meratapi. Baca Juga:  Hidup Lebih Tenang dan Tangguh, Ini 5 Tips Menerapkan Paham Stoic di Era Modern (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK