faktakalbar

Badan Remuk tapi Mata Melek: Penjelasan Ilmiah Kenapa Kita Justru Susah Tidur Saat Terlalu Lelah

Penulis: Redaksi Monday, 15 December 2025 📖 2 menit
Badan Remuk tapi Mata Melek: Penjelasan Ilmiah Kenapa Kita Justru Susah Tidur Saat Terlalu Lelah
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Pernahkah Anda mengalami situasi ini: Pulang kerja larut malam, tubuh terasa remuk redam, dan mata sudah tinggal 5 watt. Logikanya, begitu kepala menyentuh bantal, Anda akan langsung terlelap. Namun kenyataannya? Anda justru berbaring dengan mata terbelalak menatap langit-langit kamar. Baca Juga:  Sulit Tidur? Ini 4 Kartun Menyenangkan yang Bisa Menemani Insomnia Anda Pikiran berputar kencang, dan kantuk yang tadi dirasakan tiba-tiba lenyap entah ke mana. Dalam dunia medis, kondisi paradoks ini disebut sebagai overtiredness atau hyperarousal . Mengapa hal ini bisa terjadi? Ternyata, ada mekanisme biologis rumit yang bekerja di belakangnya. Berikut adalah penjelasan ilmiah mengapa kelelahan ekstrem justru menjadi musuh tidur nyenyak. 1. Ledakan Hormon Stres (Kortisol dan Adrenalin) Ini adalah penyebab utamanya. Tubuh manusia memiliki batas toleransi waktu terjaga. Ketika Anda memaksakan diri untuk tetap bangun melewati jam tidur alami ( sleep window ), otak menginterpretasikan kelelahan ekstrem tersebut sebagai situasi darurat atau bahaya. Sebagai respons pertahanan diri, otak memerintahkan kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon stres, yaitu kortisol dan adrenalin. Dampaknya: Hormon ini berfungsi memberikan energi tambahan agar Anda tetap waspada. Detak jantung meningkat, suhu tubuh naik, dan otak menjadi siaga penuh. Inilah yang menyebabkan sensasi tired but wired (lelah tapi tegang). Tubuh Anda lelah, tapi sistem kimiawi Anda sedang dalam mode "tempur". 2. Kekacauan Ritme Sirkadian Tubuh kita bekerja berdasarkan jam internal yang disebut ritme sirkadian. Ritme ini mengatur kapan waktu bangun dan kapan waktu tidur melalui pelepasan hormon melatonin. Jika Anda terlalu lelah karena begadang atau jet lag, Anda "ketinggalan kereta" ritme sirkadian tersebut. Saat Anda mencoba tidur di waktu yang tidak sinkron dengan jam internal yang sudah terlanjur kacau, sistem tubuh bingung antara harus memproduksi melatonin (untuk tidur) atau mempertahankan kortisol (untuk bangun). Akibatnya, proses transisi menuju tidur menjadi sangat sulit. 3. Ketidakseimbangan Adenosin Adenosin adalah zat kimia di otak yang menumpuk sepanjang hari dan menciptakan "tekanan tidur" (rasa kantuk). Semakin lama kita bangun, semakin tinggi level adenosin. Namun, pada kondisi kelelahan ekstrem yang kronis, sistem pembersihan otak menjadi tidak efisien. Di satu sisi tekanan tidur sangat tinggi, namun di sisi lain sistem saraf simpatik (saraf yang mengatur kewaspadaan) sedang terlalu aktif. Tabrakan antara dorongan tidur yang kuat dan sistem saraf yang hiperaktif ini menciptakan kegelisahan fisik ( restlessness ) yang membuat Anda bolak-balik mengubah posisi tidur tanpa henti. 4. Jebakan Psikologis "Sleep Effort" Saat tubuh sangat lelah, kita cenderung memiliki ekspektasi tinggi: "Aku harus tidur sekarang karena besok harus bangun pagi." Tekanan psikologis ini disebut sleep effort . Secara ironis , semakin keras Anda mencoba untuk tidur, semakin cemas otak Anda. Kecemasan ini kembali memicu pelepasan adrenalin, yang semakin menjauhkan Anda dari fase rileks yang dibutuhkan untuk terlelap. Otak Anda menjadi sibuk memikirkan "kenapa saya belum tidur?", alih-alih beristirahat. Jika Anda mengalami kondisi ini, jangan memaksakan diri tetap di kasur sambil frustrasi. Secara ilmiah, level kortisol Anda sedang tinggi. Bangunlah sebentar, lakukan aktivitas yang menenangkan di cahaya redup (seperti membaca buku fisik atau meditasi napas) selama 15-20 menit untuk menurunkan detak jantung, baru kembali ke kasur saat kantuk datang lagi. Ingat, tidur membutuhkan kondisi rileks, bukan kondisi terpaksa. Baca Juga:  Sulit Tidur? Ini 10 Tips Ampuh Mengusir Insomnia untuk Tidur yang Berkualitas (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK