faktakalbar

Stop Makan Kurang dari 5 Menit! Ini 7 Bahaya yang Mengintai Tubuh

Penulis: Redaksi Tuesday, 27 January 2026 📖 2 menit
Stop Makan Kurang dari 5 Menit! Ini 7 Bahaya yang Mengintai Tubuh
Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Di tengah kesibukan yang padat, waktu istirahat makan siang sering kali menjadi momen yang terburu-buru. Banyak orang terbiasa menghabiskan sepiring makanan hanya dalam waktu 5 hingga 10 menit, kemudian langsung kembali bekerja. Padahal, tubuh manusia bukanlah mesin yang bisa memproses "bahan bakar" secara instan. Kebiasaan makan terlalu cepat ( rapid eating ) ternyata bukan sekadar masalah etika di meja makan. Baca Juga:  Sekolah Elit Tolak Makan Gratis, BGN Larang Paksaan Lebih dari itu, ini adalah ancaman kesehatan serius yang sering diabaikan. Mulai dari gangguan pencernaan hingga risiko diabetes, berikut adalah alasan medis mengapa Anda harus mulai memperlambat kunyah Anda. 1. Sabotase Sinyal "Kenyang" di Otak Makan terlalu cepat memutus komunikasi antara perut dan otak. Secara biologis, lambung membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh sudah kenyang. Ketika Anda makan dengan kecepatan tinggi, hormon ghrelin (lapar) dan leptin (kenyang) menjadi kacau. Akibatnya, otak belum sempat memproses rasa kenyang meskipun perut sudah penuh, yang memicu Anda untuk terus makan melebihi kebutuhan kalori harian. 2. Pintu Gerbang Obesitas dan Sindrom Metabolik Ada korelasi kuat antara kecepatan makan dan angka timbangan. Mereka yang makan terlalu cepat cenderung mengonsumsi porsi lebih besar dan lebih mudah merasa lapar kembali, yang berujung pada kenaikan berat badan. Lebih parah lagi, kebiasaan ini meningkatkan risiko sindrom metabolik sekelompok kondisi berbahaya yang mencakup tekanan darah tinggi, penumpukan lemak perut, dan kolesterol tinggi. Studi menunjukkan orang yang makan cepat berisiko dua hingga lima kali lebih tinggi mengalami sindrom ini dibandingkan mereka yang makan perlahan. 3. Lonjakan Gula Darah dan Risiko Diabetes Makan kilat juga memaksa tubuh bekerja keras dalam memproses glukosa. Orang yang menghabiskan makanan kurang dari 20 menit memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2. Hal ini terjadi karena lonjakan gula darah yang tiba-tiba dapat menyebabkan resistensi insulin, kondisi di mana tubuh kesulitan memindahkan gula dari darah ke dalam sel secara efektif . 4. Nutrisi Terbuang Percuma Pencernaan sejatinya dimulai di mulut, bukan di lambung. Proses mengunyah berfungsi memecah makanan dan mencampurnya dengan air liur agar nutrisi dapat diserap optimal. Jika Anda menelan makanan tanpa kunyahan yang cukup, tubuh akan kesulitan menyerap vitamin dan mineral penting. Selain itu, potongan makanan yang terlalu besar dapat membebani lambung, memicu iritasi (gastritis), kembung, hingga nyeri ulu hati. Cara Menerapkan Mindful Eating (Makan Berkesadaran) Untuk menghindari risiko di atas, mulailah melatih diri untuk makan lebih lambat dengan teknik berikut: Aturan 20 Menit: Pasang timer atau targetkan waktu makan minimal 20 menit untuk satu porsi. Kunyah Lebih Lama: Usahakan mengunyah 15 hingga 30 kali per suapan. Riset menunjukkan mengunyah 40 kali bahkan bisa meningkatkan hormon kenyang (GLP-1) secara signifikan. Jauhkan Gadget: Hindari makan sambil menatap layar (HP atau TV) agar Anda bisa fokus pada tekstur dan rasa makanan, serta peka terhadap sinyal kenyang. Letakkan Sendok: Biasakan meletakkan alat makan di meja setiap kali selesai menyuap untuk memberikan jeda alami. Mengubah tempo makan memang butuh pembiasaan, namun dampaknya bagi kesehatan jangka panjang sangatlah besar. Baca Juga:  Ingin Perut Rata? Ini 6 Menu Makan Malam yang Ampuh Bakar Lemak Viseral (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK