faktakalbar

Bahaya Pola Asuh 'Pemakluman': Saat Kalimat 'Namanya Juga Anak-anak' Menjadi Bibit Sifat Manipulatif

Penulis: Redaksi Tuesday, 28 October 2025 📖 2 menit
Bahaya Pola Asuh 'Pemakluman': Saat Kalimat 'Namanya Juga Anak-anak' Menjadi Bibit Sifat Manipulatif
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Kalimat "namanya juga anak-anak" sering kali terdengar sebagai respons wajar saat seorang anak melakukan kesalahan. Baik itu merebut mainan, berbohong kecil, atau tidak sengaja menyakiti orang lain, banyak orang tua menggunakan frasa ini sebagai tameng untuk memaklumi perilaku tersebut. Namun, di balik niat yang mungkin baik untuk melindungi si anak, kebiasaan memaklumi kesalahan secara terus-menerus ini ternyata menyimpan bahaya laten . Tanpa disadari, pola asuh ini justru sedang menanam bibit perilaku bermasalah di masa depan, salah satunya adalah sifat manipulatif . Baca Juga:  8 Makanan Terbaik untuk Otak Anak, Bantu Tingkatkan Fokus dan Daya Ingat Ketika seorang anak berbuat salah misalnya merebut mainan temannya dan ia melihat orang tuanya justru membela atau menyalahkan pihak lain, ia mempelajari sebuah pola. Anak tersebut belajar bahwa dengan mengadu, menangis, atau bahkan memutarbalikkan fakta, ia bisa lolos dari tanggung jawab dan mendapatkan pembelaan. Ia tidak belajar empati atau memahami konsekuensi dari tindakannya. Sebaliknya, ia belajar bahwa ia adalah pusat dunia dan kesalahannya akan selalu dimaklumi. Psikolog Anak, Gloria Siagian, mengonfirmasi bahaya dari pola asuh semacam ini. Menurutnya, ketika anak hanya diajarkan untuk fokus pada diri sendiri dan kebutuhannya selalu diutamakan di atas orang lain, dampaknya sangat jelas. "Menciptakan anak yang self centered dan egois, mencari segala cara untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri," tegas Gloria. Sikap self-centered atau egois inilah yang menjadi akar dari sifat manipulatif. Anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa ia selalu benar dan berhak mendapatkan apa yang ia mau, bahkan jika harus dengan cara berbohong atau mengorbankan perasaan orang lain. Perilaku ini tidak akan berhenti di masa kanak-kanak. Pola "pemakluman" yang diterima sejak kecil akan terbawa hingga dewasa. Mereka akan tumbuh menjadi individu yang sulit menerima kesalahan, selalu mencari pembenaran atas kegagalan (seperti masalah finansial atau hubungan), dan cenderung menyalahkan orang lain atas musibah yang disebabkan oleh kelalaiannya sendiri. Mencintai dan melindungi anak adalah kewajiban. Namun, membiarkan mereka lolos dari setiap kesalahan tanpa koreksi bukanlah bentuk cinta. Justru, dengan mengajarkan tanggung jawab, empati, dan konsekuensi dari setiap tindakan, orang tua sedang membekali anak dengan keterampilan sosial yang jauh lebih penting untuk masa depan mereka. Baca Juga:  Belum Terlambat, Inilah 5 Alasan untuk Mulai Membaca Buku Hari Ini (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK