faktakalbar

Jurnal The Lancet: Ahli Desak Pemerintah Pajaki Makanan Ultra-Olahan (UPF) Demi Kesehatan Global

Penulis: Dimas Tuesday, 25 November 2025 📖 2 menit
Jurnal The Lancet: Ahli Desak Pemerintah Pajaki Makanan Ultra-Olahan (UPF) Demi Kesehatan Global
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Para ahli internasional menegaskan bahwa saat ini diperlukan langkah nyata untuk mengurangi konsumsi Makanan Ultra-Olahan (UPF) di seluruh dunia. Hal ini mengingat dampaknya yang kian mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat global. Para ahli melihat adanya perubahan besar dalam pola makan masyarakat, dari makanan segar dan utuh ke makanan olahan yang lebih murah. Perubahan ini berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, mulai dari obesitas hingga depresi. Dalam ulasan penelitian global yang dipublikasikan di The Lancet , para peneliti mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan tegas, termasuk menetapkan peringatan dan memberlakukan Pajak Makanan Ultra-Olahan yang lebih tinggi. Tujuannya adalah agar pendanaan untuk akses makanan bergizi dapat diperkuat. Baca Juga: Awas Dehidrasi! Hindari 4 Makanan Ini Saat Cuaca Sedang Panas Ekstrem Mengapa Makanan Ultra-Olahan (UPF) Berbahaya? Makanan ultra-proses dianggap berbahaya bukan hanya karena kandungan gizinya (yang biasanya buruk), tetapi lebih kepada cara pembuatannya dan bahan-bahan yang digunakan. Sebuah makanan disebut sebagai makanan ultra-olahan karena mengandung lebih dari lima bahan yang tidak akan kita temukan di lemari dapur. Bahan-bahan tersebut meliputi pengemulsi, pengawet, aditif, pewarna, dan pemanis. Contoh umum Makanan Ultra-Olahan (UPF) antara lain: Mi instan dan sup instan Sosis, es krim Keripik, kue kering, dan biskuit Minuman bersoda Survei global menunjukkan konsumsi UPF terus meningkat, memperburuk kualitas makanan karena terlalu banyak gula dan lemak tidak sehat, serta kurangnya serat dan protein. Baca Juga: Gerah Hilang Seketika! Ini 5 Makanan Paling Nikmat Disantap Saat Cuaca Panas Bukti Dampak Terkait 12 Kondisi Kesehatan Tinjauan bukti dampak UPF terhadap kesehatan ini dilakukan oleh 43 pakar global dan didasarkan pada 104 studi jangka panjang. Hasilnya menunjukkan bahwa makanan ini terkait dengan risiko lebih tinggi terhadap setidaknya 12 kondisi kesehatan, meliputi: Diabetes tipe 2 Penyakit kardiovaskular Penyakit ginjal Depresi Kematian dini karena sebab apa pun Prof. Carlos Monteiro, dari Universitas Sao Paulo di Brasil yang mendirikan sistem klasifikasi Nova untuk UPF, mengatakan: "Meningkatnya konsumsi makanan ultra-olahan sedang membentuk ulang pola makan di seluruh dunia, menggusur makanan segar dan minim olahan." Menurutnya, perubahan ini didorong oleh korporasi global yang kuat yang memprioritaskan produk UPF, didukung oleh pemasaran iklan ekstensif dan lobi politik untuk menghentikan kebijakan kesehatan publik yang efektif. Rekan penulis, Dr. Phillip Baker, mengatakan solusi yang dibutuhkan adalah respons kesehatan publik global yang kuat, seperti upaya menantang industri tembakau. Kritik dan Hubungan Sebab Akibat Meskipun mendesak tindakan, ulasan tersebut mengakui kurangnya uji klinis yang dapat menunjukkan secara pasti bagaimana UPF merusak kesehatan. Sejumlah ilmuwan mengingatkan bahwa sulit untuk memisahkan efek UPF dari faktor-faktor lain dalam gaya hidup, perilaku, dan kekayaan seseorang. Baca Juga : Bahaya Mikroplastik: Riset University of California Ungkap Mempercepat Pembentukan Plak Arteri 624% Prof. Kevin McConway, profesor emeritus statistika terapan di Universitas Terbuka, mengatakan: "Studi seperti ini dapat menemukan korelasi, tetapi tidak dapat memastikan hubungan sebab dan akibat." Ia menambahkan bahwa masih ada "ruang untuk keraguan dan klarifikasi dari penelitian lebih lanjut" mengenai jenis UPF mana yang paling berkontribusi pada penyakit. Namun, para ahli menegaskan bahwa kurangnya uji klinis tidak boleh menghambat tindakan untuk melindungi masyarakat. (*Drw)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK