Balada Jejak Politik Sutarmidji, Tumbang di Tangan Wakil Sendiri
PONTIANAK
- Pilkada Kalimantan Barat 2024 mencatatkan sebuah drama politik yang sarat makna dan penuh kejutan.
Sutarmidji atau akrab disapa Bang Midji, tokoh politik yang telah lama malang melintang di panggung pemerintahan, harus menerima kenyataan pahit setelah kalah dari pasangan Ria Norsan-Krisantus dalam pemilihan gubernur tahun ini.
Ironisnya, Ria Norsan adalah sosok yang selama ini berdiri di sisinya sebagai Wakil Gubernur Kalimantan Barat periode 2018–2023.
Hasil quick count menunjukkan pasangan Ria Norsan-Krisantus unggul dengan perolehan 52,36 persen suara. Pasangan ini, yang diusung oleh PDIP, Hanura, dan PPP, berhasil mengumpulkan 1.279.188 suara hingga Kamis (28/11/2024).
Di sisi lain, Sutarmidji yang berpasangan dengan Didi Haryono hanya mampu meraih 37,89 persen suara.
Pasangan lainnya, Muda Mahendrawan-Jakius Sinyor, menempati posisi terakhir dengan 9,94 persen suara.
Lahir di Pontianak pada 29 November 1962, Sutarmidji memulai perjalanan hidupnya dari keluarga sederhana.
Anak seorang pegawai di Departemen Agama dan Ayahnya pernah aktif di Partai Masyumi. Pendidikan dasar hingga menengah diselesaikan di Pontianak, sebelum akhirnya meraih gelar Sarjana Hukum di Universitas Tanjungpura pada tahun 1986 dan Magister Humaniora di Universitas Indonesia pada tahun 1993.
Sebelum terjun ke dunia politik, Sutarmidji adalah seorang dosen di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura.
Berbagai pekerjaan, termasuk berjualan bawang putih impor, ia lakoni demi. Perjuangan ini mencerminkan tekad dan kerja keras yang menjadi ciri khas perjalanan kariernya.
Karier politik Sutarmidji dimulai di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia menjadi anggota DPRD Kota Pontianak pada Pemilu 1999 dan kemudian terpilih sebagai Wakil Wali Kota Pontianak pada tahun 2003.
Puncak kariernya sebagai Wali Kota Pontianak ditandai dengan dua periode kepemimpinan (2008–2018). Keberhasilannya membawa berbagai penghargaan untuk kota tersebut.
Pada tahun 2018, Sutarmidji memenangkan Pilkada Kalbar bersama Ria Norsan dengan perolehan suara 51,55 persen. Sebagai Gubernur Kalimantan Barat, ia dikenal karena program-programnya yang inovatif dan keberanian dalam mengambil keputusan strategis.
Namun, Pilkada 2024 menjadi titik balik dalam perjalanan politik Sutarmidji. Kekalahannya dari Ria Norsan, mantan wakilnya sendiri, mencerminkan dinamika politik yang sarat intrik.
Ria Norsan berhasil membangun kepercayaan publik dan menggandeng koalisi kuat di akar rumput, sementara Sutarmidji menghadapi tantangan dari fragmentasi dukungan politiknya.
Meski hasil resmi KPU masih dinantikan, angka quick count telah menjadi gambaran jelas bahwa Sutarmidji harus melepas peluangnya untuk memimpin Kalimantan Barat di periode berikutnya.
Momentum ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana politik adalah dunia yang penuh ketidakpastian, di mana kawan bisa berubah menjadi lawan, kemudian pertanyaan besarnya apa sebenarnya faktor utama kekalahan Sutarmidji dari Ria Norsan?
Kekalahan ini bukan hanya sebuah angka statistik, tetapi juga cerita tentang perubahan arah politik dan dinamika hubungan antarfigur. Bagi Sutarmidji, perjalanan ini menutup sebuah bab dalam karier politiknya, namun mungkin membuka peluang untuk peran baru di masa depan.
Waktu akan membuktikan, apakah Sutarmidji akan bangkit dari kekalahan ini atau memilih jalan lain di luar panggung politik. Yang jelas, jejak politiknya akan selalu dikenang sebagai salah satu mantan Gubernur di Kalimantan Barat.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.