Banjir Bandang Hantam Kepulauan Sitaro: 9 Tewas, Ratusan Warga Terpaksa Mengungsi
Faktakalbar.id, SITARO –
Hujan dengan intensitas tinggi memicu terjadinya banjir bandang di
Sitaro
, Sulawesi Utara, pada Senin (5/1/2026).
Bencana yang terjadi pada dini hari tersebut mengakibatkan sedikitnya sembilan orang meninggal dunia.
Baca Juga:
Puncak Musim Hujan 2026, BNPB Laporkan Rentetan Bencana Banjir hingga Erupsi Gunung Lewotobi
Bencana tersebut dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah kepulauan tersebut dalam durasi yang cukup lama, sehingga menyebabkan luapan material batuan dan lumpur.
Tiga Kecamatan Terdampak Parah
Berdasarkan data yang dihimpun, dampak kerusakan tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Siau Timur, Siau Timur Selatan, dan Siau Barat.
Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sitaro segera melakukan pendataan di lapangan pascakejadian.
“Data sementara yang dikumpulkan, tercatat rincian korban jiwa antara lain sembilan orang meninggal dunia, lima orang dalam pencarian, 17 orang mengalami luka-luka,” bunyi laporan resmi tim BPBD setempat.
Selain korban jiwa dan luka-luka, ratusan warga terpaksa mengungsi karena tempat tinggal mereka tidak aman.
“Sebanyak 102 jiwa mengungsi di gedung GMIST Bethbara,” lanjut laporan tersebut.
Kerusakan Infrastruktur dan Kendala Evakuasi
Dampak kerusakan material akibat banjir bandang di Sitaro ini juga cukup signifikan. Sebanyak lima unit rumah dilaporkan hilang atau hanyut terbawa arus deras.
Hingga Senin siang, meskipun banjir dilaporkan telah surut, wilayah terdampak masih mengalami kelumpuhan infrastruktur vital. Jaringan listrik dan telekomunikasi di lokasi bencana dilaporkan terputus total.
Baca Juga:
Sungai Asuansang Meluap, Banjir 1,5 Meter Rendam Ratusan Rumah di Sambas
Saat ini, Tim SAR gabungan masih terus berupaya melakukan evakuasi dan pencarian terhadap lima warga yang masih dinyatakan hilang. Namun, operasi kemanusiaan ini menghadapi tantangan logistik yang cukup berat.
“Adapun kendala yang dihadapi di lapangan untuk mobilisasi sumber daya adalah penyesuaian jadwal penyeberangan kapal menuju Kabupaten Kepulauan Sitaro,” tulis laporan situasi BNPB.
Upaya pendataan kerugian material lainnya masih terus dilakukan sembari menunggu akses dan komunikasi pulih kembali.
(*Red)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.