BARAK 216
OPINI -
Subuh belum selesai menetas ketika peluit pertama membelah udara. Jam empat pagi. Barak masih berbau kasur lipat, keringat kemarin, dan doa-doa yang belum sempat naik ke langit. Di kamar 216, pleton G3, seorang perempuan bangun lebih cepat dari rasa lelahnya sendiri. Namanya Chiki Fauwzi.
Ia melipat selimut rapi, seperti melipat harapan. Hati-hati, jangan sampai kusut. Ia bukan siapa-siapa di barak itu. Bukan jenderal, bukan pejabat, bukan titipan ormas. Hanya seorang manusia yang ingin melayani, dengan cara yang ia tahu, hadir, bekerja, dan bercerita.
Baca Juga:
Tim Airlangga dan Seni Mengetuk Pintu Dinas Tanpa Proposal Tebal
Namun pagi itu, ia tak tahu bahwa di luar barak, dunia sedang menyiapkan palu godam.
Hari-hari diklat berjalan seperti ritual setengah militer setengah iman. Lari, baris, teriak. Doa, evaluasi, disiplin. Chiki menjalaninya. Ia datang terlambat bukan karena malas, tapi karena dunia lain memanggilnya lebih dulu, Yordania, Palestina, Suriah, tempat manusia tak sempat ribut soal CAT, barak, atau birokrasi. Tempat hidup dan mati tidak diperdebatkan di kolom komentar.
Ia sudah bilang. Ia sudah izin. Ia sudah diterima.
Tapi izin rupanya hanya sah di dunia nyata. Di dunia maya, izin tak laku.
Serangan itu datang tanpa aba-aba. Seperti hujan batu dari langit yang katanya suci.
“Tak ikut tes.”
“Tak disiplin.”
“Influencer numpang ibadah.”
“Konten dulu, tugas belakangan.”
Narasi itu diulang-ulang, dipoles, dibagikan, digoreng sampai renyah. Buzzer urusan haji, ternyata ada. Banyak. Rapi. Seperti jamaah, tapi tujuannya bukan Baitullah. Tujuannya algoritma.
Chiki membaca satu per satu. Pelan. Seperti orang membaca vonis.
Padahal ia ada di barak. Tidur di kasur yang sama. Bangun jam yang sama. Berlari dengan napas yang sama terengahnya. Tapi aneh, yang dilihat orang bukan keringatnya, melainkan followers-nya.
Lucu memang. Di negeri ini, dosa paling tak terampuni bukan korupsi. Tapi punya pengaruh.
Ketika yang lain masuk lewat pintu belakang, itu disebut “mekanisme”.
Ketika Chiki masuk lewat pintu yang sama, itu disebut “kejanggalan”.
Ia tak ikut CAT karena tak diminta. Salah.
Ia membuat konten karena diminta. Salah.
Ia ingin membantu jamaah dengan cerita. Salah. Ia diam pun barangkali tetap salah.
Baca Juga:
Mengenal Luluk Hariadi, Tersangka Korupsi Pengadaan Baju Ansor 1,2 Miliar
Hari pencopotan itu datang tanpa drama. Tanpa peluit. Tanpa barisan.
Namanya dicoret seperti salah ejaan. Tanpa penjelasan utuh. Tanpa ruang membela diri. Seperti manusia yang dianggap kesalahan administratif.
Dunia maya bersorak.
“Akhirnya!”
“Pantas!”
“Sudah kuduga!”
Tak ada yang bertanya, apa rasanya dilucuti niat baiknya di depan umum?
Tak ada yang peduli, berapa malam ia tidur di barak itu sambil menahan rindu dan lelah?
Karena simpati di zaman ini mahal. Lebih murah mencaci.
Chiki tidak marah. Itu yang paling menyedihkan.
Ia hanya menulis. Menjelaskan. Mengklarifikasi. Dengan nada yang terlalu sopan untuk dunia yang terlalu bising. Ia tak menyerang balik. Tak menyebut nama. Tak membuka dapur.
Ia memilih pergi dengan luka yang dilipat rapi, seperti selimut subuh itu.
Barak 216 kembali sunyi. Kasur kosong. Peluit tetap berbunyi. Sistem tetap berjalan. Dunia tetap sibuk mencari kambing hitam baru.
Kita, pembaca, akhirnya sadar. Kadang yang dicopot bukan karena salah. Tapi karena terlalu mudah disalahkan.
Di negeri ini, wak,
menjadi manusia yang berniat baik
sering kali lebih berbahaya dari menjadi orang yang benar-benar busuk.
Baca Juga:
KPK Beberkan Peran Eks Menag Yaqut dalam Kasus Korupsi Kuota Haji 2024
Oleh: Rosadi Jamani
(Ketua Satupena Kalbar)
*Disclaimer:
Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.