faktakalbar

Benarkah Iran Banyak Melahirkan Ilmuwan Hebat Kelas Dunia?

Penulis: Redaksi Sunday, 08 February 2026 📖 3 menit
Benarkah Iran Banyak Melahirkan Ilmuwan Hebat Kelas Dunia?
OPINI - Saya sering membaca ungkapan netizen di kolom komentar. “ Iran itu bangsa yang susah ditaklukan oleh negara mana pun.” “Orang Iran itu pintar-pintar.” Benarkah demikian? Mari kita ungkap sambil seruput koptagul, wak! Dulu namanya Persia . Di zaman modern berubah menjadi, Iran. Bangsa yang kayaknya punya kontrak tak tertulis sama waktu. “Kami boleh tumbang. Tapi punah ? Jangan ngimpi.” Malam ini, bangsa yang satu ini bakal berdiri di hadapan Timnas futsal Indonesia di partai final Piala Asia. Di lapangan mereka lawan serius. Di luar lapangan, khususnya di sejarah peradaban, Iran itu lawan kelas berat yang pantas dikenal, bukan cuma ditakuti. Baca Juga:  Jadwal Final Piala Asia Futsal 2026: Indonesia vs Iran Malam Ini, Misi Garuda Muda Patahkan Dominasi Asia Ribuan tahun lalu, Persia sudah bikin kekaisaran yang bikin tetangga minder akut. Cyrus the Great bukan tipe penakluk barbar. Orang ini malah kayak pejabat HAM zaman purba. Orang Yahudi dibebaskan, disuruh pulang, kuil dibangun lagi. Dunia masih sibuk bantai-bantaian, Persia sudah mikir toleransi. Lalu datang Alexander the Great, bakar Persepolis, sambil mikir, “Udahan ini.” Eh, yang ada malah kebalik. Budaya Persia nyerap Hellenistik, dicerna pelan-pelan, lalu bangkit lagi di era Parthia dan Sassanid. Abad ke-7, Arab Muslim datang. Kekaisaran Sassanid tumbang, banyak yang mengira Persia tamat. Nyatanya? Mereka cuma ganti kostum. Bahasa Arab dipakai buat ilmu pengetahuan, karena itu bahasa internasional. Tapi, Farsi tetap jadi napas identitas dan sastra. Dari sinilah lahir deretan ilmuwan yang bikin dunia modern berdiri. Al-Khwarizmi (aljabar dan algoritma), Ibn Sina (kitab medis rujukan Eropa sampai abad ke-17), Al-Razi (pembedaan cacar dan campak), Al-Biruni (pengukuran radius bumi super akurat), Nasir al-Din al-Tusi (fondasi trigonometri modern). Kalau dihitung-hitung, sekitar 70–80 persen ilmuwan besar Zaman Keemasan Islam berasal dari wilayah Persia. Arab membawa agama dan semangat, Persia menyumbang otak dan estetika. Ini kombinasi yang bikin peradaban meledak. Sastranya? Ini bukan sekadar karya tulis, ini candu jiwa. Rumi sampai hari ini jadi penyair paling laris di Barat. Hafez dipakai orang Iran buat ramal nasib, tarot versi puitis. Ferdowsi dengan Shahnameh menjaga identitas Persia pra-Islam lewat 50 ribu bait. Saadi dan Omar Khayyam melengkapi daftar utang budaya dunia pada Iran. Kalau ada liga Champions sastra abad pertengahan, Persia itu Real Madrid-nya. Mongol datang, kota dibakar, jutaan tewas. Dunia kembali teriak “habis.” Tapi Ilkhanate Mongol justru berubah jadi pelindung seni dan budaya Persia. Ottoman gagal menelan Iran. Inggris dan Rusia cuma bisa main pengaruh, tak pernah menjadikannya koloni penuh. Alam Iran keras. Pegunungan Zagros dan Elburz, gurun Dasht-e Kavir dan Lut, invasi ke sana sama saja main futsal tanpa sepatu. Irak mencoba 1980, delapan tahun perang, hasilnya nihil. Di era modern, diaspora Iran di sains dan teknologi jadi legenda. Pierre Omidyar (eBay), Dara Khosrowshahi (Uber), Arash Ferdowsi (Dropbox), saudara Partovi (Code.org). Maryam Mirzakhani mengangkat Fields Medal, Nima Arkani-Hamed jadi fisikawan teori kelas dunia. Per kapita, kontribusi Iran di sains dan teknologi global itu ngeri. So, benarkah Iran banyak melahirkan ilmuwan hebat dunia? Jawabannya bukan sekadar “iya”, tapi iya, dan sejak ribuan tahun lalu. Besok, di lapangan futsal, kita tentu berdiri penuh di belakang Timnas. Baca Juga:  Final Piala Asia Futsal 2026: Media Iran Soroti ‘Teror’ Suporter Indonesia Arena, Sebut Pemain Bisa Hilang Fokus Berani, percaya diri, dan pantang minder. Tapi memahami Iran sebagai bangsa juga bikin kita sadar. Ini bukan cuma final olahraga, ini pertemuan dua cerita besar. Di lapangan, bola itu bundar. Siapa pun bisa menang. Kalau sejarah Persia mengajarkan satu hal, jatuh bukan akhir. Bangkit itu tradisi. Indonesia pun sedang menulis babnya sendiri. "Biasanya, kalau abang nulis soal Iran, dituduh agen Mossad atau CIA ni." "Kali ini, nampaknya tidak, wak." Ups. Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar *Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK