faktakalbar

Benarkah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan? Ini Nominal Tepatnya Menurut Sains

Penulis: Redaksi Tuesday, 27 January 2026 📖 2 menit
Benarkah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan? Ini Nominal Tepatnya Menurut Sains
Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pertanyaan klasik "apakah uang bisa membeli kebahagiaan?" sering kali menjadi perdebatan sengit. Di satu sisi, uang adalah alat untuk bertahan hidup; di sisi lain, banyak orang kaya yang merasa hampa. Lantas, di mana titik keseimbangannya? Ternyata, sains memiliki jawabannya. Baca Juga:  Terjebak dalam Perangkap Uang: Pahami 4 Dampak Negatif ‘Mata Duitan’ pada Kualitas Hidupmu Berbagai riset modern telah membedah hubungan antara isi dompet dan kesehatan mental. Hasilnya mengejutkan: ada batasan nominal tertentu di mana uang berhenti memberikan kebahagiaan tambahan. Berikut adalah rangkuman fakta ilmiah mengenai berapa banyak uang yang sebenarnya dibutuhkan manusia untuk merasa "cukup" dan bahagia. 1. "Angka Ajaib" Kebahagiaan Sebuah studi terkenal di Amerika Serikat pada tahun 2010 menetapkan bahwa kesejahteraan emosional manusia mencapai titik puncaknya pada pendapatan tahunan sekitar US$75.000 (sekitar Rp1,18 miliar). Jika disesuaikan dengan inflasi saat ini, angka tersebut naik menjadi sekitar US$111.000 atau setara Rp1,74 miliar per tahun. Teori ini menyebutkan bahwa sebelum menyentuh angka tersebut, setiap kenaikan gaji akan meningkatkan kebahagiaan secara signifikan karena kebutuhan dasar terpenuhi. Namun, begitu melewati ambang batas tersebut, dampak uang terhadap kebahagiaan mulai mendatar ( plateau ). 2. Jebakan Hedonic Treadmill Mengapa orang yang sudah sangat kaya sering kali tidak merasa lebih bahagia dari kelas menengah? Fenomena ini disebut hedonic treadmill . Manusia memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Saat Anda membeli mobil mewah atau rumah besar, rasa senang itu hanya bersifat sementara. Anda akan cepat terbiasa dengan standar hidup baru tersebut, lalu kembali menginginkan sesuatu yang lebih tinggi lagi untuk merasa puas. Siklus "tidak pernah cukup" inilah yang sering kali menggerus kebahagiaan, meski saldo rekening terus bertambah. 3. Kebahagiaan di Negara Berkembang vs Maju Menariknya, dampak uang ternyata relatif terhadap lingkungan. Sebuah eksperimen sosial pada tahun 2022 yang membagikan uang US$10.000 (sekitar Rp157 juta) kepada 200 orang secara acak menemukan fakta unik. Peserta dari negara berpendapatan rendah atau berkembang (seperti Indonesia dan Brasil) merasakan lonjakan kebahagiaan tiga kali lipat lebih besar dibandingkan peserta dari negara maju. Ini membuktikan bahwa uang memiliki dampak emosional paling besar ketika ia berfungsi untuk mengangkat seseorang dari kesulitan finansial menuju kestabilan. 4. Kunci Sejati: Berbagi dan Bersosialisasi Fakta paling menyentuh dari riset tersebut adalah bagaimana uang itu digunakan. Lebih dari dua pertiga uang tunai yang dibagikan dalam eksperimen justru disumbangkan kembali oleh penerimanya kepada keluarga, teman, atau orang lain yang membutuhkan. Hal ini selaras dengan filosofi Aristoteles tentang eudaimonia bahwa hidup yang baik bukan tentang menumpuk harta, melainkan tentang keseimbangan akal budi dan karakter. Riset membuktikan bahwa waktu yang dihabiskan bersama orang terdekat dan berbagi rezeki justru memberikan kepuasan batin yang jauh lebih tahan lama ketimbang membeli barang mewah. Uang memang fondasi penting untuk membebaskan kita dari stres kemiskinan. Namun, mengejar kekayaan semata tanpa diimbangi hubungan sosial yang baik hanya akan menjebak kita dalam perlombaan yang tak ada garis finisnya. Baca Juga:  Kwarda Kalbar Sosialisasi Spesifikasi Seragam Pramuka (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK