Benarkah 'Wanita' Artinya 'Wani Ditoto'? 5 Alasan Mengapa Kata Ini Dianggap Simbol Patriarki
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Perdebatan antara penggunaan kata "Perempuan" dan "Wanita" bukan sekadar masalah selera, melainkan pertarungan ideologi.
Selama berpuluh tahun, masyarakat Indonesia dinina-bobokan dengan anggapan bahwa kata "Wanita" lebih sopan dan halus.
Namun, di balik kehalusan tersebut, tersimpan makna yang justru mengecilkan peran kaum perempuan.
Banyak aktivis gender kini menyerukan untuk kembali menggunakan kata "Perempuan" dan meninggalkan kata "Wanita".
Baca Juga:
Seram atau Tragis? 3 Hantu Perempuan Indonesia Ini Ternyata Simbol Luka Budaya Patriarki
Mengapa demikian? Berikut adalah 5 alasan mengapa kata "Wanita" dianggap sebagai produk budaya patriarki yang membatasi:
1. Mitos "Wani Ditoto" (Mau Diatur)
Dalam filosofi Jawa (kerata basa), kata Wanita sering diartikan sebagai akronim dari "Wani Ditoto" atau berani ditata.
Filosofi ini menempatkan laki-laki sebagai subjek yang mengatur, dan perempuan sebagai objek yang harus mau diatur.
Hal ini secara tidak sadar menanamkan pola pikir bahwa perempuan yang "baik" adalah yang penurut, pasif, dan tidak boleh membantah (submisif).
2. Asal Kata Sanskerta yang Berkonotasi Seksual
Secara etimologi, kata "Wanita" diserap dari bahasa Sanskerta "Vanita", yang berarti "yang diinginkan" atau "yang dicintai".
Sekilas terdengar romantis, namun jika ditelaah lebih dalam, makna ini mendefinisikan keberadaan perempuan hanya berdasarkan hasrat laki-laki (objek seksual).
Berbeda jauh dengan kata "Perempuan" yang berasal dari kata "Empu" (tuan, ahli, atau yang dihormati), yang menunjukkan kemandirian dan kecerdasan.
3. Melanggengkan Stigma "Sumur, Dapur, Kasur"
Penggunaan kata "Wanita" sangat
masif
dipromosikan pada era Orde Baru (lewat Dharma Wanita).
Pada masa itu, peran perempuan dikonstruksi ulang (ibuisme negara) agar fokus utamanya hanya sebagai "pendamping suami" dan pengurus rumah tangga.
Ini memperkuat
stigma
bahwa wilayah kekuasaan perempuan hanyalah domestik: sumur (mencuci), dapur (memasak), dan kasur (melayani suami), mematikan potensi mereka di ranah publik.
4. Eufemisme yang Menipu
Sering kali kita mendengar alasan, "Pakai kata wanita saja, lebih halus." Padahal, penghalusan makna (eufemisme) ini sering kali justru menyembunyikan realitas pahit.
Contohnya, istilah "Wanita Tuna Susila" digunakan untuk mengganti "Pelacur".
Penggunaan kata "wanita" di sini seolah memberikan kesopanan semu, padahal tujuannya adalah melabeli moralitas.
Kata "Perempuan" dianggap lebih lugas, netral, dan setara secara manusiawi.
5. Simbol Ketidaksetaraan Posisi
Coba perhatikan pasangannya: "Pria dan Wanita".
Pria berasal dari kata Vira (pahlawan/berani), sedangkan Wanita (yang diinginkan). Dari sini saja sudah terlihat ketimpangan derajat.
Sementara jika kita menggunakan "Laki-laki dan Perempuan", keduanya memiliki kedudukan yang setara sebagai manusia, tanpa embel-embel sifat kepahlawanan di satu sisi dan sifat pasif di sisi lain.
Bahasa adalah cermin budaya.
Mengganti kata "Wanita" menjadi "Perempuan" bukan sekadar gonta-ganti istilah, melainkan upaya merebut kembali martabat dan otonomi.
Perempuan adalah Empu bagi dirinya sendiri, bukan sekadar sosok yang Wani Ditoto.
Baca Juga:
Film ‘Home Sweet Loan’: Potret Pahit Generasi Sandwich dan Jebakan Patriarki untuk Anak Perempuan
(*Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.