faktakalbar

Bencana Sebagai Ayat dan Cermin Bangsa

Penulis: Redaksi Friday, 28 November 2025 📖 6 menit
Bencana Sebagai Ayat dan Cermin Bangsa
OPINI - Gelombang bencana yang melanda Indonesia dalam beberapa hari terakhir seperti; badai ekstrem, tanah longsor , banjir bandang , gempa, erupsi , dan hingga kabar satwa yang keluar hutan karena kelaparan menghadirkan kembali satu ayat yang sejak lama kita baca, tetapi jarang kita resapi secara serius, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41) Hampir semua mufasir sepakat, yang dimaksud dengan bimâ kasabat aydî al-nâs adalah kemaksiatan dan perbuatan dosa yang dikerjakan manusia. Ditegaskan dalam ayat ini, perbuatan maksiat itulah yang menjadi penyebab terjadinya kerusakan nyata di daratan dan lautan. Ayat ini bukan sekadar pernyataan teologis. Ia adalah diagnosa ekologis yang nyata. Baca Juga: Banjir dan Longsor Kepung Aceh hingga Sumut, Belasan Warga Meninggal Kerusakan yang tampak hari ini merupakan konsekuensi pilihan kolektif yang kita buat sebagai sebuah bangsa, tata ruang yang dilanggar, hutan ditebang habis, pesisir dicemari, gunung dikeruk, habitat satwa dihancurkan, dan hukum lingkungan yang sering kali hanya tegak untuk yang lemah, yang hanya tajam kepada masyarakat biasa lebih-lebih mereka yang marjinal. Ayat ini juga bukan semata ancaman, tetapi penjelasan faktual bahwa kerusakan tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari keterputusan manusia dari prinsip amanah, keadilan, dan keseimbangan yang menjadi dasar penciptaan alam semesta. Padahal kita ketahui bersama bahwa badai, hujan lebat, gempa bumi dan erupsi gunung berapi adalah peristiwa alam yang telah berlangsung jauh bahkan sebelum manusia hadir. Yang mengubahnya menjadi bencana adalah cara kita memperlakukan bumi tanpa etika dan tanpa kesadaran bahwa bumi dan segala isinya adalah bagian dari amanah yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia. Pada masa kampanye lalu, wacana berkaitan dengan “tobat ekologis” sempat ramai dibicarakan. Namun setelah hiruk pikuk politik mereda, kesadaran itu memudar. Padahal, tobat ekologis bukan sekadar slogan hijau, namun juga merupakan kesadaran kolektif kita tentang betapa pentingnya menjaga bumi ini. lalu komitmen untuk mengubah cara hidup, cara berproduksi, dan cara negara mengelola kuasa. Indonesia sering gagah menyebut diri sebagai negara megabiodiversitas, tetapi masih sangat jauh dari kata baik dalam urusan tata kelola yang berhubungan dengan ekologi ini. Analisis risiko bencana sering diabaikan, pengawasan lingkungan longgar, dan pelanggaran aturan kerap ditoleransi atas nama “investasi” atau “kepentingan strategis”. Akhirnya, keuntungan jangka pendek dinikmati segelintir orang, sementara bencananya ditanggung seluruh rakyat. Islam sebagai sebuah agama yang sangat dalam mengatur setiap aspek kehidupan ini, dengan jelas mengajarkan bahwa bencana tidak selalu berarti murka Allah Ta’ala, ia bisa menjadi peringatan, ujian, atau konsekuensi logis dari perilaku manusia. Tetapi Al-Qur’an memberi isyarat bahaya yang lebih luas, yakni kerusakan ekologis berjalan seiring dengan kerusakan moral. Dekadensi perilaku para pemimpin dan masyarakat menjadi bagian dari sebab turunnya bencana. Dekadensi perilaku para pemimpin dan masyarakat kini menjelma menjadi potret muram yang tak bisa lagi kita abaikan. Dalam banyak kesempatan, bangsa ini seperti kehilangan kompas moralnya. Keteladanan publik yang seharusnya bersinar dari para pemangku amanah perlahan merosot hingga menjadi bayang-bayang samar. Korupsi tak lagi sekadar pelanggaran hukum, tetapi telah menjelma tontonan yang berulang, seakan-akan bagian dari ritme kehidupan politik kita. Kekerasan di panggung publik dinormalisasi, sering dirayakan sebagai “ketegasan”, padahal ia merusak ruang batin masyarakat. Di ruang-ruang digital, perjudian dan pornografi berkembang tanpa batas, menjerat generasi muda dengan kecepatan yang tak pernah kita bayangkan. Tubuh manusia dieksploitasi sebagai komoditas, dijadikan umpan algoritma untuk memancing tontonan dan keuntungan. Bahkan penghinaan, sinisme, dan caci-maki diproduksi dan dikonsumsi seolah-olah elemen hiburan yang sah. Nilai-nilai luhur hilang ditelan gelombang konten instan yang mengejar sensasi. Sementara itu, sebagian elite tampil dengan wajah ganda santun di mimbar, tetapi culas dalam keputusan, berbicara tentang keadilan, tetapi mempraktikkan ketidakadilan, menyerukan etika, tetapi mengingkari amanah yang seharusnya dijaga. Jurang antara moral yang dikhotbahkan dan moral yang dijalankan tampak semakin lebar. Tidak dapat dipungkiri, sebagian tokoh agama pun turut menyumbang kebingungan moral ketika mereka lebih sibuk dalam perdebatan yang remeh ketimbang membimbing umat menghadapi kerusakan alam dan zaman. Ada yang memilih diam terhadap ketidakadilan, enggan menegur kekuasaan, atau tenggelam dalam popularitas digital hingga dakwah berubah menjadi pertunjukan, bukan lagi amanah. Ketika suara yang seharusnya menjadi penuntun justru melemah, umat kehilangan arah. Padahal, dalam tradisi Islam, ulama adalah pewaris para nabi, penjaga nurani publik, pelindung kebenaran, dan pengingat bahwa agama tidak hanya hidup di mimbar, tetapi juga dalam keberanian moral menolak kerusakan dan membela nilai-nilai yang diridhai Allah. Baca Juga: Empat Kabupaten di Sumut Dilanda Banjir dan Longsor, 8 Warga Meninggal Dunia Dalam perspektif Islam, kondisi seperti ini bukan sekadar kegagalan sosial, melainkan fasad moral yang dapat mengundang berbagai bentuk kehancuran baik sosial, spiritual, maupun ekologis. Bencana yang datang bukan hanya fenomena alam yang berdiri sendiri. Ia sering kali menjadi cermin dari kerusakan yang kita biarkan tumbuh dalam diri, dalam kebijakan, dan dalam budaya. Ketika amanah diabaikan, ketika syukur berubah menjadi serakah, dan ketika keadilan dikorbankan untuk kepentingan sesaat, maka tatanan semesta pun bergeming. Alam, dalam bahasa para ulama, tidak buta ia merespons perilaku manusia yang merusak keseimbangan yang dititipkan Allah. Bencana ekologis, dalam perspektif ini, bukan hanya persoalan banjir atau longsor. Ia adalah pantulan dari luka moral bangsa ini. Bahkan fitnah, kerusakan, atau azab yang terjadi akibat perbuatan maksiat itu tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi juga orang lain yang tidak terlibat langsung. Realitas ini digambarkan Rasulullah Shalaullahu Alaihi Wa Salam. dengan sabdanya, “Perumpamaan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang-orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang berbagi-bagi tempat di sebuah kapal, sebagian dari mereka ada yang mendapatkan bagian atas kapal, dan sebagian lainnya mendapatkan bagian bawahnya. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal, jika hendak mengambil air, melewati orang-orang yang berada di atas mereka. Mereka berkata, ‘Seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada di atas kita.’ Apabila mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua akan binasa, jika mereka mencegah orang-orang tersebut, niscaya mereka selamat dan menyelamatkan semuanya.” (HR Al-Bukhari). Bencana sebagai Cermin Bangsa Dalam kacamata Islam, bencana adalah momentum muhasabah nasional menguji kejujuran kita dalam mengelola alam, menegakkan moral, dan menjaga amanah kekuasaan. Ayat tadi menjelaskan kepada kita tentang kerusakan akibat ulah manusia, bukan lagi peringatan, tetapi gambaran realitas yang kita biarkan terus memburuk. Di setiap gelombang banjir yang merangsek ke rumah warga, di setiap longsor yang menutup jalan dan menelan pemukiman, serta di setiap semburan gunung yang mengguncang bumi dan langit, terdapat pesan yang sama, yaitu kita sedang diperingatkan, sekaligus diuji apakah kita masih memiliki keberanian untuk melihat kesalahan kita sendiri. Bencana membuka ruang bagi kejujuran yang paling dalam, kejujuran untuk mengakui bahwa sebagian besar luka dan kerusakan bumi pada saat ini adalah hasil tangan kita sendiri. Namun momentum ini bukan untuk menundukkan kepala tanpa harapan, melainkan untuk menegakkan kembali nilai-nilai yang selama ini kita biarkan pudar. Islam mengajarkan bahwa setiap musibah adalah panggilan untuk bangkit dengan lebih luhur, membersihkan tata kelola yang longgar, membersihkan hati dari kerak keserakahan, dan membersihkan ruang publik dari budaya yang merusak moral dan martabat bangsa. Jika kita mampu membaca bencana sebagai cermin, maka kita akan menemukan bukan hanya apa yang salah, tetapi apa yang harus diperbaiki. Alam sedang berbicara, dan tugas kitalah mendengarkannya dengan kesungguhan. Karena bangsa yang mampu menjadikan bencana sebagai guru, akan tumbuh menjadi bangsa yang lebih kuat, bukan hanya kuat menghadapi ancaman alam, tetapi juga kuat menjaga nilai, adab, dan amanah yang telah lama dititipkan Allah kepada kita. Oleh: Muhammad Viki Riandi (Wakil Ketua Bidang Dakwah dan Pengkajian Agama Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Barat) *Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK