faktakalbar

Bikin Pejabat 'Gerah', Ini 6 Lagu Iwan Fals Paling Pedas Kritik Pemerintah

Penulis: Redaksi Friday, 05 December 2025 📖 2 menit
Bikin Pejabat 'Gerah', Ini 6 Lagu Iwan Fals Paling Pedas Kritik Pemerintah
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Di belantika musik Indonesia, nama Iwan Fals bukan sekadar penyanyi, melainkan sebuah fenomena sosial. Jauh sebelum era media sosial memudahkan orang berpendapat, Virgiawan Listanto sudah lebih dulu "berteriak" lantang mewakili kegelisahan rakyat kecil lewat petikan gitarnya. Karyanya melampaui zaman. Lirik-lirik yang ditulis puluhan tahun lalu sering kali terasa dejavu dengan kondisi politik dan pemerintahan hari ini. Tak heran jika lagu-lagunya kerap disebut sebagai "lagu wajib" demonstrasi mahasiswa dan aktivis. Baca Juga:  Berani Beda Arus, Ini 5 Musisi Indonesia yang Hobi “Sentil” Pemerintah Lewat Lagu Berikut adalah 6 lagu Iwan Fals yang paling berani dan pedas dalam mengkritisi kebijakan pemerintah serta perilaku pejabat: 1. Surat Buat Wakil Rakyat (1987) Lagu ini adalah satire paling ikonik yang ditujukan kepada anggota dewan. Iwan Fals menyoroti perilaku anggota DPR yang seharusnya menjadi penyambung lidah rakyat, namun justru lupa akan janji kampanyenya setelah terpilih. Sindiran paling menohok terdapat pada lirik yang mengkritik anggota dewan yang tertidur saat sidang. Lagu ini menjadi pengingat abadi bahwa kursi parlemen bukan tempat untuk bersantai, melainkan tempat memperjuangkan nasib rakyat yang hidup susah. 2. Tikus-Tikus Kantor (1993) Menggunakan metafora binatang, lagu ini adalah serangan langsung terhadap budaya korupsi di birokrasi pemerintahan. "Tikus" digambarkan sebagai pejabat atau birokrat yang rakus menggerogoti uang negara dari dalam laci meja kerja mereka. Iwan Fals menggambarkan praktik kotor ini sudah menjadi budaya turun-temurun di kalangan penguasa yang memiliki wewenang namun tidak memiliki integritas . Hingga kini, lagu ini masih sangat relevan mengingat kasus korupsi yang tak kunjung habis di negeri ini. 3. Bento (1989) Meskipun tokoh "Bento" digambarkan sebagai pengusaha, lagu ini sejatinya adalah kritik keras terhadap kolusi antara penguasa dan pebisnis di era Orde Baru. Bento adalah representasi sosok arogan yang merasa kebal hukum karena memiliki bekingan kekuasaan. Lagu ini menyindir monopoli dan keserakahan elit yang menumpuk kekayaan dengan cara menindas, seolah hukum bisa dibeli dengan uang dan koneksi politik. 4. Galang Rambu Anarki (1982) Lagu ini terdengar sangat personal karena menggunakan nama anak Iwan Fals, namun konteksnya adalah kritik tajam terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Lagu ini dirilis bertepatan dengan momen kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mencekik rakyat kecil. Lewat liriknya, Iwan Fals memotret ironi di mana harga susu anak melambung tinggi akibat inflasi dan kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat, membuat orang tua harus berjuang ekstra keras hanya untuk memenuhi gizi anak. 5. Bongkar (1989) Jika ada satu lagu yang menjadi "lagu kebangsaan" perlawanan di jalanan, itulah Bongkar . Lagu ini secara eksplisit menyuarakan ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah dan sistem yang menindas. Liriknya mengajak masyarakat untuk tidak diam melihat ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan oleh penguasa. Kata "Bongkar!" menjadi seruan untuk meruntuhkan sistem yang bobrok dan menggantinya dengan keadilan. 6. Manusia Setengah Dewa (2004) Berbeda dengan lagu lainnya yang bernada marah, lagu ini lebih terdengar sebagai surat terbuka atau pesan langsung kepada Presiden (pemimpin negara). Iwan Fals meminta pemimpin untuk bersikap adil, bermoral, dan benar-benar bekerja untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan politik semata. Judul "Setengah Dewa" menyiratkan harapan tinggi rakyat kepada pemimpinnya untuk bisa menyelesaikan masalah yang kompleks, sekaligus sindiran halus bahwa pemimpin harus memiliki sifat pengasih dan bijaksana layaknya dewa, namun tetap membumi sebagai manusia. Baca Juga:  Playlist Perlawanan: 4 Lagu Efek Rumah Kaca yang Bikin Kuping Penguasa ‘Panas’ (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK