faktakalbar

BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan dan Karhutla di Kalbar, Ketapang 42 Hari Tanpa Hujan

BMKG mengingatkan ancaman kekeringan dan karhutla di Kalimantan Barat. Ketapang tercatat mengalami 42 hari tanpa hujan pada puncak musim kemarau 2026.

Penulis: Clara Wednesday, 12 August 2026 📖 2 menit
BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan dan Karhutla di Kalbar, Ketapang 42 Hari Tanpa Hujan
BMKG mengingatkan ancaman kekeringan dan karhutla di Kalimantan Barat. Ketapang tercatat mengalami 42 hari tanpa hujan pada puncak musim kemarau 2026. (dok.ist)

Faktakalbar.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Kalimantan Barat untuk mewaspadai potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada periode puncak musim kemarau.

Stasiun Klimatologi Kalimantan Barat memprakirakan curah hujan di sejumlah wilayah Kalbar berada pada kategori rendah selama periode 10–16 Agustus 2026. Kondisi tersebut meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan potensi munculnya kebakaran hutan dan lahan.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kabupaten Ketapang. Berdasarkan laporan terbaru, wilayah tersebut tercatat mengalami periode tanpa hujan yang cukup panjang, mencapai 42 hari.

Kondisi minim hujan membuat vegetasi dan lahan menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar apabila terdapat sumber api. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan, terutama pada kondisi cuaca kering.

Puncak Musim Kemarau

BMKG sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada periode Juli hingga September. Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah Indonesia perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap dampak kekeringan dan karhutla.

Kondisi kemarau tidak berarti seluruh wilayah akan mengalami cuaca panas tanpa hujan. Hujan masih dapat terjadi di sejumlah daerah, tetapi distribusi dan intensitasnya tidak selalu merata.

Karena itu, wilayah yang mengalami periode kering lebih panjang tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.

Karhutla Bisa Cepat Meluas

Lahan yang kering membuat api lebih mudah menjalar, terutama ketika kebakaran terjadi di kawasan dengan vegetasi yang mudah terbakar dan kondisi angin mendukung.

Selain menyebabkan kerusakan lingkungan, karhutla juga dapat menghasilkan asap yang mengganggu kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Asap dari kebakaran bahkan berpotensi terbawa angin ke wilayah lain. Kondisi ini menjadi perhatian karena kabut asap dari kawasan Kalimantan sebelumnya juga dilaporkan berdampak hingga Sarawak, Malaysia.

Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan

Masyarakat Kalbar diimbau meningkatkan kewaspadaan selama periode kemarau. Pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar sebaiknya dihindari karena api dapat sulit dikendalikan ketika kondisi lahan kering.

Masyarakat juga dapat ikut membantu dengan melaporkan apabila menemukan titik api atau kebakaran lahan kepada pihak berwenang.

Pemantauan titik panas dan kondisi cuaca juga penting dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan dini. BMKG sendiri menekankan pentingnya pemanfaatan informasi cuaca dan pemantauan hotspot untuk mendukung kesiapsiagaan menghadapi karhutla.

Waspadai Dampak Kekeringan

Selain risiko kebakaran, periode tanpa hujan yang panjang dapat berdampak terhadap ketersediaan air dan aktivitas masyarakat.

Sektor pertanian juga perlu menyesuaikan kegiatan dengan kondisi cuaca dan ketersediaan air. Masyarakat di wilayah yang mengalami kekeringan disarankan menghemat penggunaan air dan memantau perkembangan prakiraan cuaca secara berkala.

Dengan kondisi musim kemarau yang masih berlangsung, kewaspadaan terhadap karhutla perlu dilakukan bersama oleh pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. 

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK