Borneo Forum ke-8 di Pontianak Bahas Tata Kelola Sawit dan Ketahanan Pangan
Faktakalbar.id, PONTIANAK
– Borneo Forum ke-8 akan digelar di
Kota Pontianak
, Kalimantan Barat, pada 21–22 Agustus 2025.
Forum tahunan yang diinisiasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (
GAPKI
) se-Kalimantan ini mengangkat tema “Harmonisasi Kemitraan untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional dan Tata Kelola Sawit yang Kondusif.”
Baca Juga:
Truk Tangki Ringsek Parah Setelah Tabrak Truk Sawit yang Sedang Mogok
Kegiatan yang dihadiri sekitar 655 peserta dari lintas kementerian, lembaga negara, pemerintah daerah, pengusaha, akademisi, organisasi petani, hingga lembaga adat itu dirancang sebagai ruang dialog multipihak.
Tak hanya seminar, forum juga menghadirkan pameran, temu bisnis, hingga lomba konten kreatif agar lebih inklusif bagi pengusaha besar, petani kecil, dan generasi muda.
Agenda seminar akan membahas sejumlah isu strategis, di antaranya kemandirian energi berbasis agroindustri sawit, implementasi Perpres Nomor 16/2025 tentang Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan, peran Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (
BPDP
) dalam peningkatan kapasitas SDM, program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), serta persoalan rantai pasok sawit termasuk dualisme pabrik kelapa sawit (PKS) tanpa kebun dan keberadaan loading ramp TBS.
Selain itu, forum juga menyoroti pemanfaatan dana CSR untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat di wilayah perkebunan sawit.
Baca Juga:
Mobil Terperosok, Pencuri Sawit Tinggalkan Hasil Curian di Lokasi
Sejumlah pejabat tinggi dijadwalkan hadir, termasuk Menteri Pertanian RI, pejabat Kemenko Perekonomian, Dirjen Industri Agro Kemenperin, Direktur Utama BPDP, Ketua Umum GAPKI, pejabat provinsi, kepala daerah, hingga akademisi dari Instiper Yogyakarta.
Kehadiran mereka menegaskan forum ini bukan sekadar seremonial, melainkan forum strategis yang diharapkan menghasilkan rekomendasi nyata.
Kelapa sawit disebut sebagai penyumbang devisa besar bagi negara, sekaligus jalan keluar petani kecil dari kemiskinan.
Namun, petani kerap terjebak dalam rantai pasok timpang, harga tandan buah segar (TBS) rendah, akses terbatas ke modal, serta kepemilikan lahan sempit.
Forum ini diharapkan mampu menghadirkan solusi konkret melalui kemitraan adil, implementasi sertifikasi berkelanjutan yang memberi nilai tambah, dan distribusi CSR yang tepat sasaran.
Baca Juga:
Gagal Beraksi, Dua Pria Pelaku Percobaan Pencurian Meteran PDAM di Pontianak Diringkus Polisi
Pontianak sebagai tuan rumah dipandang strategis karena menjadi pusat Kalimantan Barat, wilayah yang erat kaitannya dengan sejarah dan masa depan kelapa sawit.
Dari forum inilah publik menunggu jawaban: apakah harmonisasi antara rakyat, korporasi, dan pemerintah bisa benar-benar terwujud, atau sekadar menjadi catatan dalam laporan tahunan.
(fd)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.