Buka Sosialisasi KPID, Wali Kota Pontianak Ingatkan Bahaya Konten Tanpa Etika
Faktakalbar.id, PONTIANAK –
Wali
Kota Pontianak
, Edi Rusdi Kamtono, menyoroti tantangan besar dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban di era digital.
Ia menekankan bahwa penguatan literasi media menjadi kunci utama untuk meredam dampak negatif dari arus informasi media sosial yang kian tak terbendung.
Baca Juga:
IDC 2025: Kolaborasi Media Mainstream dan New Media Jadi Kunci Ekosistem Informasi Sehat
Pernyataan tersebut disampaikan Edi saat membuka kegiatan Sosialisasi Literasi Media yang diselenggarakan oleh
Komite Nasional Pemuda Indonesia
(KNPI) Kota Pontianak bekerja sama dengan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalbar.
Acara ini berlangsung di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Rabu (21/1/2026) malam.
Tantangan Konten Viral Tanpa Etika
Menurut Edi, media sosial menghadirkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan media penyiaran konvensional seperti televisi dan radio yang masih relatif terkendali regulasinya.
“Kalau televisi dan radio masih ada rambu-rambu dan etika penyiaran. Tapi di media sosial, kontennya sangat bebas, baik dari tampilan, bahasa, maupun isinya. Ini yang perlu disikapi dengan kecerdasan,” ujarnya.
Ia menyayangkan fenomena di mana banyak konten dibuat secara sepihak hanya demi mengejar viralitas tanpa mempertimbangkan dampak sosial.
Konten-konten provokatif, radikal, hingga kekerasan sering kali lolos dan mempengaruhi opini publik, terutama generasi muda.
“Kalau dulu sebuah berita selalu berimbang, ada klarifikasi dari berbagai pihak. Sekarang, kalau tidak viral, dianggap bukan konten. Ini berbahaya kalau tidak diimbangi literasi yang kuat,” tambahnya.
Perlindungan Korban dalam Informasi
Selain masalah viralitas, Wali Kota juga menyoroti etika penyebaran informasi terkait kasus-kasus sensitif, seperti kekerasan atau persoalan anak.
Ia mengingatkan bahwa penyajian konten harus mempertimbangkan dampak psikologis korban, bukan sekadar mengejar tontonan.
“Di sinilah pentingnya literasi media. Kita perlu tahu mana yang pantas dibagikan, mana yang sebaiknya ditahan. Tidak semua yang menarik untuk ditonton layak untuk disebarkan,” tegas Edi Rusdi Kamtono.
Peran Pemuda Sebagai Agen Literasi
Sementara itu, Ketua KNPI Pontianak, Zean Novrian, menegaskan bahwa pemuda memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga ruang publik yang sehat.
Baca Juga:
AMSI Kalimantan Barat Dilantik, Gubernur Kalbar Harap Peran Media Siber Tangkal Hoaks
Penyiaran dan penyebaran informasi saat ini bukan lagi sekadar persoalan teknis semata.
“Ini bukan hanya soal teknis penyiaran atau media, tetapi menyangkut beban moral dalam menyampaikan informasi yang benar, mendidik, dan tidak memecah belah,” ujar Zean.
Zean mengajak para pemuda untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif di tengah banjir informasi, melainkan harus mengambil peran strategis dalam menyaring konten.
“Pemuda harus berperan aktif. Jangan hanya menjadi penonton, tetapi menjadi agen literasi yang mampu menyaring informasi, berpikir kritis, dan tetap menjunjung nilai persatuan,” pungkasnya.
(*Red)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.