faktakalbar

Bukan Cuma Telat Makan, Ini Bedanya Sakit Maag Akibat Pola Makan vs Stres Pikiran

Penulis: Redaksi Monday, 12 January 2026 📖 2 menit
Bukan Cuma Telat Makan, Ini Bedanya Sakit Maag Akibat Pola Makan vs Stres Pikiran
Faktakalbar.id, LIFESTYLE — Pernahkah Anda merasa perut perih dan kembung padahal sudah makan teratur? Atau sebaliknya, Anda sangat sibuk hingga lupa makan seharian, lalu lambung terasa seperti diremas? Sakit maag (dispepsia) adalah keluhan "sejuta umat". Namun, banyak orang menganggap semua sakit maag disebabkan oleh satu hal: telat makan. Padahal, dunia medis mengenal pemicu lain yang tak kalah jahatnya, yaitu stres atau faktor pikiran. Baca Juga:  Nyeri Dada Dikira Maag? Apoteker RSUD Pontianak Warning Bahaya ‘Obat Warung’ Penutup Gejala Jantung Membedakan keduanya sangat penting agar penanganannya tepat sasaran. Minum obat penurun asam lambung mungkin ampuh untuk maag biasa, tapi belum tentu mempan jika akar masalahnya adalah beban pikiran. Yuk, simak perbedaannya. 1. Maag Akibat Telat Makan (Gastritis Fisik) Ini adalah jenis maag yang paling umum dipahami masyarakat. Penyebab utamanya adalah ketidakseimbangan fisik di dalam lambung. Lambung manusia memiliki jam biologis untuk memproduksi asam guna mencerna makanan. Ketika waktu makan tiba namun perut kosong, asam lambung (HCL) tetap diproduksi. Tanpa adanya makanan untuk digiling, asam ini justru mengiritasi dinding mukosa lambung yang memicu rasa sakit. Ciri khas utamanya adalah rasa nyeri atau perih yang tajam di ulu hati. Biasanya, gejala ini muncul saat perut kosong dan akan mereda setelah perut diisi makanan atau minum obat penetral asam lambung. Seringkali, kondisi ini juga disertai bunyi perut keroncongan yang cukup keras. 2. Maag Akibat Stres (Dispepsia Fungsional/Psikosomatis) Pernah mendengar istilah Brain-Gut Axis ? Ini adalah hubungan langsung antara otak dan sistem pencernaan. Lambung sering disebut sebagai "otak kedua" manusia karena sangat sensitif terhadap emosi. Saat Anda stres, cemas, atau panik, tubuh memproduksi hormon stres (kortisol) berlebih. Hormon ini merangsang sistem saraf untuk memproduksi asam lambung secara ekstrem atau membuat saraf lambung menjadi "hipersensitif". Akibatnya, lambung terasa sakit meski tidak ada luka dan meski Anda sudah makan. Gejalanya sedikit berbeda. Biasanya perut terasa penuh, begah, atau mual, bukan sekadar perih. Seringkali disertai gejala fisik lain akibat kecemasan, seperti jantung berdebar, keringat dingin, atau pusing. Uniknya, gejala ini bisa muncul kapan saja, bahkan setelah makan. Nyeri seringkali tidak membaik (atau malah memburuk) meski sudah makan, karena pemicu utamanya adalah kecemasan yang belum reda. Cara Mudah Membedakannya Untuk mempermudah identifikasi, perhatikan tiga indikator utama berikut ini: Pemicunya: Maag fisik dipicu oleh jadwal makan yang berantakan, sedangkan maag stres dipicu oleh beban pikiran, deadline pekerjaan, atau rasa cemas. Waktu Kambuh: Maag fisik biasanya kambuh saat perut kosong. Sebaliknya, maag stres bisa kambuh kapan saja saat emosi sedang tidak stabil. Sensasi Rasa: Maag fisik identik dengan rasa perih dan melilit. Sementara maag stres lebih dominan rasa begah, sesak, dan mual. Solusi Penanganan Jika Anda mengalami maag karena telat makan, kuncinya adalah kedisiplinan. Terapkan pola makan small frequent feeding (makan sedikit tapi sering) dan hindari makanan pedas atau asam saat perut kosong. Namun, jika Anda curiga mengalami maag karena stres, obat warung saja tidak cukup. Anda perlu mengelola stres dengan teknik pernapasan dalam ( deep breathing ), memastikan tidur cukup, dan rutin berolahraga untuk menetralkan hormon stres. Jangan buru-buru menuduh sambal atau kopi sebagai biang kerok sakit perut Anda. Cobalah duduk sejenak dan tanya pada diri sendiri: "Apakah hari ini saya telat makan, atau saya sedang banyak pikiran?" Mengetahui penyebabnya adalah separuh dari kesembuhan. Baca Juga:  Ini Informasi Penting Aturan Minum Obat Maag (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK