faktakalbar

Bukan Sekadar Mengajar: 5 Poin Mengguncang dari Buku 'Pendidikan Kaum Tertindas' Paulo Freire

Penulis: Redaksi Wednesday, 26 November 2025 📖 2 menit
Bukan Sekadar Mengajar: 5 Poin Mengguncang dari Buku 'Pendidikan Kaum Tertindas' Paulo Freire
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Bagi siapa pun yang berkecimpung di dunia pendidikan, aktivisme sosial, atau sekadar gemar membaca buku filsafat, nama Paulo Freire adalah legenda. Bukunya yang berjudul Pendidikan Kaum Tertindas (judul asli: Pedagogy of the Oppressed ) bukan sekadar buku teks, melainkan sebuah manifesto. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1968, buku ini mengkritik keras sistem pendidikan konvensional yang dianggap "mematikan" nalar kritis manusia. Freire percaya bahwa pendidikan seharusnya menjadi alat perlawanan untuk memanusiakan manusia, bukan alat penindasan. Baca Juga:  Buka Mata, Buka Hati: 5 Buku Wajib Baca Selama Kampanye 16 HAKTP Apa saja gagasan besarnya? Berikut adalah 5 poin penting dari buku Pendidikan Kaum Tertindas yang relevansinya tak lekang oleh waktu. 1. Kritik Terhadap "Sistem Bank" ( Banking Concept of Education ) Ini adalah konsep paling populer dari Freire. Ia mengkritik sistem pendidikan tradisional di mana guru dianggap sebagai orang yang "tahu segalanya" dan murid sebagai "wadah kosong" yang tidak tahu apa-apa. Dalam sistem ini, guru "mendepositokan" (menabung) informasi ke kepala murid, dan murid hanya bertugas menerima, mencatat, dan menghafal tanpa daya kritis. Freire menyebut ini sebagai alat penindasan karena mematikan kreativitas dan menjadikan siswa pasif, sehingga mudah dikendalikan oleh penguasa atau sistem. 2. Pendidikan Hadap Masalah ( Problem-Posing Education ) Sebagai lawan dari sistem bank, Freire menawarkan konsep "Pendidikan Hadap Masalah". Dalam model ini, guru dan murid adalah mitra. Tidak ada lagi hierarki kaku. Guru belajar dari murid, dan murid belajar dari guru lewat dialog. Pendidikan dikaitkan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Siswa diajak untuk melihat masalah di sekeliling mereka (kemiskinan, ketidakadilan, lingkungan) sebagai objek kajian untuk dipecahkan bersama, bukan sekadar menghafal teori yang jauh dari kenyataan. 3. Penyadaran Kritis ( Conscientization ) Tujuan utama pendidikan menurut Freire adalah Conscientization atau penyadaran kritis. Pendidikan bukan hanya soal bisa membaca kata (literasi), tetapi juga "membaca dunia" (literasi sosial-politik). Seseorang yang terdidik harus mampu menyadari kontradiksi sosial, politik, dan ekonomi yang menyebabkan penindasan. Mereka harus sadar mengapa mereka miskin, mengapa mereka tertindas, dan memahami struktur yang menciptakan kondisi tersebut. Tanpa kesadaran kritis, kaum tertindas akan cenderung menerima nasib atau bahkan mengagumi penindasnya. 4. Dialog sebagai Unsur Radikal Freire menekankan bahwa pendidikan yang membebaskan tidak mungkin terjadi tanpa dialog. Dialog yang sejati mensyaratkan rasa cinta kepada dunia dan sesama manusia, kerendahan hati, dan harapan. Pendidikan yang membebaskan tidak boleh bersifat satu arah (monolog/instruksi), melainkan dua arah. Jika guru memaksakan kehendaknya tanpa mendengar suara murid, itu adalah invasi budaya, bukan pendidikan. Dialog adalah jembatan yang menghubungkan manusia satu dengan lainnya untuk mengubah realitas. 5. Praxis: Refleksi dan Aksi Poin terakhir yang sangat krusial adalah konsep "Praxis". Freire menegaskan bahwa sekadar berteori atau berdiskusi di ruang kelas tidaklah cukup (itu hanya verbalisme). Sebaliknya, bertindak tanpa dasar teori atau refleksi hanyalah aktivisme buta. Manusia sejati harus melakukan keduanya: Refleksi (berpikir/belajar) dan Aksi (bertindak nyata). Setelah belajar dan menyadari ketidakadilan, seseorang harus turun tangan melakukan perubahan. Kemudian, hasil tindakan itu direfleksikan kembali untuk tindakan selanjutnya yang lebih baik. Inilah siklus praxis. Buku Pendidikan Kaum Tertindas mengajarkan kita bahwa ruang kelas adalah ruang politis. Pendidikan tidak pernah netral; ia bisa digunakan untuk menumpulkan pikiran atau untuk membebaskan jiwa. Membaca gagasan Paulo Freire mengajak kita merenung kembali: Apakah kita sedang mendidik manusia yang merdeka, atau sekadar mencetak robot-robot penurut? Baca Juga:  Temukan Ketenangan Lewat 5 Rekomendasi Buku Terbaik untuk Sore Hari (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK