faktakalbar

Bukan Sekadar Seremoni Musiman, Mahasiswa Ingatkan Perjuangan Kesetaraan Perempuan Belum Usai

Penulis: Redaksi Friday, 24 April 2026 📖 2 menit
Bukan Sekadar Seremoni Musiman, Mahasiswa Ingatkan Perjuangan Kesetaraan Perempuan Belum Usai
Faktakalbar.id, PONTIANAK – Gaung seremoni pahlawan emansipasi mungkin telah berlalu seiring bergantinya lembaran kalender. Namun, substansi dari perjuangan menuntut kesetaraan hak perempuan di berbagai sektor kehidupan tak boleh ikut meredup. Isu ketimpangan sosial, diskriminasi , hingga pembatasan ruang gerak masih menjadi realita pahit yang membuktikan bahwa jalan menuju keadilan gender belumlah usai. Menyikapi fenomena tersebut, aktivis mahasiswa, Indah Allawiyah, menyoroti pentingnya merawat nalar kritis terhadap kondisi sosial yang masih membelenggu perempuan. Baca Juga:  Aturan Setara Gender Sudah Lengkap, Implementasi Hukum Perempuan Dinilai Masih Tersandung Kultur Ditemui pada Rabu (22/4), ia merenungkan kembali bagaimana fondasi emansipasi dibangun di atas perlawanan terhadap sistem yang menindas. “Kita sama-sama tahu posisi Kartini saat itu sebagai perempuan tentu sangat terbatas. Namun melalui pemikirannya, ia berani melawan ketimpangan sosial, belum lagi dalam hal pendidikan dan posisi perempuan,” ujarnya mengingatkan kembali esensi dari pendobrakan budaya patriarki di masa lalu. Indah menegaskan bahwa generasi masa kini, yang perlahan mulai bisa mengecap kebebasan berpendidikan dan berkarir, tidak selayaknya terbuai oleh pencapaian semu. Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak perempuan yang termarginalkan akibat status sosial dan ekonomi. “Kita saat ini yang telah menikmati perjuangan Kartini tentu tidak boleh terlena. Karena bicara perjuangan Kartini tidak akan pernah selesai jika masih ada ketimpangan, pendiskriminasian, dan ketidakadilan antar lapisan masyarakat,” tambahnya secara tegas. Lebih jauh, ia memaparkan bahwa tanggung jawab mengentaskan ketidakadilan ini salah satunya berada di pundak mahasiswa. Sebagai agen perubahan ( agent of change ), pergerakan mahasiswa tidak boleh pragmatis. Diperlukan napas panjang dan keteguhan prinsip untuk mendobrak sistem yang diskriminatif. “Sebagai mahasiswa, kita perlu ingat bahwa tidak ada perubahan yang langsung instan. Sebagai kontrol sosial, kita memerlukan keberanian moral yang konsisten untuk terus menyuarakan kebenaran,” urainya. Pada akhirnya, gerakan menuntut kesetaraan ini bukanlah agenda sesaat. Keberanian menyuarakan hak-hak yang terampas hari ini adalah warisan paling berharga untuk membentuk peradaban yang lebih adil bagi perempuan di masa mendatang. “Melalui itulah nantinya kita akan mewariskan keberanian untuk generasi selanjutnya dalam melawan ketidakadilan. Karena bicara emansipasi, berarti kita juga bicara tentang penindasan,” pungkas Indah. Kesetaraan bukanlah hadiah yang turun dari langit, melainkan hak asasi yang harus terus direbut dan dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari, melampaui sekadar perayaan tanggal merah di kalender. Baca Juga:  Membangun Kekuatan di Tengah Krisis Iklim, Gemawan Rumuskan Strategi Adaptasi yang Responsif Gender (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK