faktakalbar

Bye-Bye Hiruk Pikuk! Ini 5 Alasan Gen Z Lebih Bahagia Tinggal Jauh dari Pusat Kota

Penulis: Redaksi Thursday, 20 November 2025 📖 3 menit
Bye-Bye Hiruk Pikuk! Ini 5 Alasan Gen Z Lebih Bahagia Tinggal Jauh dari Pusat Kota
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Dulu, tinggal di pusat kota dengan akses mudah ke mal dan perkantoran adalah impian semua orang. Namun, bagi Generasi Z, definisi "hunian idaman" mulai bergeser. Di tengah era digital dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, banyak anak muda kini justru melirik kawasan pinggiran atau suburban sebagai tempat menetap. Bukan sekadar karena harga properti kota yang makin "menggila", keputusan ini ternyata didasari oleh perubahan gaya hidup. Baca Juga:  Mapan Dulu, Menikah Kemudian: Mengapa Stabilitas Finansial Jadi Harga Mati Bagi Gen Z? Gen Z tidak lagi memuja hustle culture yang melelahkan; mereka lebih mengutamakan keseimbangan hidup ( work-life balance ) dan ketenangan. Kenapa menjauh dari keramaian kota justru bikin Gen Z lebih happy ? Berikut 5 alasannya: 1. Mendapatkan Rumah Luas dan Aesthetic dengan Harga Masuk Akal Realitasnya, harga apartemen sempit di pusat kota sering kali setara dengan rumah tapak yang luas di pinggiran. Bagi Gen Z yang sangat visual dan peduli estetika, memiliki rumah yang bisa didekorasi ala Pinterest atau memiliki halaman untuk bersantai jauh lebih memuaskan daripada tinggal di kotak beton tengah kota. Di pinggiran, impian memiliki walk-in closet , dapur yang luas, atau ruang tamu yang instagramable lebih mungkin terwujud tanpa harus terlilit hutang KPR yang mencekik leher. 2. Mendukung Gaya Hidup Slow Living dan Anti Burnout Suara klakson, macet, dan polusi udara adalah pemicu stres harian yang nyata. Tinggal jauh dari pusat kota menawarkan suasana yang lebih tenang dan ritme hidup yang lebih lambat ( slow living ). Bagi Gen Z yang rentan mengalami burnout , pulang ke rumah yang dikelilingi pepohonan atau lingkungan yang sepi adalah bentuk healing terbaik setiap harinya. Kualitas tidur meningkat, dan bangun pagi terasa lebih segar tanpa deru mesin kendaraan yang bising. 3. Fleksibilitas WFH dan Remote Working Pandemi mengubah segalanya. Dengan semakin banyaknya perusahaan yang menerapkan sistem kerja remote atau hybrid , lokasi fisik kantor bukan lagi prioritas utama. Bagi Gen Z yang bekerja sebagai digital nomad atau freelancer , rumah adalah kantor mereka. Mereka tidak perlu membuang waktu 2-3 jam sehari untuk tua di jalan akibat macet. Waktu tersebut bisa dialihkan untuk olahraga, memasak, atau istirahat, sehingga produktivitas justru meningkat meski tinggal jauh dari gedung perkantoran. 4. Ruang Lebih untuk Menyalurkan Hobi Gen Z dikenal memiliki hobi yang spesifik dan beragam, mulai dari mengoleksi tanaman hias, gaming , melukis, hingga memelihara hewan ( anabul ). Rumah di pusat kota sering kali tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengakomodasi hal ini. Sebaliknya, rumah di pinggiran biasanya memiliki lahan sisa yang bisa disulap menjadi studio kreatif, ruang gaming khusus, atau taman bermain untuk kucing dan anjing kesayangan. Kebebasan berekspresi di ruang pribadi inilah yang membuat hidup terasa lebih bermakna. 5. Komunitas yang Lebih Hangat dan Tidak Individualis Tinggal di apartemen atau perumahan padat pusat kota sering kali membuat penghuninya menjadi individualis bahkan tidak kenal tetangga sebelah pintu. Di kawasan penyangga atau pinggiran kota, suasana kekeluargaan biasanya masih terasa lebih kental. Interaksi sosial yang santai dengan tetangga, lingkungan yang ramah anak, dan udara yang lebih bersih menciptakan rasa memiliki ( sense of belonging ) yang sulit didapatkan di hutan beton metropolitan. Kesimpulan Memilih rumah jauh dari pusat kota bukan berarti "terbuang", melainkan sebuah langkah cerdas untuk memprioritaskan kualitas hidup. Bagi Gen Z, kemewahan bukan lagi soal seberapa dekat jarak rumah ke mal, tapi seberapa tenang perasaan saat merebahkan badan di kasur setelah seharian beraktivitas. Baca Juga:  Soroti Kesehatan Mental Gen Z, Menkes Budi: Jangan Berambisi di Luar Kemampuan (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK