faktakalbar

Cerita Warga Paris II Dikepung Asap: Bernapas di Rumah Sendiri Pun Susah, Padamkan Api Pakai Lumpur

Penulis: Redaksi Wednesday, 28 January 2026 📖 2 menit
Cerita Warga Paris II Dikepung Asap: Bernapas di Rumah Sendiri Pun Susah, Padamkan Api Pakai Lumpur
Faktakalbar.id, PONTIANAK – Bagi Salimah , rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung paling aman, kini tak lagi mampu menahan serbuan asap. Warga yang tinggal di Gang Cahaya Baru, kawasan Paris Haji Husein (Paris II) ini mengaku, beberapa hari terakhir udara di dalam rumahnya terasa menyesakkan. Salimah tinggal bersama empat anggota keluarga lainnya. Di tengah kepungan kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) , ia tidak tahu persis dari mana sumber api berasal. Baca Juga:  Demi Kesehatan Bayi 4 Bulan, Warga Paris 2 Terpaksa Mengungsi Hindari Kepungan Asap Yang ia tahu, asap pekat itu tiba-tiba sudah memenuhi ruang gerak mereka. "Berapa hari ini sih, kita di dalam rumah aja susah mau bernapas. Susahan kita pun nggak tahu bakaran ini dari mana," tutur Salimah saat ditemui di kediamannya, Selasa (26/1/2026). Kekhawatiran Salimah memuncak ketika melihat kondisi anak bungsunya yang baru berusia dua tahun. Sejak malam Senin (25/1/2026), balita tersebut terus-menerus batuk hingga sulit tidur. "Nih, batuk nih, lagi batuk nih. Baru ini nih, malam tadi nggak tidur-tidur batuk lalu. Inilah gara-gara musim (Karhutla) ini nih," ungkapnya sambil menunjuk sang anak. Kondisi yang menyesakkan membuat terbersit keinginan di benaknya untuk pergi sementara waktu dari rumah yang telah ia tempati sejak tahun 2002 tersebut. Namun, keterbatasan pilihan memaksanya untuk bertahan. "Pindah ke mana? Kalau bisa sih kami ngungsi," ucapnya lirih. Bagi warga setempat, Karhutla seolah menjadi tamu tak diundang yang datang setiap tahun. "Setiap tahun memang ada," tambahnya. Di tengah keterbatasan, Salimah dan warga sekitar tidak tinggal diam. Ia menceritakan bagaimana warga bahu-membahu memadamkan api yang merembet hingga ke belakang permukiman. Dengan peralatan seadanya, mereka mengangkut air dan lumpur dari sumber air yang tersisa. "Kemarin di sini nih, kita yang angkut air kan. Sama kawan-kawan yang angkut air dari rumah warga juga. Angkutlah lumpur pun kami anukan (pakai), siramkan di belakang rumah aja," ceritanya. Meski musim kemarau membuat debit air menipis, warga memanfaatkan sumur kecil yang ada di belakang rumah untuk bertahan melawan api. "Di belakang rumah warga itu ada sumur kecil, biarpun sedikit tetap ada airnya," pungkas Salimah menutup cerita perjuangannya. Baca Juga:  Prakiraan Cuaca Kalimantan Barat: BMKG Ingatkan Potensi Karhutla Seminggu ke Depan (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK