Defisit APBN 2025 Bengkak Nyaris Sentuh Batas Merah, Airlangga Dalihkan Kondisi Negara Lain
Faktakalbar.id, NASIONAL -
Kesehatan fiskal Indonesia berada di titik rawan.
Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2025 mencatatkan defisit yang membengkak hingga Rp 695,1 triliun.
Angka ini setara dengan 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB), nyaris menyentuh batas "haram" atau batas aman konstitusi sebesar 3%.
Meskipun ruang fiskal semakin menyempit dan mendekati ambang batas undang-undang, pemerintah merespons situasi ini dengan narasi
defensif
.
Baca Juga:
Rupiah Anjlok, Dolar AS Diprediksi Tembus Rp16.900
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, meminta publik untuk tidak mengkhawatirkan angka tersebut dengan alasan pembanding kondisi negara lain.
Dalih Komparasi Global
Dalam acara Business Outlook Indonesia Business Council (IBC) di Jakarta, Rabu (14/1/2026), Airlangga menepis kekhawatiran pasar mengenai postur anggaran yang kian ketat.
Ia berargumen bahwa banyak negara lain memiliki rasio
defisit
yang jauh lebih buruk dibandingkan Indonesia.
"Jangan khawatir tentang defisit anggaran 3%. Negara lain dua kali lipat dan mereka tidak khawatir. Jadi mengapa kita harus khawatir tentang hal itu?" ujar Airlangga.
Pernyataan Airlangga ini mengabaikan konteks bahwa Indonesia memiliki disiplin fiskal yang diatur ketat oleh undang-undang pasca-krisis 1998, di mana defisit tidak boleh melebihi 3%, kecuali dalam kondisi darurat tertentu (seperti saat pandemi).
Menyentuh angka 2,92% mengindikasikan bahwa pemerintah hampir kehabisan ruang manuver anggaran.
Ketimpangan Pendapatan dan Belanja
Membengkaknya defisit ini dipicu oleh realisasi pendapatan negara yang tidak mencapai target. Sepanjang 2025, pendapatan negara hanya terkumpul Rp 2.756,3 triliun atau 91,7% dari target APBN.
Di sisi lain, belanja negara justru melaju kencang mencapai Rp 3.451,4 triliun atau 95,3% dari pagu anggaran. Ketimpangan (gap) antara pendapatan yang seret dan belanja yang agresif inilah yang memaksa pelebaran defisit hingga nyaris menyentuh plafon.
Klaim Optimisme di Tengah Risiko
Kendati data menunjukkan "lampu kuning" fiskal, Airlangga bersikeras bahwa pemerintah telah memitigasi risiko ekonomi, baik dari fluktuasi nilai tukar maupun pasar modal.
Ia menekankan bahwa prioritas pemerintah saat ini adalah mengejar pertumbuhan ekonomi untuk penciptaan lapangan kerja, meskipun harus membahayakan postur anggaran.
"Defisitnya masih aman, masih di bawah 3%. Yang paling penting kita mengejar pertumbuhan karena pertumbuhan kaitannya langsung terhadap
employment
," klaimnya.
Sikap pemerintah yang menormalisasi defisit di angka kritis ini menjadi sorotan, mengingat ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi di tahun 2026.
Baca Juga:
Target Meleset, Menkeu Purbaya Akui Ekonomi Kuartal IV 2025 Hanya Tumbuh 5,45% di Tengah Tekanan Rupiah
(Mira)
Tag:
#Airlangga Hartarto
#APBN 2025
#Defisit Anggaran
#Ekonomi Makro
#Risiko Fiskal
#Kementerian Perekonomian
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.