faktakalbar

Desa Sade dan Mandalika: Menjaga Akar, Meraih Dunia

Penulis: Redaksi Monday, 22 September 2025 📖 3 menit
Desa Sade dan Mandalika: Menjaga Akar, Meraih Dunia
Faktakalbar.id, OPINI - Setiap seminar besar biasanya diakhiri dengan kegiatan excursion . Setelah rangkaian padat Seminar Nasional MAPEKI dan Seminar Internasional IWoRS 2025 di Mataram, peserta diajak menyusuri dua destinasi yang kontras sekaligus saling melengkapi: Desa Sade, kampung tradisional suku Sasak, dan Sirkuit Mandalika, arena balap motor kelas dunia. Dari keduanya, kita menemukan pelajaran berharga tentang arah Indonesia: bagaimana menjaga akar budaya sekaligus meraih panggung global. Desa Sade: Menyelami Akar Budaya Sasak Di Desa Sade , waktu seakan berjalan lebih lambat. Rumah-rumah beratap alang-alang berdiri rapat, dindingnya dari anyaman bambu, dan lantainya tanah liat yang setiap hari dipoles dengan kotoran kerbau simbol kesederhanaan sekaligus kearifan ekologis. Warga Sade masih setia menenun dengan alat tradisional, menyanyikan lagu Sasak, serta menjaga cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Bagi banyak peserta seminar, kunjungan ke Sade adalah pengalaman otentik. Baca Juga:   YLBHI Kecewa Putusan MK Tolak Gugatan UU TNI, Singgung Dissenting Opinion Di balik gempuran pariwisata modern, desa ini bertahan dengan identitasnya. Ia menjadi aset berharga bagi NTB dan Indonesia: bukti bahwa tradisi bisa hidup berdampingan dengan zaman. Di tengah era digital, Sade mengajarkan makna “slow living” hidup selaras dengan alam, menghargai proses, dan menjaga harmoni komunitas. Kekuatan Sade terletak pada konsistensi. Ia tidak berpura-pura modern untuk menarik turis, justru daya tariknya lahir dari kejujuran budaya. Hal ini mengingatkan kita bahwa keunikan lokal adalah modal global. Di saat banyak kota besar berlomba membangun mal dan gedung pencakar langit, Sade membuktikan bahwa rumah tradisional pun bisa menjadi ikon dunia. Mandalika: Lintasan ke Panggung Global Kontras dengan suasana desa, hanya sekitar setengah jam perjalanan, berdiri megah Pertamina Mandalika International Street Circuit. Sirkuit ini adalah simbol modernitas Indonesia: berkelas dunia, dilengkapi fasilitas standar internasional, dan pernah menjadi sorotan global saat menggelar MotoGP serta World Superbike . Baca Juga:  KPK Bidik Pejabat KLHK dalam Kasus Suap Pengelolaan Hutan Mandalika membawa Lombok ke peta dunia. Ia bukan sekadar arena balap, tetapi magnet ekonomi yang menggerakkan hotel, restoran, UMKM, hingga transportasi. Setiap kali mesin motor berderu di tikungan sirkuit, jutaan pasang mata di seluruh dunia menoleh ke Indonesia. Ini adalah diplomasi lunak melalui olahraga: cara baru memperkenalkan bangsa tanpa pidato panjang di forum internasional. Namun, di balik gemerlapnya, Mandalika juga menyimpan tantangan. Sengketa lahan, kualitas aspal, hingga dampak lingkungan menjadi catatan kritis. Tetapi justru di situlah nilai reflektifnya: kemajuan modern harus dikelola dengan bijak, transparan, dan inklusif. Jika tidak, pembangunan hanya meninggalkan jejak beton, bukan kesejahteraan. Dua Sisi, Satu Pesan Mengunjungi Sade dan Mandalika di hari yang sama adalah pengalaman simbolis. Desa Sade mewakili akar budaya; Mandalika mewakili sayap modernitas. Dua-duanya penting, dua-duanya tidak boleh diabaikan. Pesannya jelas: Indonesia tidak perlu memilih antara tradisi atau modernitas. Kita bisa merawat keduanya. Justru kekuatan bangsa ini ada pada kemampuannya meramu yang lama dan yang baru, yang lokal dan yang global. Baca Juga:  ANAK MUDA, LAPANGAN KERJA DAN KETERBATASAN AKSES Bayangkan jika promosi Mandalika tidak hanya menonjolkan kecepatan motor, tetapi juga keindahan tenun Sade. Atau jika wisatawan MotoGP diajak mampir ke rumah-rumah adat, mencicipi nasi puyung, dan menyaksikan tarian Sasak. Sinergi seperti ini akan melipatgandakan nilai tambah: ekonomi bergerak, budaya lestari. Himbauan untuk Indonesia Dari excursion ini, ada beberapa pesan penting yang patut dibawa pulang ke kampus masing-masing: Budaya adalah identitas: Indonesia punya ratusan desa adat seperti Sade. Mereka harus dijaga, bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai laboratorium hidup tentang kearifan lokal. Inovasi adalah kunci daya saing: Sirkuit Mandalika menunjukkan bahwa Indonesia bisa bersaing dengan negara maju. Infrastruktur global harus terus dibangun, tidak hanya di Jawa, tapi merata di seluruh nusantara. Sinergi adalah jalan tengah: Jangan biarkan tradisi dan modernitas bertabrakan. Jadikan keduanya saling menguatkan, karena pembangunan yang berkelanjutan lahir dari keseimbangan. Partisipasi masyarakat adalah syarat: Baik di Sade maupun Mandalika, keberhasilan hanya terjadi jika warga lokal dilibatkan. Tanpa mereka, pembangunan kehilangan jiwa. Indonesia perlu percaya diri:  Dengan segala potensi alam, budaya, dan kreativitas, bangsa ini tidak hanya bisa menjadi penonton, tetapi juga aktor utama di panggung dunia. Baca Juga:  MASIHKAH KITA LAPAR? Penutup: Membawa Pulang Inspirasi Excursion ini bukan sekadar jalan-jalan. Ia adalah pelajaran hidup. Dari Desa Sade, kita belajar tentang keteguhan menjaga identitas. Dari Mandalika, kita belajar tentang keberanian tampil di level dunia. Keduanya adalah cermin masa depan Indonesia: sebuah bangsa yang kuat karena berdiri di atas fondasi tradisi yang kokoh, sekaligus berani terbang dengan sayap modernitas. Maka, pulang dari Lombok, marilah kita bawa semangat ini ke kampus dan daerah masing-masing. Jaga akar, kibarkan sayap. Hanya dengan begitu, Indonesia bisa tumbuh, lestari, dan disegani dunia. Oleh: Gusti Hardiansyah Guru Besar Manajemen Hutan & Perubahan Iklim UNTAN, Ketua ICMI ORWIL KALBAR *Disclaimer: Opini ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan kebijakan atau sikap redaksi.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK