faktakalbar

Di Bawah Mimbar Masjid: Belajar Jujur kepada Iman dari Surah Yunus (13–22)

Penulis: Redaksi Sunday, 01 February 2026 📖 3 menit
Di Bawah Mimbar Masjid: Belajar Jujur kepada Iman dari Surah Yunus (13–22)
OPINI - Di bawah mimbar masjid, selepas jamaah merapatkan saf dan doa-doa penutup dilantunkan, suasana menjadi hening dengan cara yang khas. Bukan hening yang kosong, tetapi hening yang mengajak merenung. Pada momen seperti ini, ayat-ayat Al-Qur’an sering terasa lebih dekat—tidak sebagai teks yang jauh, melainkan sebagai cermin yang memantulkan wajah kita sendiri. Surah Yunus ayat 13–22 termasuk bagian yang bekerja seperti itu: tenang dibaca, namun mengguncang kesadaran. Baca Juga:  Refleksi Isra Mi’raj, Kapolres Kayong Utara: Menghadap Tuhan Harus Lebih Siap dari Pimpinan Allah membuka rentetan ayat ini dengan pengingat sejarah. Banyak umat terdahulu dibinasakan bukan karena kurang bukti, melainkan karena kezaliman dan penolakan terhadap kebenaran. “Dan sungguh, Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu ketika mereka berbuat zalim…” (QS. Yunus: 13). Pesannya sederhana tetapi keras: sejarah bukan hiasan, melainkan peringatan. Kita yang datang kemudian dijadikan khalifah —pengganti—untuk diuji, apakah belajar atau justru mengulang. Di bawah mimbar, ayat ini terasa seperti teguran personal. Kita hidup di zaman berlimpah data dan pengetahuan. Namun, kelimpahan itu sering melahirkan kesombongan baru: merasa cukup pintar untuk menawar kebenaran. Inilah yang disorot ayat 15–17, ketika sebagian orang meminta agar wahyu “diubah” atau “diganti” sesuai selera. Nabi ditegaskan tidak berhak mengutak-atik wahyu; tugasnya hanya menyampaikan. Di sini Al-Qur’an mengajarkan etika intelektual : kebenaran tidak tunduk pada preferensi, popularitas, atau tekanan sosial. Argumen yang digunakan pun sangat rasional. Allah mengingatkan bahwa Nabi hidup lama di tengah kaumnya sebelum turunnya Al-Qur’an—tanpa reputasi penyair atau perancang ide besar. “Sungguh, aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelum (Al-Qur’an) ini…” (QS. Yunus: 16). Seolah Allah berkata: gunakan akal sehatmu. Ini bukan karya spontan manusia; ini petunjuk yang melampaui kemampuan individual. Ayat 17 lalu mengeraskan nada peringatan: kezaliman terbesar adalah mengada-adakan kebohongan atas nama Allah. Di bawah mimbar, pesan ini terasa relevan di tengah maraknya klaim kebenaran instan, fatwa tanpa ilmu, dan agama yang direduksi menjadi alat pembenar kepentingan. Keberhasilan duniawi—popularitas, pengaruh, atau keuntungan—tidak pernah bisa menjadi legitimasi kebatilan teologis. Masuk ke ayat 18–19, Al-Qur’an menyentil kecenderungan manusia mencari “perantara” semu: sesuatu yang diyakini bisa memberi manfaat atau mudarat selain Allah. Padahal, pada asalnya manusia satu umat; perpecahan lahir bukan karena kebenaran yang kabur, melainkan karena hawa nafsu dan kepentingan. Di bawah mimbar, ini terasa seperti refleksi sosial: betapa sering konflik dibungkus dalil, padahal akarnya adalah ego. Ayat 20 kemudian menyoroti tuntutan mukjizat. Banyak orang ingin beriman jika disuguhi keajaiban sesuai pesanan. Padahal, iman sejati tidak menunggu sensasi. Ia tumbuh dari kesediaan tunduk pada petunjuk, bahkan ketika tanda-tanda itu hadir dalam bentuk yang sunyi: ayat yang dibaca, akal yang jujur, dan hati yang bersih. Lalu datang ayat 21 dengan pola yang sangat manusiawi: ketika diberi rahmat setelah kesulitan, sebagian manusia kembali berbuat makar terhadap ayat-ayat Allah. Nikmat tidak otomatis melahirkan syukur; sering justru melahirkan lupa. Ini mengantar kita pada metafora paling kuat dalam bagian ini—ayat 22—tentang manusia di tengah badai laut. Allah berfirman: Huwalladzī yusayyirukum fil-barri wal-baḥr. Ḥattā idzā kuntum fil-fulki wa jarayna bihim birīḥin ṭayyibah wa fariḥū bihā, jā’at-hā rīḥun ‘āṣifun wa jā’ahumul-mawju min kulli makānin wa ẓannū annahum uḥīṭa bihim, da‘awullāha mukhliṣīna lahud-dīna… Terjemahan Indonesia: "Dialah yang menjalankan kamu di darat dan di laut. Hingga apabila kamu berada di dalam kapal, dan kapal itu berlayar dengan angin yang baik dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai dan ombak dari segala penjuru, dan mereka menyangka bahwa mereka telah dikepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…" Di bawah mimbar, ayat ini terasa sangat dekat. Saat badai datang—penyakit, krisis, kehilangan—doa menjadi jujur dan tauhid menjadi murni. Namun ketika laut kembali tenang, banyak yang lupa. Inilah ironi iman manusia: ikhlas di saat sempit, lalai di saat lapang. Surah Yunus ayat 13–22, jika dibaca perlahan di bawah mimbar masjid, mengajarkan satu hal besar: kejujuran iman. Jujur belajar dari sejarah, jujur pada akal sehat, jujur memurnikan tauhid , dan jujur menjaga syukur. Iman tidak diukur dari seberapa keras kita berdoa saat badai, tetapi seberapa konsisten kita taat ketika angin kembali bersahabat. Di situlah Al-Qur’an bekerja—mendidik tanpa teriak, menegur tanpa mencela, dan mengajak pulang ke pusat diri: kesadaran akan Allah. Baca Juga:  Penjelasan Ahli Fisika Soal Peristiwa Isra Mikraj (Gusti Hardiansyah)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK