Eco Teologi: Menjawab Krisis Iklim Melalui Pendekatan Spiritual dan Lingkungan
Faktakalbar.id, PONTIANAK
– Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melukiskan gambaran suram kondisi kebencanaan di Indonesia sepanjang tahun 2020, di mana terjadi 2.925 bencana alam.
Dari jumlah tersebut, bencana
hidrometeorologi
seperti banjir, tanah longsor, dan puting beliung mendominasi secara absolut, dengan banjir menjadi bencana alam paling mematikan pada periode Januari hingga Agustus 2020.
Fakta mengkhawatirkan inilah yang menjadi salah satu pilar utama di balik seruan untuk menerapkan pendekatan eco teologi, sebuah jawaban spiritual dan lingkungan atas krisis iklim yang semakin nyata.
Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi yang diusung Festival S.H.E (
Sustainability, Harmony, and Equality
) bertema “Dari Eco Teologi Menuju Keadilan Iklim”, di Ibis Hotel Pontianak Sabtu, (11/10/2025) hingga Minggu, (12/10/2025).
Baca Juga:
Proyek Drainase Ketapang, Atasi Banjir dengan Pembongkaran Jembatan
Hening Parlan dari Eco Bhinneka Muhammadiyah menyatakan bahwa urgensi pendekatan ekologis berakar dari krisis multidimensional yang terjadi sejak 2020.
Menurutnya, pandemi bukan sekadar krisis kesehatan, melainkan simptom dari kerusakan alam yang fatal.
“Virus kesehatan yang lahir di masa pandemi disebabkan oleh kerusakan lingkungan yang sangat berat, sehingga menyebabkan banyak virus dan penyakit bermutasi menjadi sangat mengerikan. Ini alasan utama mengapa pendekatan ini menjadi relevan,” ungkap Hening.
Fakta di lapangan semakin memperkuat argumen tersebut.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2020 mencatat lebih dari 1.900 kejadian bencana, dengan 99% di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi.
“Ini adalah bencana yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan dan dampak perubahan iklim, seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Bukan gempa atau tsunami,” tegasnya.
Lebih dari sekadar data ilmiah, pendekatan ini juga menyentuh aspek spiritual dan moral.
Dengan lebih dari 92% penduduk Indonesia mengaku beragama, Hening menyoroti adanya kekosongan peran komunitas beriman dalam aksi penyelamatan lingkungan.
Menurutnya, riset dan pertemuan internasional seperti COP (Conference of the Parties) belum cukup untuk menghentikan laju perubahan iklim karena akar masalahnya adalah keserakahan manusia. Di sinilah peran kelompok beragama menjadi
krusial
.
“Siapa yang seharusnya mengobati dan mengantisipasi keserakahan ini? Harusnya kelompok orang beragama,” ujarnya.
Seruan ini akhirnya mendapat pengakuan global pada COP27 di Mesir tahun 2022, di mana untuk pertama kalinya dunia mengakui bahwa kontribusi umat beragama adalah suatu keharusan dalam mengatasi krisis iklim.
Festival S.H.E menjadi salah satu platform untuk menerjemahkan kesadaran global tersebut ke dalam aksi nyata di tingkat lokal, mendorong harmoni antara spiritualitas dan kelestarian bumi.
Baca Juga:
Angin Kencang dan Banjir Landa Sejumlah Wilayah, BNPB Rilis Update Penanganan Bencana Terkini
(*Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.