Ekonomi Kerakyatan dari Desa: Arsitektur Baru Pangan Indonesia
OPINI
- Pada penutupan Silaknas dan
Milad ke-35
ICMI di Bali, Menteri Koordinator yang juga mantan Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan pidato yang menggugah sekaligus menggelitik kesadaran kita tentang arah baru pembangunan nasional.
Ia tidak berbicara dalam bahasa teknis, tetapi dengan logika sederhana yang selama ini sering luput dari kerangka kebijakan: bahwa kedaulatan pangan, keadilan ekonomi, dan masa depan bangsa sesungguhnya bertumpu pada desa.
Di hadapan tokoh nasional seperti Ketua
DPD RI
Sultan B. Najamudin, Prof. Jimly Asshiddiqie, Prof. Ilham Habibie, dan Ketua Umum ICMI Prof. Arief Satria, Zulhas memaparkan gagasan yang melampaui sekadar laporan kerja.
Ia seperti sedang merumuskan kembali fondasi ekonomi Indonesia sebuah arsitektur yang menempatkan rakyat, terutama petani, nelayan, dan peternak, sebagai subjek pembangunan.
Kedaulatan Pangan: Dari Ketidakmungkinan ke Kenyataan
Zulhas membuka sambutannya dengan refleksi yang jujur:
“Banyak yang mengatakan tidak mungkin memberi makan 82,9 juta orang. Tidak mungkin suasembada. Tapi kita buktikan.”
Fakta yang ia hadirkan memperkuat klaim tersebut. Tahun lalu Indonesia mengimpor 4,5 juta ton beras. Tahun ini impor beras turun menjadi nol. Produksi naik dari 30 juta ton menjadi 34,7 juta ton sehingga menghasilkan surplus 4,7 juta ton. Jagung pun meningkat hampir 10 persen. Prestasi ini tidak terjadi secara kebetulan. Ia lahir dari keberanian politik memperbaiki irigasi, menjaga harga gabah, dan memperlakukan petani sebagai aset strategis.
Di sinilah poin besar Zulhas:
kedaulatan pangan bukan isu teknis, melainkan keputusan politik.
Ia menjadi dasar bagi roda pembangunan berikutnya, yakni penguatan desa sebagai pusat produksi.
Baca Juga:
Sutarmidji: "Opini dengan Data Jawab Penilaian Negatif Tentang Perkebunan Sawit"
Koperasi Desa Merah Putih: Dari Desa Kita Bangkit
Salah satu gagasan paling inovatif dalam pidato Zulhas adalah pembentukan:
Koperasi Desa Merah Putih, dan
Koperasi Desa Telur Merah Putih
Kedua lembaga ini dirancang sebagai
“jantung ekonomi desa”
. Mereka akan menyerap semua produk rakyat: telur, jagung, gabah, ikan, dan komoditas lain. Sistem ini diperkuat oleh Kopjet, koperasi jejaring nasional yang berfungsi sebagai
off-taker
.
Struktur kerja sama itu sederhana tetapi revolusioner:
Desa memproduksi → Koperasi Merah Putih mengumpulkan → Kopjet menyerap → Kopjet bekerja sama dengan Bulog dan SPPG untuk distribusi nasional.
Dengan skema ini, desa tidak lagi berdiri sendirian menghadapi pasar. Mereka memiliki jaminan pembeli, harga stabil, dan akses distribusi. Zulhas menyampaikan pesan yang sangat fundamental:
“Ekonomi rakyat hanya tumbuh jika rantai pasok dipotong dan nilai dikembalikan ke desa.”
Memutus Rantai Pasok: Menumbangkan Kekuasaan Tengkulak
Selama puluhan tahun, para petani dan nelayan hidup dalam paradoks:
mereka menjual murah,
tetapi konsumen membayar mahal,
sementara keuntungan besar justru dinikmati para tengkulak.
Dengan desain baru ini, pemerintah berupaya membongkar struktur lama tersebut. Koperasi desa menjadi garda depan produksi;
Kopjet menjadi pengumpul dan penyalur; dan Bulog memastikan stabilitas harga.
Zulhas mengakui memotong rantai pasok tidak mudah, tetapi ia menegaskan
“Alhamdulillah, upaya memotong rantai pasok yang panjang sudah mulai berhasil. Tahun depan kita tuntaskan.”
Ini bukan hanya perbaikan teknis. Ini adalah perubahan struktur kekuasaan ekonomi.
Menuju Suasembada Protein: Pilar Kedua Ketahanan Bangsa
Setelah sukses mengamankan produksi beras dan jagung, pemerintah mengarahkan perhatian pada sumber protein. Tahun 2026 akan dibangun:
Tambak ikan modern,
500 sistem budidaya,
2.000 kampung nelayan,
Pabrik pakan di 20 provinsi, termasuk Kalimantan Barat.
Selama ini harga ayam dan telur sangat dipengaruhi dua produsen pakan besar. Dengan membangun pabrik pakan daerah, ketergantungan itu diputus. Desa dapat memproduksi protein secara mandiri.
Zulhas berkata:
“Kita bangsa besar. Tidak boleh tergantung pada satu atau dua pihak saja.”
Ini adalah pesan kedaulatan yang melampaui pangan. Ia menyentuh martabat nasional.
Ekonomi Kerakyatan: Perubahan Mindset yang Tidak Mudah
Zulhas tidak menutup mata terhadap tantangan. Ia mengakui:
Suasembada tidak mudah.
Swasembada protein lebih sulit.
Ekonomi kerakyatan paling sulit karena berkaitan dengan mindset.
Namun ia percaya Indonesia dapat melakukannya. Ia mengajak umat Islam dan ICMI khususnya:
“Tidak mungkin umat Islam maju kalau kita tidak menyambut kebijakan ini.”
Ia menyerukan agar semua pihak bergerak bersama: di pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan. Ekonomi kerakyatan memerlukan perubahan budaya kerja, bukan sekadar perubahan anggaran.
Menjawab Tuduhan: Banjir dan Penataan Ruang
Pidato Zulhas juga menyentuh isu sensitif bencana banjir di Sumatra yang sempat dikaitkan dengan kebijakan ruang dan perizinan. Zulhas membantah tudingan tersebut dengan argumentasi geografis:
Tesonello berada di Riau, dan Riau tidak mengalami banjir saat kejadian.
Ia menegaskan tidak ada izin yang ia keluarkan di Aceh, Sumatera Utara, atau Sumatera Barat. Ia juga meluruskan bahwa kerusakan Tesonello bukan akibat izin pemerintah, tetapi perambahan besar-besaran yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Zulhas kemudian memberikan penjelasan yang sangat penting terkait isu 1,6 juta hektare lahan yang ramai diberitakan:
“Itu bukan izin baru. Itu penataan sasar ruang, agar kampung tua, wilayah adat, dan permukiman lama memiliki kepastian hukum.”
Penjelasan ini penting agar publik tidak terjebak informasi yang menyesatkan.
Peran ICMI: Menyambut Zaman Perubahan
Menutup pidatonya, Zulhas memuji peran ICMI sebagai rumah ilmu dan etika kebangsaan. Ia menegaskan bahwa kebijakan ekonomi kerakyatan membutuhkan pemikiran, bimbingan, dan koreksi dari kalangan cendekiawan Muslim.
“Konsep pemikiran sangat diperlukan untuk menuju Indonesia yang kita cita-citakan Indonesia yang maju, adil, dan bermartabat.”
Itulah refleksi yang menjadi inti Silaknas 2025. Sebuah seruan agar ICMI tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi pusat penyemaian peradaban ilmu dan keadilan sosial.
Penutup: Masa Depan Indonesia Dimulai dari Desa
Pidato Zulhas di Silaknas ICMI 2025 menegaskan satu hal yang selalu kita lupakan dalam hiruk-pikuk politik nasional:
bahwa masa depan Indonesia tidak dibangun di gedung-gedung tinggi Jakarta, tetapi di tanah desa, di ladang petani, di tambak nelayan, di kandang peternak, dan pada koperasi kecil yang baru belajar percaya diri.
Di sanalah ekonomi kerakyatan menemukan napasnya.
Di sanalah Indonesia menemukan kembali jati dirinya.
Dan di sanalah, seperti dikatakan Zulhas, kita memulai sebuah peradaban baru—peradaban yang tumbuh dari desa, ditopang oleh rakyat, dan dipandu oleh cendekiawan.
Karena ekonomi kerakyatan bukan sekadar program, tetapi pilihan sejarah.
Dan sejarah bangsa ini, seperti selalu, dimulai dari desa.
Oleh:
Prof. Gusti Hardiansyah
Guru Besar Universitas Tanjungpura — Ketua ICMI Kalimantan Barat
Tag:
#Zulhas
#ICMI
#Gusti Hardiansyah
#Kedaulatan Pangan
#Swasembada Beras
#ekonomi kerakyatan dari desa
#koperasi desa merah putih zulhas
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.