faktakalbar

Menggelegar di Tepian Kapuas, Inilah 5 Fakta Menarik Meriam Karbit Pontianak

Penulis: Redaksi Saturday, 21 March 2026 📖 2 menit
Menggelegar di Tepian Kapuas, Inilah 5 Fakta Menarik Meriam Karbit Pontianak
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Setiap kali bulan suci Ramadhan mendekati puncaknya, getaran dentuman keras mulai terasa di sepanjang tepian Sungai Kapuas. Suara itu bukan berasal dari petasan biasa, melainkan dari Meriam Karbit, sebuah tradisi turun-temurun yang menjadi ikon tak tergantikan bagi masyarakat Kota Pontianak , Kalimantan Barat. Bagi warga setempat, meriam ini bukan sekadar alat pembuat suara bising, melainkan simbol semangat kebersamaan dan pelestarian budaya yang telah ada sejak berdirinya Kota Khatulistiwa. Berikut adalah beberapa fakta menarik mengenai meriam karbit Pontianak yang perlu Anda ketahui: Baca Juga:  Liberika di Malam Ramadhan dan Bayang-Bayang Perang Dunia 1. Sejarah Berdirinya Kota Pontianak Tradisi meriam karbit memiliki kaitan erat dengan sejarah berdirinya Kesultanan Kadriyah Pontianak pada tahun 1771. Konon, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintahkan pasukannya untuk menembakkan meriam guna mengusir hantu kuntilanak yang mengganggu pembangunan istana di tengah hutan belantara. Seiring berjalannya waktu, bunyi dentuman ini beralih fungsi menjadi penanda masuknya waktu berbuka puasa dan perayaan Hari Raya Idulfitri. 2. Ukuran yang Fantastis Berbeda dengan meriam kecil pada umumnya, meriam karbit Pontianak memiliki ukuran yang raksasa. Biasanya, meriam ini dibuat dari batang kayu pilihan, seperti kayu mabang atau kayu belian, dengan panjang mencapai 5 hingga 7 meter dan diameter sekitar 50 sampai 70 sentimeter. Kekuatan suara yang dihasilkan sangat bergantung pada besarnya diameter kayu dan teknik pencampuran air dengan karbit ( calcium carbide ). 3. Kayu Balok dan Rotan sebagai Bahan Utama Meskipun disebut meriam, senjata tradisional ini sama sekali tidak menggunakan besi. Batang kayu besar dibelah menjadi dua, kemudian bagian tengahnya dikeruk hingga berlubang seperti tabung. Kedua belahan tersebut disatukan kembali dengan cara dililit erat menggunakan rotan agar kuat menahan tekanan gas saat diledakkan. Unsur estetika juga sangat diperhatikan, di mana setiap kelompok peserta biasanya menghias meriam mereka dengan motif kain tenun khas Pontianak atau warna-warna cerah. 4. Permainan Kelompok yang Kompak Menembakkan meriam karbit tidak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan kerja sama tim ( teamwork ) mulai dari proses pemindahan kayu dari hutan, pengerjaan tabung, hingga proses penembakan di pinggir sungai. Di Pontianak, setiap lingkungan biasanya memiliki kelompok atau sanggar sendiri yang saling bersaing dalam Festival Meriam Karbit untuk menentukan siapa yang memiliki suara dentuman paling bulat dan menggelegar. 5. Sensasi Dentuman di Tepian Sungai Kapuas Salah satu daya tarik utama bagi wisatawan adalah lokasi penempatannya yang berjajar di sepanjang tepian Sungai Kapuas. Suara dentuman meriam yang beradu antarwilayah (seberang-menyeberang sungai) menciptakan atmosfer yang sangat ikonik. Getarannya bahkan bisa dirasakan hingga ke kaca-kaca jendela rumah penduduk. Tradisi ini telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Baca Juga:  Safari Ramadhan di Masjid Agung, Tjhai Chui Mie Serahkan Hibah untuk Tiga Rumah Ibadah (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK