faktakalbar

Fenomena Sosial: Kenapa Budaya Cari Muka dan Menjilat Tumbuh Subur di Indonesia?

Penulis: Redaksi Saturday, 28 February 2026 📖 2 menit
Fenomena Sosial: Kenapa Budaya Cari Muka dan Menjilat Tumbuh Subur di Indonesia?
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Dalam dinamika sosial dan lingkungan kerja di Indonesia, kita mungkin sering menjumpai sosok yes-man atau individu yang gemar menyetujui apa pun perkataan atasan demi mendapatkan simpati. Istilah kasar yang sering disematkan untuk perilaku ini adalah "menjilat" atau " mencari muka ". Fenomena ini seolah menjadi rahasia umum yang menjengkelkan bagi mereka yang bekerja keras dengan jujur, namun justru kalah pamor dengan si pencari muka. Lantas, dari kacamata sosial dan gaya hidup, kenapa budaya cari muka dan menjilat ini terasa begitu lumrah dan tumbuh subur di masyarakat kita? Berikut adalah beberapa akar alasannya: Baca Juga:  Atasan Wajib Tahu! Ini 6 Ciri Karyawan Mau Resign yang Sering Tidak Disadari 1. Sisa Akar Budaya Feodalisme Suka tidak suka, struktur masyarakat Indonesia mewarisi akar budaya feodal yang cukup kuat. Dalam budaya ini, hierarki sangat dihormati, dan ada jarak kekuasaan ( power distance ) yang tinggi antara atasan dan bawahan, atau senior dan junior. Hal ini menciptakan pola pikir di mana menyenangkan "Raja" atau pemimpin adalah jalan pintas paling aman untuk mendapatkan perlindungan, promosi, atau reward tertentu, dibandingkan sekadar mengandalkan kompetensi. 2. Mengutamakan "Harmoni Semu" Karakter masyarakat komunal di Indonesia sangat mengedepankan kerukunan dan menghindari konflik terbuka. Sayangnya, hal ini sering kali melahirkan toxic positivity . Banyak orang memilih menjadi people pleaser dan bersikap manis di depan atasan meski sebenarnya tidak setuju, semata-mata demi menjaga "harmoni". Sikap tidak enak hati ( ewuh pakewuh ) ini akhirnya berevolusi menjadi perilaku cari muka demi mengamankan posisi dalam suatu circle sosial. 3. Sistem Penilaian yang Subjektif Budaya cari muka dan menjilat biasanya mekar dengan lebat di lingkungan toxic workplace yang tidak memiliki Indikator Kinerja Utama (KPI) yang jelas dan transparan. Ketika promosi jabatan atau kenaikan gaji lebih didasarkan pada seberapa "klik" atasan secara personal dengan bawahannya, maka wajar jika para karyawan akan berlomba-lomba mencari perhatian personal daripada meningkatkan skill profesional mereka. 4. Insecurity dan Persaingan Ketat Di tengah persaingan karier dan ekonomi yang semakin ketat, rasa tidak aman ( insecurity ) kerap menghinggapi banyak orang. Bagi mereka yang merasa kurang kompeten secara teknis, mencari muka adalah strategi bertahan hidup ( survival kit ). Dengan membangun kedekatan personal dan selalu tampil sebagai "penyelamat" di mata pimpinan, mereka menutupi kekurangan kompetensi aslinya. 5. Kurangnya Ruang untuk Kritik Berbasis Bukti Lingkungan yang memelihara para pencari muka biasanya adalah lingkungan yang alergi terhadap kritik. Ketika seorang pemimpin lebih suka dikelilingi oleh pujian dan validasi, maka orang-orang yang kritis dan analitis akan tersingkir secara alami. Ruang yang kosong ini kemudian dengan cepat diisi oleh mereka yang pandai membuai dengan kata-kata manis. Mengubah Paradigma Meski perilaku ini masih sering dijumpai, generasi pekerja modern saat ini mulai menuntut lingkungan kerja yang lebih egaliter dan berbasis meritokrasi (penilaian berdasarkan prestasi). Menyadari bahwa budaya mencari muka hanya akan merusak sistem dan menghambat kemajuan adalah langkah pertama untuk menciptakan dinamika sosial yang lebih sehat dan profesional. Baca Juga:  Bukan Sekadar Gaji, Ini 5 Tanda Kamu Tidak Merdeka dalam Pekerjaan (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK