faktakalbar

Google Izinkan Militer Amerika Serikat Pakai AI Gemini

Penulis: Redaksi Thursday, 30 April 2026 📖 2 menit
Google Izinkan Militer Amerika Serikat Pakai AI Gemini
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Langkah protes keras dari ratusan karyawan Google tampaknya tidak membuahkan hasil manis bagi aspirasi mereka. Pemerintah Amerika Serikat melalui Pentagon dilaporkan telah mencapai kesepakatan resmi dengan Google untuk menggunakan sistem kecerdasan buatan Gemini di jaringan rahasia militer mereka. Informasi ini berasal dari seorang pejabat anonim yang mengetahui detail kerja sama rahasia tersebut. Baca Juga:  Google Rilis Aplikasi Gemini AI Native untuk Mac: Akses Cepat Tanpa Browser Langkah strategis ini semakin mengukuhkan ambisi Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, yang bertekad mengubah kekuatan militer negaranya menjadi pasukan yang mengutamakan teknologi Artificial Intelligence atau AI. Posisi Perusahaan Dalam Mendukung Keamanan Nasional Juru bicara Google, Kate Dreyer, tidak memberikan bantahan maupun rincian spesifik mengenai kontrak rahasia yang tengah menjadi sorotan tersebut. Namun, ia secara tegas menyatakan rasa bangga perusahaan karena menjadi bagian dari konsorsium luas yang menyediakan layanan infrastruktur AI untuk mendukung keamanan nasional. Dreyer juga menambahkan bahwa Google tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa AI tidak boleh pengembang gunakan untuk pengawasan massal domestik atau persenjataan otonom tanpa adanya pengawasan manusia yang tepat. Jejak Panjang Penggunaan AI di Medan Perang Pihak Departemen Pertahanan Amerika Serikat sebenarnya sudah lama merangkul teknologi pintar ini untuk berbagai kebutuhan militer yang krusial. Michael Horowitz mencatat bahwa sistem AI milik Google bahkan sudah lama beroperasi di berbagai sistem publik milik pemerintah. Militer menggunakan AI mulai dari menganalisis rekaman kamera drone saat melawan ISIS, merampingkan sistem logistik, hingga secara aktif menggunakannya untuk dukungan penargetan intelijen dalam konflik bersenjata dengan Iran saat ini. Drama Sengit Pentagon Melawan Perusahaan Raksasa AI Kesepakatan dengan Google ini terjadi di tengah upaya gencar Pentagon untuk menegosiasikan kontrak baru dengan empat raksasa teknologi Amerika. Pentagon ingin memasukkan klausul sapu jagat yang mengizinkan segala penggunaan yang sah atas sistem AI tersebut, namun langkah ini memicu kontroversi panas. CEO Anthropic, Dario Amodei, menuntut jaminan kuat agar model AI mereka tidak disalahgunakan, yang berujung pada pelabelan perusahaannya sebagai risiko keamanan nasional oleh pihak pemerintah. Eskalasi konflik memuncak ketika Presiden Donald Trump turun tangan melarang seluruh lembaga federal menggunakan produk Anthropic hingga memicu gugatan hukum di pengadilan. Kekhawatiran Publik Terhadap Praktik Pengawasan Domestik Di sisi lain, OpenAI juga menyepakati kontrak serupa setelah melakukan revisi bahasa kesepakatan akibat adanya gelombang protes dari publik. Baca Juga:  Susul Versi Windows, Aplikasi Gemini untuk Mac Resmi Tersedia bagi Pengguna macOS 15 CEO OpenAI, Sam Altman, mengubah klausul kontrak agar layanan mereka tidak digunakan secara sengaja untuk pengawasan terhadap warga negara Amerika Serikat. Namun, para ahli seperti Brian McGrail memperingatkan bahwa badan intelijen sering kali mengambil interpretasi yang sangat bebas terhadap ketentuan kontrak mengenai pengawasan. Karena isi kontrak kerja sama ini bersifat tertutup dan rahasia, publik akan menemui kesulitan besar untuk menilai seberapa kuat penegakan larangan pengawasan domestik tersebut di lapangan. (*Sr)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK