Gugat Dominasi Patriarki, Gemawan Soroti Nasib Perempuan Pengelola Alam yang Terhapus Administrasi
Faktakalbar.id, PONTIANAK –
Realitas pahit masih dihadapi perempuan pengelola alam di
Kalimantan Barat
.
Meski setiap hari mencangkul tanah dan menjaga hutan, identitas mereka seringkali "dihapus" secara administratif dengan label Ibu Rumah Tangga (IRT) dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Persoalan struktural ini mengemuka dalam diskusi G-Talks bertajuk “Menanam Narasi, Menuai Perubahan” yang digelar
Gemawan di Rumah Gesit Borneo
, Kamis (5/3/2026).
Agenda ini mempertemukan aktivis
Civil Society Organization
(CSO), komunitas akar rumput, hingga jurnalis untuk membongkar stigma yang selama ini meminggirkan peran perempuan dalam isu lingkungan.
Baca Juga:
Berdayakan Perempuan Petani Punggur, Gemawan Salurkan Bibit dan Edukasi Ekosistem Berkelanjutan
Label IRT yang Menindas Hak Petani Perempuan
Pegiat Gemawan, Arniyanti, menyoroti betapa administrasi negara menjadi alat penindasan halus bagi perempuan.
Status pekerjaan di KTP yang hanya tertulis sebagai IRT berdampak sistemik pada akses kesejahteraan dan kedaulatan lahan.
"Banyak perempuan yang dalam realitanya adalah petani yang menggarap tanah setiap hari. Ada masalah struktural serius ketika kita bicara Sumber Daya Alam (SDA) namun abai terhadap pengakuan identitas ini," ujar Arni.
Senada dengan itu, Putri Lestari dari
Keep Earth Borneo
(KEB) menjelaskan bahwa labeling tersebut membatasi akses perempuan terhadap pelatihan dan pengambilan keputusan strategis.
Akibatnya, laki-laki tetap dominan dalam urusan SDA, sementara perempuan yang bersentuhan langsung dengan tanah justru tidak dilibatkan.
Melawan Narasi "Kesedihan" di Media
Selain hambatan struktural, cara media memotret isu perempuan dan alam juga dikritik tajam.
Siti Salbiyah dari Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) menegaskan bahwa selama ini pemberitaan cenderung mengeksploitasi kesedihan tanpa menawarkan solusi.
"Isu SDA dan perempuan seringkali hanya mengangkat sisi kesedihannya saja. Padahal di balik konflik lahan, ada cerita ketangguhan yang bisa menjadi narasi perlawanan untuk menekan kebijakan yang merusak," tegas Siti.
Menurutnya, narasi yang jujur dan berpihak memiliki kekuatan untuk menghentikan izin-izin eksploitasi yang serampangan di Kalimantan Barat.
Gerakan Kolektif dan Peran Anak Muda
Direktur Gemawan, Laily Khainur, menegaskan bahwa membicarakan gender dalam pengelolaan alam adalah bicara tentang keadilan mendasar.
Ia mengajak generasi muda untuk keluar dari cara berpikir lama dan membawa kreativitas dalam isu lingkungan.
“Orang muda harus mengambil peran, membawa perlawanan sebagai bentuk seni dan kreativitas ke dalam isu-isu lingkungan,” pungkas Laily.
Diskusi ini menjadi refleksi penting bahwa perlawanan tidak selalu harus besar; kemenangan-kemenangan kecil perempuan dalam mempertahankan kebun kolektif adalah bukti nyata kedaulatan yang harus terus disuarakan melalui narasi yang kuat.
Baca Juga:
Peringati Hari Pohon, Golden Tulip Pontianak Gandeng Gemawan Hijaukan SMPN 10 Pontianak
(Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.