faktakalbar

Hadapi Krisis Iklim, Tokoh Lintas Agama di Pontianak Serukan Aksi Kolaboratif Berbasis Eco-Teologi

Penulis: Redaksi Sunday, 12 October 2025 📖 2 menit
Hadapi Krisis Iklim, Tokoh Lintas Agama di Pontianak Serukan Aksi Kolaboratif Berbasis Eco-Teologi
Faktakalbar.id, PONTIANAK – Ancaman krisis iklim yang semakin nyata menjadi perhatian utama dalam S.H.E ( Sustainability, Harmony, and Equality ) Festival 2025 yang digelar Ecobhinneka Muhammadiyah di Hotel Ibis Pontianak, Sabtu (11/10/2025). Para tokoh dari enam agama di Kalimantan Barat menyerukan pentingnya kolaborasi untuk menyelamatkan bumi melalui pendekatan eco-teologi, sebagaimana diusung dalam tema acara “Dari eco teologi menuju keadilan iklim”. Rolink Kurniadi Darmara , tokoh agama Buddha, memberikan apresiasi atas konsistensi Ecobhinneka dalam mengangkat isu lingkungan. Menurutnya, krisis iklim bukan lagi isu di masa depan, melainkan ancaman yang sudah terjadi saat ini. Baca Juga:  Enam Tokoh Agama di Pontianak Bersatu Suara, Sebut Ecobhinneka Muhammadiyah Penggerak Aksi Iklim dan Kerukunan "Kita hari ini melihat bahwa kondisi alam kehidupan di bumi ini terancam oleh yang namanya krisis iklim, di mana hari demi hari alam itu sudah tidak bersahabat dengan kita. Cuaca ekstrem, bencana kebakaran hutan, banjir bandang, itu bencana-bencana yang dulu belum pernah kita alami tapi sekarang kita alami," tegasnya. "Ini menandakan bahwa perubahan iklim, krisis iklim sudah benar-benar terjadi,” tambah Rolink. Ia mengajak semua pihak untuk bergandengan tangan agar tidak mewariskan kerusakan lingkungan kepada generasi mendatang. Ajakan ini didukung oleh pandangan dari perwakilan tokoh agama Hindu, yang menjelaskan bahwa ajarannya memiliki konsep tirta kirana . "Yaitu menjaga hubungan harmonis kita dengan Tuhan, kita menjaga harmonis dengan sesama manusia, dan yang terakhir menjaga harmonis kita dengan alam kita. Kalau kita dapat melaksanakan konsep ajaran ini, maka kita dapat hidup bahagia, damai, dan sejahtera," paparnya. Konsep serupa juga diungkapkan oleh Sutadi, tokoh agama Khonghucu, melalui istilah sangcai . "Menjaga manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan alam. Artinya ketiga ini tidak bisa dilepaskan dan saling berhubungan," katanya. Paulus Ajong, tokoh agama Kristen, menekankan betapa fundamental nya isu lingkungan. "Lingkungan hidup bisa hidup tanpa manusia, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa lingkungan hidup yang layak huni. Melalui Ecobhinneka, hal ini digumuli dan semakin disempurnakan oleh Muhammadiyah," ungkapnya. Melalui festival ini, para tokoh agama sepakat bahwa ajaran spiritualitas dapat menjadi landasan kuat untuk mendorong aksi nyata dalam mencapai keadilan iklim dan melestarikan bumi sebagai rumah bersama. Baca Juga:  Pesan Tokoh Agama Melalui Pembelajaran Kebhinekaan dan Pelestarian Lingkungan (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK