faktakalbar

Harga Minyak Dunia Menguat Lagi, Imbas Ketegangan AS-Iran Memanas

Jalur pasokan global di Selat Hormuz terancam akibat ancaman saling serang.

Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada Jumat (17/7/2026) dipicu oleh meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar mengkhawatirkan konflik ini akan mengganggu rantai pasokan energi global.

Penulis: Rama 📍 Jakarta Friday, 17 July 2026 📖 2 menit
Harga Minyak Dunia Menguat Lagi, Imbas Ketegangan AS-Iran Memanas
Ilustrasi minyak dunia. (Dok. Pixabay)

Faktakalbar.id — Harga minyak dunia terpantau menguat pada Jumat (17/7/2026) di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pasar mengkhawatirkan konflik kedua negara akan kembali mengganggu pasokan minyak global, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia.

Dikutip dari CNBC, Iran mengancam akan menyerang infrastruktur di kawasan Timur Tengah. Ancaman itu akan dijalankan apabila Presiden AS, Donald Trump, merealisasikan rencana menyerang fasilitas-fasilitas penting milik Teheran.

Rincian Kenaikan Harga Minyak Dunia Kenaikan harga minyak pada perdagangan hari ini mencatatkan angka sebagai berikut:

  • Minyak mentah Brent: Kontrak pengiriman September naik 0,9 persen menjadi 85,01 dollar AS per barrel. Kenaikan tersebut memangkas penguatan yang sempat lebih besar pada awal perdagangan.
  • Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI): Kontrak Agustus menguat 1 persen menjadi 79,74 dollar AS per barrel, setelah sehari sebelumnya ditutup di level tertinggi sejak 15 Juni.

Secara mingguan, harga minyak Brent dan WTI sama-sama telah melonjak lebih dari 11 persen, serta berada di jalur mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak akhir April 2026.

Operasi Militer AS dan Jalur Strategis Selat Hormuz Kenaikan harga dipicu oleh pengumuman Komando Pusat Militer AS (Centcom) yang telah menyelesaikan malam keenam berturut-turut operasi serangan terhadap Iran. Puluhan sasaran militer mencakup infrastruktur logistik dan kemampuan maritim Iran berhasil dihantam. Saat ini, lebih dari 50.000 personel militer AS beroperasi dan bersiaga di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan terbaru ini muncul setelah gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran pada bulan lalu kembali runtuh. Hal tersebut mengancam arus energi di Selat Hormuz, mengingat sekitar 20 persen perdagangan minyak global melintasi selat paling strategis di dunia itu.

Saling Ancam dan Peluang Diplomasi Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa militer AS akan menargetkan infrastruktur Iran pada pekan depan apabila kedua negara gagal mencapai terobosan diplomatik. Menanggapi hal itu, komando militer tertinggi Iran memperingatkan bahwa seluruh infrastruktur yang masih berdiri di kawasan akan menjadi sasaran balasan jika ancaman AS dilaksanakan. Iran juga dilaporkan meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah.

Kendati situasi memanas, Rystad Energy menilai peluang tercapainya kesepakatan terbatas antara Washington dan Teheran tetap menjadi skenario utama, meski keyakinannya mulai melemah.

Menurut Wakil Presiden Senior Rystad Energy, Jorge León, kedua negara masih memiliki kepentingan ekonomi yang kuat untuk menghindari kegagalan perundingan secara total. Pemerintah AS membutuhkan harga minyak yang lebih rendah menjelang pemilu sela pada November, sementara Iran tidak ingin kehilangan insentif ekonomi seperti akses terhadap aset yang dibekukan dan keringanan ekspor.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK