Harga Minyak Melonjak Lebih dari 7 Persen dalam Sepekan akibat Eskalasi Konflik AS-Iran
Kontrak Berjangka Brent Ditutup di Level 96,28 Dollar AS Per Barrel, Harga Solar di AS Cetak Rekor Tertinggi
Faktakalbar.id - Harga minyak dunia mencatatkan lonjakan lebih dari 7 persen sepanjang pekan ini menyusul pertukaran serangan militer antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi geopolitik yang memanas turut mendorong kenaikan harga solar di AS hingga mencetak rekor tertinggi.
Faktakalbar.id - Harga minyak dunia tercatat mengalami kenaikan signifikan lebih dari 7 persen sepanjang pekan ini. Lonjakan tersebut terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat dalam pertukaran serangan militer yang menandai bulan ketujuh konflik di antara kedua negara. Di sisi lain, harga bahan bakar solar di AS dilaporkan telah mencetak rekor tertingginya.
Berdasarkan data dari CNBC, kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup naik sebesar 76 sen ke level 96,28 dollar AS per barrel. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turut mengalami kenaikan sebesar 18 sen menjadi 91,48 dollar AS per barrel. Secara akumulatif sepanjang pekan ini, harga Brent tercatat menguat hampir 8 persen, sedangkan WTI melonjak hingga mendekati 10 persen.
Kenaikan harga minyak yang dibarengi lonjakan harga bahan bakar secara jauh lebih tajam ini dinilai telah mendorong peningkatan inflasi serta biaya pinjaman pemerintah di berbagai negara. Situasi tersebut memperkuat kekhawatiran pelaku pasar bahwa ekonomi global berisiko menuju hard landing atau perlambatan ekonomi yang tajam.
"Semua sektor perekonomian terdampak oleh solar. Ini menjadi salah satu alasan mengapa imbal hasil obligasi pemerintah AS begitu tinggi, karena ada ekspektasi bahwa inflasi akan terus meningkat," ujar Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, Sabtu (5/9/2026).
Faktor Pendorong dan Gangguan Pasokan
Rekor tertinggi harga rata-rata solar di AS dipicu oleh kembalinya eskalasi konflik AS-Iran serta serangan Ukraina terhadap sejumlah kilang minyak Rusia yang memperparah gangguan pasokan global.
Meskipun pemerintah AS mengklaim bahwa arus pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah telah kembali mendekati level normal dalam beberapa pekan terakhir, para analis serta data pelacak kapal tanker menunjukkan bahwa jalur pengiriman tersebut masih mengalami gangguan yang cukup serius.
Kepala Ekonomi dan Riset Generasi Berikutnya Julius Baer, Norbert Rucker, menilai bahwa pasar minyak saat ini berada dalam fase di mana kebuntuan konflik secara berkala terus membangkitkan premi risiko yang tertanam dalam harga. Kendati demikian, ia menyebutkan belum ada indikasi kuat bahwa eskalasi pekan ini berdampak signifikan terhadap ekspor fisik minyak Timur Tengah, sehingga reli harga saat ini lebih didorong oleh faktor sentimen dan ketakutan pasar.
Konflik kian memanas setelah rangkaian serangan AS pekan ini menewaskan serta melukai puluhan orang, termasuk warga sipil Iran, yang tercatat sebagai bentrokan paling sengit sejak Juli lalu. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan memperingatkan bahwa pihak Israel akan melumpuhkan infrastruktur militer maupun sipil Iran—termasuk fasilitas energi—jika Teheran melancarkan serangan balasan.
Data Pelayaran dan Proyeksi Harga Minyak
Tekanan terhadap perekonomian Iran melalui pemblokiran ekspor minyak dan upaya penghentian penghindaran sanksi semakin sulit untuk ditahan oleh negara tersebut, menurut tiga sumber senior Iran. Data awal pelayaran mencatat hanya ada empat kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada hari Kamis, angka yang terpaut jauh dari rata-rata 10 hari normal yang mencapai sekitar 15 kapal.
Sementara itu, Irak melaporkan peningkatan ekspor minyak pada bulan Agustus menjadi sekitar 2,34 juta barrel per hari (bpd), naik dari posisi Juli yang berada di kisaran 1,35 juta bpd.
Menanggapi situasi ini, lembaga keuangan Citi menaikkan proyeksi rata-rata harga minyak mentah Brent untuk kuartal III menjadi 86 dollar AS per barrel dari estimasi sebelumnya sebesar 80 dollar AS per barrel, dengan alasan bahwa proses pembukaan kembali Selat Hormuz memerlukan waktu lebih lama dari perkiraan. Langkah serupa juga diambil oleh para analis ANZ yang menaikkan proyeksi harga Brent ke level 95 dollar AS per barrel dalam jangka pendek, sembari mewaspadai potensi risiko kenaikan lanjutan jika ketegangan di Timur Tengah terus meningkat.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.