Harga Minyakita Meroket, KSP dan Kemendag Kompak Salahkan Distribusi BUMN
Faktakalbar.id, JAKARTA -
Kantor Staf Presiden
(KSP) menyoroti harga minyak goreng
Minyakita
yang meroket hingga Rp17.900 per liter, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
KSP bersama
Kementerian Perdagangan
(Kemendag) menunjuk masalah pada alur distribusi oleh BUMN Pangan dan Perum Bulog sebagai salah satu biang keladi mahalnya minyak goreng rakyat tersebut, Senin (06/10/25).
Baca Juga:
18 Gubernur Geruduk Menkeu, Curhat Soal Anggaran Daerah Dipangkas Habis
Tenaga Ahli Utama KSP, Bodro Pambuditomo, menyatakan bahwa harga Minyakita saat ini cenderung stabil, namun berada di atas HET.
"Minyakita harganya relatif stabil, namun demikian, stabil di atas harga eceran tertinggi,"
ungkap Bodro dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (6/10).
Berdasarkan verifikasi lapangan, KSP menemukan adanya dua level harga di pasaran. Minyakita yang dipasok oleh BUMN pangan dijual dengan harga yang mendekati HET Rp15.700 per liter.
Atas dasar itu, Bodro menyarankan agar peran BUMN pangan diperkuat untuk meredam gejolak harga.
"Oleh karena itu, izinkan kami memberikan masukan agar kita dapat memperkuat BUMN pangan. Karena sudah terbukti pasokan mereka punya dampak kuat dalam meredam harga yang tinggi atau menurunkan,"
tuturnya.
"Mungkin perlu peningkatan pasokan Minyakita dari produsen kepada BUMN pangan. Saat ini angkanya baru 8 persen, mungkin bisa ditingkatkan di angka 20 persen-30 persen."
Senada dengan KSP, pihak Kementerian Perdagangan juga menyoroti masalah distribusi.
Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra, mencatat harga rata-rata Minyakita selama lima bulan terakhir berada di level Rp16.600 hingga Rp16.700 per liter.
Baca Juga:
Lonjakan Ekspor Minyak Kelapa Sawit Dongkrak Surplus Perdagangan Indonesia
Nawandaru secara spesifik membongkar minimnya penyaluran Minyakita oleh Perum Bulog ke pasar rakyat yang menjadi titik pantau utama pemerintah.
Menurutnya, pasokan dari Bulog justru lebih banyak mengalir ke distributor tingkat dua (D2).
"Kami melihat pada proporsi distribusi minyak goreng Bulog ke pasar rakyat yang menjadi pantauan SP2KP (Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok) ini sangat kecil. Hanya 5,3 persen, padahal ini adalah andalan kami ... Ini bagian dari kita ke depan perlu mendorong juga atensi dari Perum Bulog untuk bisa meningkatkan pasokannya kepada pasar rakyat,"
tegasnya.
(ra)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.