faktakalbar

Hari Tanpa Bayangan! Inilah 5 Fakta Unik Kulminasi Matahari di Kalimantan Barat

Penulis: Redaksi Monday, 23 March 2026 📖 2 menit
Hari Tanpa Bayangan! Inilah 5 Fakta Unik Kulminasi Matahari di Kalimantan Barat
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Fenomena alam kulminasi matahari atau yang sering dijuluki sebagai hari tanpa bayangan merupakan peristiwa ikonik yang menempatkan Kota Pontianak , Kalimantan Barat, sebagai pusat perhatian dunia. Terletak tepat di garis lintang nol derajat, fenomena ini bukan sekadar peristiwa astronomi biasa, melainkan bagian dari identitas dan daya tarik wisata yang sangat unik di Bumi Khatulistiwa. Setiap tahunnya, ribuan orang berkumpul di Tugu Khatulistiwa untuk menyaksikan momen langka ketika matahari berada tepat di titik zenith . Namun, di balik seremoninya yang meriah, ada beberapa fakta teknis dan keunikan fisik yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat luas. Baca Juga:  Empat Bulan Mangkrak, Petisi Publik Desak Polresta Pontianak Tuntaskan Kasus Eks Pimpinan DPM Untan Berikut adalah 5 fakta unik mengenai kulminasi di Kalimantan Barat: 1. Bayangan Benda Benar-benar Menghilang Fenomena kulminasi utama terjadi ketika matahari berada tepat di atas kepala. Pada detik-detik puncak, bayangan benda yang berdiri tegak lurus akan terlihat "menghilang" karena jatuh tepat di pangkal benda tersebut. Inilah alasan mengapa Pontianak dijuluki sebagai kota tanpa bayangan. Momen ini biasanya dimanfaatkan pengunjung untuk mendirikan telur secara tegak, yang secara fisik lebih mudah dilakukan karena pengaruh gaya gravitasi pada saat tersebut. 2. Terjadi Dua Kali dalam Setahun Banyak yang mengira kulminasi hanya terjadi satu kali, padahal fenomena ini muncul dua kali dalam setahun di Kalimantan Barat. Puncak kulminasi matahari biasanya terjadi pada tanggal 21-23 Maret dan kembali terulang pada 21-23 September. Pergeseran semu matahari ini menandai pergantian musim dan menjadi pengingat bagi masyarakat mengenai siklus alam yang presisi di wilayah tropis. 3. Perbedaan Suhu yang Signifikan Saat kulminasi berlangsung, suhu udara di sekitar Tugu Khatulistiwa biasanya terasa jauh lebih panas dibandingkan hari-hari biasa. Hal ini disebabkan oleh pancaran sinar matahari yang jatuh secara vertikal dan menembus lapisan atmosfer dengan jarak terpendek menuju permukaan bumi. Sensasi panas yang menyengat ini menjadi pengalaman fisik tersendiri bagi para wisatawan yang datang berkunjung. 4. Garis Khatulistiwa yang Terus Bergeser Fakta menarik yang jarang disadari adalah posisi garis khatulistiwa yang sebenarnya tidak statis secara absolut. Berdasarkan pengukuran para ahli astronomi, titik nol derajat ini mengalami pergeseran perlahan setiap tahunnya akibat pergerakan kerak bumi dan rotasi. Itulah sebabnya posisi "garis imajiner" di dalam bangunan Tugu Khatulistiwa lama dan posisi astronomis saat ini memiliki sedikit perbedaan jarak. 5. Pengaruh pada Berat Badan Secara Teoritis Secara ilmiah, saat berada tepat di garis khatulistiwa, seseorang akan mengalami sedikit pengurangan berat badan dibandingkan saat berada di kutub. Hal ini disebabkan oleh dua faktor: jarak ke pusat bumi yang lebih jauh karena bumi yang sedikit menggembung di bagian tengah, serta gaya sentrifugal akibat rotasi bumi yang paling kuat di khatulistiwa. Meski pengurangannya sangat kecil dan tidak terasa secara kasat mata, ini adalah fakta fisika yang sangat unik. Baca Juga:  Open House Wali Kota Pontianak Jadi Ajang Perkuat Silaturahmi dengan Warga (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK