Hipertensi Jadi Penyakit Terbanyak di Pontianak Sepanjang 2025, Capai 54 Ribu Kasus
Faktakalbar.id, PONTIANAK –
Dinas Kesehatan Kota Pontianak
mencatat penyakit darah tinggi atau hipertensi esensial menempati urutan pertama sebagai kasus penyakit terbanyak yang ditangani oleh seluruh puskesmas di wilayah Kota Pontianak sepanjang tahun 2025.
Angka kasus hipertensi di Pontianak yang melonjak drastis ini mengonfirmasi adanya pergeseran tren kesehatan masyarakat dari penyakit infeksi menular menuju penyakit tidak menular yang sangat erat kaitannya dengan memburuknya pola hidup harian.
Baca Juga:
Benahi Fasilitas Kesehatan, Pemkot Pontianak Targetkan Seluruh Puskesmas Layak Pakai di 2027
Berdasarkan data resmi Dinas Kesehatan, dari daftar 10 penyakit terbesar yang ditangani oleh puskesmas di Kota Pontianak selama tahun 2025, hipertensi esensial berada di posisi puncak dengan total 54.409 kasus.
Angka tersebut melampaui penanganan kasus infeksi pernapasan yang biasanya mendominasi.
Sebagai perbandingan, posisi kedua ditempati oleh kasus nasofaringitis akut (flu) dengan 44.912 kasus.
Posisi selanjutnya secara berurutan diisi oleh penyakit dyspepsia atau gangguan lambung sebanyak 28.448 kasus, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) akut sebanyak 20.575 kasus, dan diabetes melitus non-insulin sebanyak 19.522 kasus.
Baca Juga:
Tinjau Dua Puskesmas Baru, Wali Kota Edi Kamtono Pastikan Layanan Kesehatan Lebih Nyaman
Secara akumulatif, total 10 penyakit terbesar yang ditangani mencapai angka 235.275 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, pada Selasa (31/3/2026) mengungkapkan bahwa temuan tingginya angka darah tinggi ini harus menjadi alarm kewaspadaan bagi warga kota.
“Sekarang yang paling banyak adalah hipertensi. Berarti ini harus memperbaiki pola hidup dari masyarakat, terutama untuk konsumsi makanan tidak boleh berlebih, harus olahraga, istirahat cukup, dan kelola stress. Jadi ini yang perlu terus ditingkatkan di masyarakat, dan selalu kita sosialisasikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Saptiko juga menyoroti adanya kecenderungan peningkatan pasien darah tinggi pada awal tahun 2026 ini.
“Kalau saya lihat peningkatannya ada sekitar 10 persenan. Yang penting sekarang kita melihat bahwa penyakit yang menjadi masalah bukan lagi dominan penyakit infeksi, tetapi penyakit tidak menular, penyakit karena gaya hidup,” tegasnya.
Merespons tren memprihatinkan tersebut, Dinas Kesehatan Kota Pontianak berkomitmen untuk terus memperkuat langkah intervensi promotif dan preventif. Edukasi terkait pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak harian akan digencarkan agar kasus hipertensi di Pontianak tidak terus bertambah dan berkembang menjadi komplikasi medis kronis yang lebih fatal seperti stroke, serangan jantung, hingga gagal ginjal.
(*Red)
Tag:
#Dinas Kesehatan Pontianak
#gaya hidup sehat
#Kasus Hipertensi Di Pontianak
#Penyakit Tidak Menular
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.