Menua Bukan Akhir, Tetapi Awal Ekonomi Perak: Lansia Bukan Beban, Tapi Aset Bangsa
OPINI
- Ketika berbicara tentang masa depan Indonesia, perhatian publik sering tertuju pada bonus demografi berupa melimpahnya usia produktif.
Namun ada satu sisi lain yang sama penting: bonus demografi lansia. Pada tahun
2045
, diperkirakan satu dari empat orang Indonesia akan berusia di atas 50 tahun.
Angka ini sering dilihat sebagai beban—beban kesehatan, beban sosial, bahkan beban ekonomi.
Padahal, jika ditata dengan baik, inilah peluang besar untuk membangun ekonomi perak: ekonomi yang memandang lansia sebagai aset, bukan beban.
Negara tetangga sudah melangkah. Malaysia meluncurkan
Ageing with Dignity
. Singapura membangun
Active Ageing Centers
di setiap distrik.
Baca Juga:
ICMI Desak Pemerintah dan Aparat Usut Tuntas Kericuhan Demonstrasi, Ingatkan Pentingnya Empati dan Persatuan
India mengembangkan industri AgeTech, dari layanan telecare hingga teknologi warisan. Indonesia tidak boleh menunggu. Waktu tidak pernah menunggu kita.
Pensiun: Titik Awal Kehidupan Baru
Salah kaprah terbesar dalam masyarakat kita adalah memandang pensiun sebagai akhir dari produktivitas.
Faktanya, dengan ekosistem yang tepat, pensiun justru bisa menjadi pintu awal kehidupan baru yang lebih bermakna.
Ada empat pilar penting yang dapat menopang ekosistem lansia:
Legacy
– menjaga cerita, nilai, dan warisan keluarga agar tidak terputus di tengah arus modernisasi.
Wellness
– menjaga keseimbangan spiritual, emosional, dan fisik agar lansia tetap sehat dan tenteram.
Community
– membangun komunitas aktif, mentoring lintas generasi, serta ruang dialog antargenerasi.
Empowerment
– membuka ruang bagi lansia untuk berwirausaha ringan, menyalurkan hobi produktif, atau mengajar dan berbagi.
Dengan fondasi ini, lansia tetap bisa berdaya sekaligus memberi nilai tambah bagi keluarga, komunitas, dan bangsa.
Baca Juga:
Tabir Dibalik Robohnya Pesantren Al Khoziny Sidoarjo
Ekosistem Tapak: Dari Wacana ke Aksi
Dalam pertemuan pencerahan
ICMI Korwil Kalbar
, para pemangku kepentingan sepakat bahwa ekonomi perak harus dimulai dari ekosistem di tingkat tapak.
Konsep ini tidak berhenti pada seminar, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di RT, kelurahan, dan desa.
Ekosistem tapak bisa hadir dalam bentuk forum cerita lintas generasi, klub kesehatan, pelatihan keterampilan, hingga pendampingan spiritual.
Dengan begitu, lansia tidak hanya dirawat, tetapi juga dihormati dan diberdayakan.
Baca Juga:
ICMI Serukan Sikap Bijak, Desak Presiden Ambil Langkah Cepat Atasi Gejolak Nasional
Branding Kota Pontianak: Langkah Jangka Pendek
Khusus di Kalimantan Barat,
Kota Pontianak
dapat menjadi model.
Dalam waktu dekat, ICMI Orwil Kalbar bersama mitra akan merancang program branding Pontianak sebagai kota ramah lansia.
Branding ini tidak berhenti pada slogan, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata, antara lain:
Program digitalisasi lansia agar mereka bisa menggunakan teknologi komunikasi sederhana.
Pusat kegiatan lansia dengan olahraga ringan, pemeriksaan kesehatan rutin, dan kelas kreatif.
Program intergenerasi, di mana mahasiswa dan pelajar bertemu dengan lansia untuk berbagi pengalaman.
Pontianak bisa menjadi contoh kota yang menempatkan lansia sebagai bagian penting ekosistem sosial yang produktif dan bermartabat.
Teknologi dan Digitalisasi: Menembus Batas Usia
Era digital kerap dianggap hanya milik generasi muda. Padahal, teknologi dapat menjadi sahabat lansia. Dalam diskusi, muncul gagasan memanfaatkan Google Launch Plug n Play, branding, dan digitalisasi.
Teknologi dapat membantu menghadirkan layanan kesehatan jarak jauh, pengingat konsumsi obat, bahkan platform untuk memasarkan karya lansia.
Digitalisasi tidak hanya mempermudah hidup, tetapi juga menguatkan rasa percaya diri lansia bahwa mereka masih relevan dan dibutuhkan.
Dimensi Spiritual: Fardhu Kifayah dan Anak-Anak Kita
Di balik segala strategi ekonomi dan sosial, ada dimensi spiritual yang tidak boleh kita lupakan. Lansia adalah generasi yang kian dekat dengan perjalanan pulang kepada Sang Khalik.
Pertanyaan yang menyentuh nurani muncul: siapa yang akan menunaikan fardhu kifayah ketika mereka berpulang?
Jawabannya adalah kita—anak-anak mereka, generasi penerus bangsa.
Merawat orang tua hingga akhir hayat, bahkan setelah wafat, adalah tanggung jawab moral, sosial, dan ibadah.
Karena itu, pendidikan generasi muda tidak cukup hanya berbicara soal teknologi.
Ia harus meliputi nilai religius, empati, dan kepedulian sosial agar mereka tidak melupakan orang tua di usia lanjut. Menghormati lansia adalah tanda kemajuan peradaban, bukan sekadar ajaran agama.
Bukti Peradaban
Inisiatif Usiya+ mengingatkan kita: “Ini bukan layanan. Ini adalah bukti peradaban.”
Sebuah bangsa besar tidak hanya diukur dari kekuatan ekonominya, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan kelompok rentan, termasuk lansia.
Dengan membangun sistem yang peduli sejak dini, kita meninggalkan warisan yang lebih berharga daripada harta: sebuah sistem kemanusiaan yang akan bermanfaat lintas generasi.
Penutup: Seruan untuk Bergerak
Sebagai Ketua ICMI Kalbar, saya mengajak kita semua memandang lansia sebagai aset bangsa.
Mari kita bangun ekosistem yang membuat mereka tetap berdaya, tetap bermakna, dan tetap bermartabat.
Dalam waktu dekat, Pontianak akan memulai langkah nyata melalui branding kota ramah lansia. Semoga ini menjadi pemicu gerakan serupa di seluruh Indonesia.
Saya juga ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada para narasumber— Ibu Febriyanti, Kiki, Tanya, dan Pak Umar Ramadhan—yang telah meluangkan waktu memberikan pencerahan.
Semoga apa yang mereka sampaikan menjadi amal ibadah bagi kita semua.
Sebelum kita menua, mari kita bangun sistem yang peduli. Lansia bukan beban, mereka adalah aset bangsa.
Oleh:
Prof. Gusti Hardiansyah
Ketua ICMI Kalimantan Barat
*
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis. Isi, pandangan, dan substansi di dalamnya bukan merupakan tanggung jawab atau sikap resmi redaksi Faktakalbar.id.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.