Imlek Bertepatan Ramadan, Suyanto Tanjung Serukan Warga Tionghoa Ajak Muslim Buka Puasa di Rumah
Faktakalbar.id, PONTIANAK
– Ketua
Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Indonesia
periode 2025-2030, Suyanto Tanjung, menyoroti
momentum
langka perayaan Tahun Baru Imlek tahun ini yang beririsan langsung dengan bulan suci Ramadan.
Hal ini disampaikannya usai pelantikan pengurus di Hotel Novotel Pontianak, Selasa (10/2/2026).
Suyanto menyebut fenomena kalender ini sebagai situasi yang unik dan menjadi ujian sekaligus peluang bagi toleransi di Kalimantan Barat.
"Imlek kali ini unik karena bertepatan dengan Hari Raya Ibadah Puasa, Ramadhan," ujar Suyanto Tanjung.
Baca Juga:
Suyanto Tanjung Pimpin MABT Indonesia, Targetkan Ekspansi Organisasi ke Jawa dan Sumatera
Menyikapi hal tersebut, ia mengeluarkan himbauan spesifik kepada komunitas Tionghoa.
Ia meminta agar perayaan Imlek dan Cap Go Meh tahun ini tidak hanya menjadi pesta internal, melainkan momentum untuk menunjukkan solidaritas nyata kepada umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.
"Saya berharap menghimbau kepada seluruh masyarakat Tionghoa dalam merayakannya kita bisa bersinergi, bersatu padu dengan umat muslim di saat mereka masih puasa. Kita harus menghargai karena itu bagian dari iman yang kita miliki," tegasnya.
Lebih jauh, Suyanto menyarankan sebuah inisiatif sosial, yakni menjadikan rumah warga Tionghoa yang merayakan Imlek sebagai tempat berbuka puasa bagi tetangga atau kerabat Muslim.
"Kemudian alangkah indahnya ketika jadwal berbuka puasa, kita orang Tionghoa yang lagi merayakan Imlek dan Cap Go Meh, mengajak teman-teman berbuka di rumah kita. Kita yang menyiapkan buat mereka," seru Suyanto.
Menurutnya, interaksi langsung di meja makan saat momen krusial seperti berbuka puasa akan menghilangkan sekat-sekat perbedaan dengan cara yang alami dan hangat.
"Ayo ajak teman-teman kita ke rumah, berbuka puasa, kita merayakan bersama-sama. Di situ kita akan menjalin hubungan yang sangat-sangat akrab," pungkasnya.
Baca Juga:
Ria Norsan: MABT Bukan Sekadar Pelestari Budaya, Tapi Modal Stabilitas Daerah
(Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.